Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 66. Anneke Mencari Carol


__ADS_3

Sementara itu Anneke melajukan mobilnya menuju ke kantor pengacara Carol. Dengan tidak sabar dia ingin segera bertemu dengan Carol dan segera membicarakan persiapan pernikahan nya.


Beberapa menit kemudian mobil Anneke sudah memasuki halaman kantor pengacara Carol. Setelah memarkir mobilnya Anneke mengecek riasan wajah dan baju sexy nya terlebih dahulu.


“Hmmm Okey, cantik dan sexy maksimal, jangan kalah dengan sekretaris sexy itu.” Ucap Anneke setelah merasa penampilan nya sudah sempurna.


“Eeeh lupa..” ucap Anneke lalu dia menyemprot terlebih dulu mulutnya.


Setelah selesai, Anneke lalu membuka pintu mobilnya. Dia turun dari mobil dan seperti biasanya dia berjalan melenggang melenggok lenggok.


Anneke terus berjalan menuju ke ruang kerja tanpa mengetuk pintu Anneke langsung membuka pintu ruang kerja Carol. Sesaat dia kaget sampai matanya melotot. Kali ini bukan karena Sang Sekretaris dekat dekat dengan Carol akan tetapi kini Sang Sekretaris duduk di kursi kerja Carol.


“Hei kamu kok berani beraninya duduk di kursi Kak Carol!” teriak Anneke sambil berjalan cepat menuju ke meja kerja Carol dan tidak berhenti sampai di situ. Anneke pun segera menarik tangan Sang Sekretaris agar bangkit dari kursi Carol.


“Nona lepaskan tangan saya!” teriak Sang Sekretaris sambil mengibaskan tangan Anneke dengan sekuat tenaga.


“Saya disuruh Tuan Carol untuk mengetik di sini dan langsung disimpan di file sini.” Ucap sang sekretaris selanjutnya sambil membenarkan lagi tempat duduknya.


“Di mana Kak Carol?” tanya Anneke dengan nada tinggi


“Saya tidak tahu Nona, katanya sedang sakit maka beliau izin tidak ke kantor.” Jawab sang sekretaris


“Hah? Sakit kok aku tidak tahu?” ucap Anneke dengan ekspresi kaget


“Nona itu bagaimana katanya kekasihnya kok tidak tahu kalau kekasihnya sedang sakit.” Ucap sang sekretaris dengan senyuman hanya satu ujung bibir yang terangkat naik.


“Cerewet kamu, sebentar lagi aku jadi isterinya tinggal nunggu hitungan jam.” Ucap Anneke dengan ketus lalu dia segera membalikkan badannya.


Anneke tampak tergesa gesa meninggalkan ruang kerja Carol. Tidak lupa menutup daun pintu dengan sangat keras. Sang Sekretaris pun hanya tersenyum dan geleng geleng kepala.


“Sakit apa sih Kak Carol? Jangan jangan hanya modus belaka agar menunda nunda pernikahan nya dengan aku.” Gumam Anneke saat menyalakan mesin mobilnya.

__ADS_1


“Hmmm memang aku harus datang ke mansion Alfredo .” ucapnya sambil tersenyum lalu dia melajukan mobilnya keluar dari halaman kantor pengacara Carol.


Anneke segera melajukan mobilnya menuju ke mansion Alfredo. Dia melajukan dengan kecepatan penuh bagai orang kesetanan. Tidak lupa dia mampir di toko buah untuk membelikan satu keranjang buah segar buat Carol.


Tidak lama kemudian mobil Anneke sudah memasuki halaman mansion Alfredo. Penjaga pintu gerbang yang sudah mengenal nya dan tidak mendapat pesan khusus untuk melarang kedatangan Anneke pun segera membuka kan pintu gerbang buat Anneke.


Anneke terus menjalankan mobilnya memasuki halaman mansion Alfredo, kini dia menjalankan dengan pelan pelan. Setelah mobil berhenti di tempat yang tidak jauh dari pintu utama Mansion, Anneke turun dari mobil sambil membawa keranjang buah yang sudah dia beli. Seperti biasa nya dia berjalan bagai seorang peragawati. Anneke terus berjalan menuju ke pintu utama Mansion Alfredo.


