Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 96. Melawan Nency


__ADS_3

Ixora yang masih berpenampilan sebagai Isomah itu terus berjalan setelah turun dari mobil tanpa memberi say good bye kepada kedua Kakak nya karena untuk menjaga image bahwa dia hanya menumpang pada mobil orang yang tidak begitu dia kenal.


“Is... “ teriak Bunda Naura yang sejak tadi mengamati kedatangan Isomah.


“Ya Bun.” Ucap Isomah yang sudah menutup pintu pagar. Isomah pun berjalan menuju ke tempat Bunda Naura yang masih berdiri di depan pintu.


“Apa Pak Wagiman menjemput lagi.” Gumam Isomah dalam hati.


“Kok malam malam baru pulang, tadi siang juga Tidak pulang ke kost?” tanya Bunda Naura yang sejak tadi kuatir dengan keadaan Isomah. Apalagi Nyonya William terus saja menelepon dirinya dan marah marah sebab Bunda Naura juga tidak tahu kemana Isomah perginya.


“Maaf Bun, saya sampai lupa tidak pamit pada Bunda tadi pagi. Sebab bangun tidur langsung harus menghubungi Ibu Dosen dan langsung dijemput oleh Ibu Dosen.” Ucap Isomah dengan jujur dan nada menyesal karena tadi pagi benar benar lupa tidak pamit pada Bunda Naura dan juga tidak sempat memberi kabar karena kesibukan nya mencari bantuan hukum.


“Terus siapa yang mengantar kamu tadi, apa Dosen kamu juga?” tanya Bunda Naura yang tidak hafal mobil Vadeo sebab dia baru satu kali bertemu dengan Vadeo di acara pernikahan Vadeo dan Alexandria.


Isomah hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


“Bagaimana masalah kamu?” tanya Bunda Naura lagi.


“Belum mendapatkan bantuan hukum Bun. Orang tadi yang akan membantu.” Jawab Isomah.


“Ya sudah sekarang kamu istirahat.” Ucap Bunda Naura selanjutnya dan tidak menawari Isomah makan malam sebab dua melihat tangan Isomah sudah menenteng satu kantong plastik yang berisi makanan dan minuman yang tadi sudah dibelikan oleh Alexandria.

__ADS_1


“Hmmm aku cek di CCTV saja mobil tadi dan aku kirimkan pada Nyonya William.” Gumam Bunda Naura lalu melangkah masuk ke dalam rumah induk setelah Isomah sudah lebih dulu melangkah menuju ke kamar kost nya yang lewat pintu samping.


Keesokan pagi nya. Ixora sudah bangun dari tidurnya. Tadi malam dia bisa tidur sedikit nyenyak setebal seharian capek dan malam hari nya juga makan dengan kenyang. Pun juga karena kakak nya Alexandria memberi bantuan informasi dan pinjaman uang untuk biaya dalam mengatasi masalahnya.


Setelah mandi dan sudah berpenampilan sebagai Isomah, dia segera melangkah keluar dari kamarnya. Kali ini dia tidak lupa untuk pamit pada Bunda Naura. Dan jangan ditanya tentang komentar komentar penghuni kost. Mereka masih saja menghina Isomah bahkan lebih karena mereka sudah mengetahui kalau juara lomba dipending.


Isomah tidak memedulikan mereka. Setelah pamit pada Bunda Naura, Isomah segera berjalan menuju ke ojek on line yang sudah dia pesan.


Beberapa menit kemudian ojek on line yang ditumpangi oleh Isomah sudah sampai di depan rumah Bang Bule Vincent. Jantung Ixora berdebar debar enak menatap bangunan rumah lama peninggalan jaman Belanda itu. Rumah besar yang masih berdiri dengan kokoh dan bersih terawat. Halaman yang luas dengan banyak pohon dan tanah dibiarkan terbuka tanpa paving kon blok apalagi aspal. Hmmm sirkulasi air masih berjalan baik di lokasi itu. Ixora merasakan ada rasa damai di hati nya.


