
Sementara itu di belahan bumi lain. Di benua Eropa, tepatnya di negeri Belanda. Bang Bule terlihat kesal sebab dia melihat di aplikasi chatting, Ixora sudah membuka dan membaca pesan juga melihat foto yang dia kirim. Namun Ixora hanya mengabaikan saja.
“Hmmm apa benar mereka semakin akrab dan dekat sejak aku tinggal kan.” Gumam Bang Bule dalam hati sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Bulu bulu di rahang, dagu dan kumisnya pun semakin tumbuh lebat tidak terurus karena hati gundah dan semangat Bang Bule melemah tidak lagi seperti waktu dia di Indonesia.
Bang Bule mendapatkan foto yang dikirimkan pada Ixora itu dari hasil dia stalking pada media sosial Carol. Karena cemburu di dalam hati yang membara sampai sampai Bang Bule melakukan hal itu. Dan ternyata Carol memposting foto acara makan malam dengan keluarga William di week end kemarin. Sedangkan yang mengabadikan moment acara itu adalah pelayan Tuan Alfredo yang memang sudah mendapatkan tugas itu. Akibat Carol memposting foto itu juga membuat Anneke semakin cemburu dan akhirnya minta diantar jemput oleh Carol.
“Vin, kamu ditunggu Papa tuh untuk diajak ke peternakan. Jangan hanya duduk, tidur dan melamun. Kamu nanti malah sakit.” Teriak Sang Mama pada Bang Bule Vincent yang masih berbaring di sofa di ruang keluarga sambil memegang hand phone dan pandangan mata nya menatap layar hand phone nya itu.
“Nanti Ma, aku susul Papa.” Ucap Bang Bule dengan malas.
“Hah, alesan saja. Awas kalau nanti tidak menyusul.” Ucap Sang Mama lalu melangkah meninggalkan Bang Bule untuk memberi kabar pada suaminya agar berangkat lebih dulu.
Bang Bule yang masih memikirkan kenapa Ixora mengababaikan dirinya, akhirnya dia tidak tahan untuk menghubungi Ixora.
Sedangkan di bumi Indonesia, Ixora yang berpenampilan sebagai Isomah masih berjalan tergesa gesa menuju ke ruangan yang sudah ditentukan oleh Ibu Dosen nya. Saat dia sedang menaiki anak tangga dengan langkah cepatnya. Tiba tiba hand phone yang berada di tote bag nya berbunyi berkali kali. Sambil terus menaiku anak tangga Isomah segera akan mengambil hand phone yang masih berada di dalam tote bag.
Namun tiba tiba siku nya menyenggol seseorang yang juga sedang menaiki anak tangga.
“Lihat lihat orang dong kalau lewat!” teriak orang yang tersenggol oleh siku Ixora.
“Sudah memakai kaca mata tebal tapi masih saja buta!” teriak nya lagi
__ADS_1
“Maaf.” Ucap Isomah sambil menoleh pada seorang mahasiswi yang masih marah marah.
Namun Isomah tampak kaget sebab orang itu adalah teman yang sudah pernah berbuat jahat pada dirinya.
“Nency.” Gumam Isomah dalam hati. Dia selama ini belum pernah bertemu dengan Nency karena jadwal dan gedung yang berbeda. Mungkin karena sekarang dia datang lebih awal dan juga akan menuju ke ruangan yang sudah ditunjuk oleh Ibu Dosen membuat dirinya jadi bertemu dengan Nency.
“Maaf maaf apa, dasar mata buta!” gumam Nency masih ngedumel dan melanjutkan langkahnya dia tidak mengenal Isomah yang sesungguhnya Ixora teman SMA nya.
Isomah lalu mengambil hand phone nya yang masih berdering. Tampak di layar hand phone nya Bang Bule melakukan panggilan suara. Bang Bule tidak pede melakukan panggilan video sebab wajahnya masih acak acakan amburadul karena tidak dia urus.
“Bang maaf, nanti aku telepon balik saja ya, ini aku sedang tergesa gesa.” Ucap Isomah lalu dia segera memutus sambungan teleponnya dan segera memasukkan lagi hand phone nya ke dalam tote bag nya. Dia menunda percakapan nya dengan Bang Bule sebab batas waktu untuk menemui Ibu Dosen sudah semakin limit.
Isomah terus melanjutkan langkahnya menuju ke ruang yang sudah ditentukan oleh Ibu Dosen. Setelah melewati prosedur Isomah diizinkan masuk.
Isomah lalu mengetuk pintu sebanyak tiga kali dengan pelan pelan dan selanjutnya dia membuka daun pintu itu dengan pelan pelan pula.
“Silahkan duduk Is, aku kira kamu tidak datang.” Ucap Ibu Dosen sambil melihat waktu yang berada di pergelangan tangannya.
“Maaf Bu, saya siang baru mengaktifkan hand phone.“ jawab Isomah sebab pesan chat Ibu Dosen dikirim sejak pagi saat Isomah mengikuti kuliah.
“Ada masalah apa ya Bu?” tanya Isomah saat dia sudah duduk di kursi di depan Ibu Dosen.
__ADS_1
“Langsung saja Is. Ibu mau bertanya kamu kalau pagi sampai siang sebelum kamu kuliah di sini apa kegiatan kamu?” tanya Ibu Dosen sambil menatap wajah Isomah.
“Hmmm apa nilai saya jelek Bu?” ucap Isomah malah balik bertanya. Isomah masih kuatir jika dia dipanggil karena jelek nilainya atau jati diri nya sudah tercium oleh Ibu Dosen.
“Tidak, nilai kamu bagus.” Ucap Ibu Dosen, dan Isomah terlihat lega satu dari kekuatiran nya tidak terjadi.
“Apa kegiatan kamu sebelum kuliah katakan saja pada Ibu dengan terus terang tidak perlu kamu tutup tutupi.” Ucap Ibu Dosen selanjutnya
“Saya pagi sampai siang kuliah di fakultas kedokteran Bu.” Jawab Isomah dengan jujur
“Wow bagus, aku tidak mengira. Kamu memang benar benar cerdas. Aku tidak salah pilih.” Ucap Ibu Dosen dengan kaget dan penuh kekaguman
“Begini Is, ini ada lomba penelitian mahasiswa. Ke depan ada kesempatan ikut lomba tingkat Internasional. Tetapi memang butuh banyak waktu. Maka tadi aku tanyakan apa kegiatan kamu di pagi hingga siang. Sebab mahasiswa vokasi banyak yang pagi hingga siang bekerja.” Ucap Ibu Dosen memberi penjelasan
“Benarkah Bu?” tanya Isomah minta keyakinan akan kesempatan lomba itu. Dan kini dia benar benar lega.
“Iya. Kamu buat saja tiga proposal nanti aku seleksi mana yang diajukan untuk lomba.” Ucap Ibu Dosen
“Dari kampus sini saya tawarkan pada beberapa mahasiswa berpotensi. Nanti seleksi awal di internal kampus.” Ucap Ibu Dosen lagi.
“Baik Bu.” Jawab Isomah dengan senyuman bahagia.
__ADS_1
“Cepat ya.. Dan kebetulan kamu juga mahasiswa kedokteran jadi kalau memerlukan laboratorium di fakultas kedokteran lebih mudah.” Ucap Ibu Dosen sambil menatap Isomah yang tidak menyangka juga sebagai mahasiswi kedokteran
“Baik Bu, secepatnya akan saya buat proposal nya Bu. Dan terima kasih banyak atas tawaran ini.” Ucap Isomah dengan mantap . Setelah mengucapkan terima kasih selanjutnya Isomah mohon diri.