Anneke segera menekan bel tamu setelah sudah berada di depan pintu. Dan tidak lama kemudian pintu terbuka.


“Nona cari siapa?” tanya seorang pelayan perempuan yang membukakan pintu


“Jelas mencari Kak Carol. Mosok mencari diri kamu itu.” Jawab Anneke dengan nada ketus


“Tuan Muda Carol belum pulang.” Ucap sang pelayan dengan nada sopan meskipun tamu di depannya suara nya ketus.


“Dia di rumah sakit mana?” tanya Anneke selanjutnya


“Kamu itu bagaimana, majikan sakit tidak tahu!” ucap Anneke dengan nada tinggi.


“Mana Nyonya Alfredo, aku mau tanya ke dia.” Ucap Anneke selanjutnya sambil melangkah masuk menerobos sang pelayan yang masih berdiri di depan pintu.


“Nyonya sedang pergi.” Ucap sang pelayan yang mau tak mau menutup pintu utama Mansion dan turut mengikuti langkah kaki Anneke.


“Yang ada Nona Olin, dia sedang main game di kamarnya. Coba saya tanya dulu, Tuan Muda di rumah sakit mana.” Ucap sang pelayan selanjutnya lalu segera melangkah menuju ke kamar Caroline. Sedangkan Anneke menunggu di ruang tamu.


Selang beberapa waktu kemudian sang pelayan sudah kembali datang.


“Di rumah sakit mana?” tanya Anneke dengan tidak sabar


“Kata Non Olin tidak ada yang sakit. Tuan Muda sedang kerja ke luar negeri.” Jawab sang pelayan sambil berdiri dan menatap wajah Anneke

__ADS_1


“Hah? Tidak ada yang jelas semua.” Ucap Anneke dengan nada kesal.


“Biar aku tunggu di sini sampai Nyonya Alfredo pulang.” Ucap Anneke selanjutnya. Sang pelayan pun mempersilahkan dan dia segera ke belakang untuk membuatkan minuman buat Anneke.


Saat Anneke masih duduk menunggu sambil mengusap usap layar hand phone nya. Tiba tiba layar hand phone nya berkedip kedip ada panggilan masuk dari ketua preman suruhan nya.


“Pasti minta kiriman uang lagi.” Gumam Anneke dia belum menggeser tombol hijau masih membiarkan saja.


Berkali kali ketua preman suruhan Anneke melakukan panggilan suara pada nomor hand phone Anneke.


“Hmmm apa ada yang penting.” Gumam Anneke lalu dia menggeser tombol hijau.


“Ada apa? Uang lagi?” teriak Anneke saat sudah menggeser tombol hijau. Sampai sampai sang pelayan yang baru saja datang membawa nampan berisi cangkir teh, terlonjak kaget hingga isi teh di cangkir sedikit tumpah di nampan.


“Nona, ini ada kabar super penting.” Suara ketua preman dari balik hand phone Anneke.


“Cepat katakan! Paling kamu hanya mau minta tambahan bayar.” Suara Anneke sambil tangannya mengibas ngibaskan memberi isyarat agar Sang pelayan segera pergi setelah menaruh cangkir teh di meja.


“Nona, ini Nona Ixora William sudah masuk ke dalam mansion.” Suara ketua preman itu lagi


“Terus apa pentingnya coba.” Saut Anneke


“Dia datang dengan kekasih Nona Anneke itu. Pengacara muda yang terkenal itu.” Suara ketua preman itu selanjutnya


“Hah? Kamu tidak salah lihat?” tanya Anneke selanjutnya


“Tidak Nona, mana mungkin saya salah lihat.” Jawab ketua preman itu.


“Sial! Semua informasi tidak ada yang benar.” Umpat Anneke yang sudah memutus sambungan teleponnya. Dia lalu bangkit berdiri dan berjalan keluar dari pintu utama Mansion Alfredo tanpa pamit pada siapa pun.


Dengan langkah cepatnya Anneke berjalan menuju ke mobil nya, dia membuka dan menutup pintu mobil dengan sangat keras.

__ADS_1


“Aku akan menyusul Kak Carol ke mansion William.” Ucap Anneke sambil menyalakan mesin mobilnya.


__ADS_2