“Melihat rumah Bang Bule saja aku deg deg an nya kayak melihat Bang Bule saja.” Gumam Ixora dalam hati sambil tersenyum rasa damai yang mengalir sejenak membuatnya dia lupa pada masalah hidup nya.


“Mencari siapa?” tanya seorang anak buah Bang Bule yang berjalan mendekati Isomah.


Anak buah Bang Bule yang sudah kenal baik dengan Vadeo segera menyuruh Isomah masuk ke dalam pintu pagar dan mengantar Isomah berjalan menuju ke rumah Bang Bule Vincent.


Isomah disuruh duduk di teras terlebih dahulu, sementara anak buah Bang Bule Vincent masuk ke dalam untuk memberi tahu pada Richardo yang sekarang menggantikan posisi Bang Bule akan tetapi dia tetap tidak menempati kamar Bang Bule Vincent.


Sesaat kemudian Isomah disuruh masuk ke dalam rumah Bang Bule Vincent. Terlihat Richardo sudah duduk di kursi ruang tamu menunggu Isomah. Isomah pun segera duduk di salah satu kursi itu. Hanya mereka berdua yang berada di dalam ruangan itu.


“Nona, Nona Alexandria sudah menghubungi saya. Mana berkas berkas Nona.” Ucap Richardo dengan sopan. Isomah pun segera mengambil berkas dari dalam tote bag nya dan segera digulirkan pada Richardo.

__ADS_1


“Tuan, saya hanya diberi waktu tiga hari dan ini sudah masuk hari ke dua.” Ucap Isomah selanjutnya dengan nada khawatir.


“Hah? Kurang ajar panitia lomba itu mosok hanya memberikan waktu tiga hari macam memberi resep obat saja.” Ucap Richardo tampak kaget, jadi hari ini dia harus langsung memroses kasus Isomah.


“Tenang Nona akan segera saya kerjakan.” Ucap Richardo selanjutnya.


Setelah Richardo mempelajari berkas kasus Isomah dan mendapatkan keterangan yang dibutuhkan dari Isomah. Richardo pun mempersilahkan Isomah untuk melanjutkan aktivitasnya seperti biasanya dan Richardo akan segera bertindak cepat untuk mengurus kasus Isomah.


Setelah mengucapkan terima kasih Isomah segera pamit dan bangkit berdiri untuk meninggalkan rumah Bang Bule Vincent.


Saat Isomah sudah melangkahkan kaki nya menuruni anak tangga teras rumah Bang Bule.


Tiba tiba ada suara seorang perempuan yang berteriak dari arah halaman rumah Bang Bule.


“Heeeiiii kamu orang buta penipu ulung kenapa ada di sini!” Teriak suara perempuan itu yang tidak lain adalah Nency yang sedang menyapu halaman.


“Kamu pasti akan minta tolong pada Tuan Richardo untuk mengurus masalah kamu itu kan?” tanya Nency dengan lantang sambil berdiri tegak dan menghasilkan kegiatannya menyapu halaman yang sejak tadi belum selesai selesai sebab halaman sangat luas dan dia kerjakan seorang diri.


“Bukan urusan mu.” Jawab Isomah sambil terus melangkah menuju ke pintu pagar.


“Kurang ajar ya kamu. Gembel kuliah dapat bantuan belas kasihan saja berlagu.” Teriak Nency sambil berlari mendekati Isomah dengan tangan yang memegang sapu akan dipikirkan pada Isomah sebab hati nya panas karena Isomah berani melawan.

__ADS_1


Isomah yang merasa Nency berlari mengejarnya, dia malah menghentikan langkahnya. Saat Nency akan memukulkan sapu pada dirinya, dia cepat Isomah memegang tangan Nency dengan sangat keras hingga Nency berteriak kesakitan. Tangan kiri Isomah pun segera mengambil sapu yang masih dipegang oleh Nency dengan lemah sebab tangannya masih kesakitan karena pegangan dari tangan Isomah. Sapu Nency pun segera dilempar oleh Isomah dengan keras dan sapu melambung terlempar jauh.


“Kamu?” ucap Nency dengan mata melotot


__ADS_2