
Tiga perempuan yang sudah berubah wujud itu berjalan keluar gedung utama mansion lewat pintu samping. Vadeo pun terus mengikuti dari belakang.
Pak Wagiman sudah berdiri siap menunggu. Pak Wagiman sudah mandi dan memakai kemeja batik dan celana panjang berbahan kain warna hitam. Aroma harum mewangi pun sudah tercium di hidung empat orang itu.
“Suami ke dua mu Ma..” ucap Dealova sambil tersenyum akan tetapi senyumnya tertutup oleh kain masker. Nyonya William mulutnya tidak menjawab akan tetapi jari jarinya langsung mencubit pinggang ramping Dealova.
“Ha... Ha... Ha... “ Dealova malah tertawa. Alexandria dan Vadeo hanya tersenyum saja.
Tidak lama kemudian mobil taxi on line sudah masuk ke halaman mansion Willam yang telah melalui prosedur ketat saat masuk ke pintu gerbang.
Pak Wagiman membuka pintu depan dan dia duduk di jok di samping kemudi. Dealova duduk di jok paling belakang, sedangkan Nyonya William dan Alexandria duduk di jok tengah.
“Hati hati ya Pak, Buk..” ucap Vadeo agar sopir taxi itu tidak mengenali jika tiga perempuan itu keluarga William.
Mobil berjalan pelan pelan meninggalkan halaman mansion William. Dan selanjutnya menambah laju kecepatan nya setelah masuk di jalan raya. Mobil terus melaju menuju rumah sakit kampus.
Sementara itu di rumah sakit, di dalam ruang rawat, Bang Bule dengan sabar masih menunggui Ixora yang belum sadar. Berkali kali dia mengusap usap tangan dan rambut kepala Ixora. Meskipun hanya ada dirinya dan Ixora di dalam kamar itu akan tetapi Bang Bule tidak melepas topengnya, sebab ada CCTV terpasang di sudut sudut kamar itu.
“Bang Vincent...” ucap lirih Ixora. Kini hati Bang Bule berbunga bunga sebab benar dalam igauannya Ixora memanggil namanya.
“Aku di sini Beb, selalu ada dan menjaga kamu.” Ucap Bang Bule lirih pula sambil mencium tangan Ixora.
“Bang, Mama sudah dikabari?” tanya Ixora selanjutnya yang ternyata kini sudah sadar dari bius totalnya.
“Aku sudah menghubungi Alexa, meleka akan kesini.” Ucap Bang Bule yang masih memakai alat pengubah suara yang dipasang pada lidahnya.
“Bang nanti kalau aku dibersihkan perawat, make down ku hilang bagaimana?” tanya Ixora selanjutnya sambil tatapan matanya tertuju pada wajah Bang Bule yang tertutup topeng silikon.
__ADS_1
“Nanti aku akan bilang bial aku yang membelsihkan dilimu.” Ucap Bang Bule sambil tersenyum dia akan dengan senang dan suka rela hati untuk membersihkan tubuh Ixora.
“Enggak boleh Bang.” Ucap Ixora sambil tersenyum.
“Biar nanti Mama atau Kak Alexa saja.” Ucap Ixora selanjutnya.
“Terus kalau aku nanti tidak boleh ke sini bagai mana?” tanya Bang Bule kuatir jika dilarang untuk datang menemui Ixora.
“Aku bilang Kakek teman dan penolongku.” Ucap Ixora sambil tersenyum. Dan Bang Bule pun memberikan air mineral pada Ixora sebab Ixora merasakan haus, saking senangnya Bang Bule sampai lupa akan pesan dari perawat tadi
Dan sesaat kemudian
TOKKKK. TOKKKK. TOKKK
“Beb, aku lupa belum memanggil Doktel.” Ucap Bang Bule lalu dia memencet tombol yang untuk memanggil Dokter. Dan selanjutnya dia bangkit berdiri untuk menuju ke pintu yang diketuk ketuk.
“Doktel apa ya yang datang, apa sudah tahu sebelum ku panggil.” Gumam Bang Bule sambil memutar handel pintu pelan pelan. Saat pintu sudah terbuka muncul empat orang yang belum Bang Bule kenal.
Bang Bule meskipun beberapa kali berkunjung ke mansion William akan tetapi dia belum pernah bertemu muka dengan Pak Wagiman.
“Aku yang harus bertanya Kakek itu siapa? Berani berani nya masuk di kamar Isomah anakku.” Suara Nyonya William dengan nada tinggi.
Bang Bule pun mendadak jantungnya berdebar debar lebih kencang saat mendengar suara salah satu perempuan di depannya itu. Meskipun penampilan asing buat Bang Bule akan tetapi saat sudah bersuara dia begitu mengenal siapa pemilik suara itu.
“Maaf Nyah...” suara Bang Bule bergetar karena dia memang benar benar takut tidak menyangka Nyonya William kini sudah berada di depannya.
“Aku Kakek Penjual Obat teman Isomah.” Ucap Bang Bule sambil tertunduk meskipun Nyonya William tidak mengenali Bang Bule akan tetapi Bang Bule sangat kuatir jika penyamarannya diketahui jika tiba tiba dia salah ucap.
__ADS_1
“Iya dia yang selalu menolong aku.” Ucap Ixora agak keras berusaha membantu menyelamatkan Bang Bule.
“Ooohh maaf.... maaf Kek..” ucap Nyonya William lalu menjabat tangan Bang Bule bahkan mencium punggung tangan Bang Bule berkali kali sambil punggung membungkuk memberi hormat.
“Terima kasih ya Kek, sudah selalu menolong Isomah.” Ucap Nyonya William lagi sambil masih membungkuk mencium punggung tangan Bang Bule.
Saat Nyonya William masih sibuk menciumi punggung tangan Bang Bule. Pak Wagiman, Dealova dan Alexandria segera berjalan masuk ke dalam ruang rawat melewati mereka berdua. Bang Bule pun terlihat sedang menepuk nepuk punggung Nyonya William pelan pelan sambil tersenyum.
“Ix, bagaimana keadaan mu?” tanya Alexandria sambil mendekati tempat pembaringan Ixora.
“Bagaimana kronologi nya sampai kamu bisa jatuh?” tanya Alexandria selanjutnya.
Ixora tersenyum dan selanjutnya tertawa kecil saat melihat penampilan Dealova dan Kakaknya. Apa lagi pertunjukan di depan pintu Sang Mama yang sangat sopan dan ramah pada Bang Bule yang berpenampilan sebagai Kakek Penjual Obat. Sudah sejak tadi Ixora menahan diri untuk tertawa.
“Kalian juga jadi menyamar.” Ucap Ixora sambil tersenyum. Alexandria dan Dealova pun menganggukkan kepalanya.
“Kak, tolong di sini jaga aku ya.. membersihkan tubuhku, kalau perawat yang membersihkan bisa bisa terbuka tabirku.” Pinta Ixora pada Alexandria.
“Tapi bagai mana dengan Kak Deo. Siapa yang nemani dia.” Ucap Alexandria yang ingat akan kewajibannya sebagai seorang isteri.
“Biar aku yang temani.” Ucap Dealova dengan polosnya.
“Kamu mau nemani apa?” tanya Nyonya William yang kini sudah berada di antara mereka.
“Ya nemani kalau dia mau jalan jalan, mau ngegim, ...” jawab Dealova.
“Kalau malam biar Mama yang jaga kamu. Alexa pagi dan siang ya.” Ucap Nyonya William mengambil jalan tengah dia tidak ingin proses pembuatan cucu terganggu.
__ADS_1
“Aku juga bisa menjaga Isomah, Nyah..” saut Bang Bule yang berdiri di samping Pak Wagiman.
“Oooo iya iya Kek...”