Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 151. Nyonya William Diculik


__ADS_3

Pagi hari di Manila tepat nya di hotel tempat pelaksanaan lomba penelitian tingkat internasional. Para peserta lomba setelah acara makan pagi langsung menuju ke suatu ruangan tempat acara final diskusi yang dikuti oleh pemenang di tiap kelompok, yang mana Ixora ikut terpilih sebagai pemenang. Sedangkan peserta lomba yang tidak menang di kelompok nya kini ikut masuk ke ruangan tersebut sebagai penonton.


Sedangkan Nyonya William setelah memberi restu pada Ixora dia segera melangkah untuk bergabung dengan genk dadakan nya yang sedang menunggu di ruang lobby.


“Ayo kita jalan, tuh mobil sudah siap menunggu.” Ucap Nyonya William si ketua genk dadakan.


Mereka berenam pun segera melangkah menuju ke mobil yang sudah siap akan mengantar mereka. Mobil polisi pengawal pun juga sudah siap untuk mengikuti mereka.


Setelah keenam perempuan setengah baya yang masih cantik cantik sesuai versi menurut negara nya itu, masuk ke dalam mobil dan semua pintu mobil sudah tertutup sempurna. Mobil pun segera berjalan pelan pelan meninggalkan halaman hotel itu. Mobil polisi mengikuti dari jarak dekat. Dan setelah mobil yang membawa ke enam perempuan beda negara itu memasuki jalan raya. Sang pengawal Nyonya William pun segera siap siaga dengan kemudi mobil nya. Setelah mobil polisi masuk jalan raya, dengan segera sang pengawal Nyonya William langsung menjalankan mobil nya mengikuti mobil polisi dan dengan jarak dekat juga.


Setelah mobil berjalan kira kira lima puluh meter, ada satu buah motor yang mengikuti mereka. Laki laki suruhan bos tambun kini mengintai dan menguntit pakai motor dan dia juga mengajak satu orang. Mereka berdua berboncengan terus mengikuti mobil yang membawa tamu hotel itu. Penguntit itu terus mengikuti mobil rombongan.


Beberapa menit kemudian mobil sudah sampai di salah satu museum yang akan menjadi tujuan pertama mereka.


Sang penguntit menghentikan motor nya dari jarak agak jauh akan tetapi masih bisa melihat mobil mobil itu berhenti di tempat parkir museum.


Sesaat sang penguntit kaget saat melihat orang orang yang keluar dari mobil hotel yang mereka ikuti, karena yang turun adalah rombongan ibu ibu bukan gadis gadis mahasiswi. Dia pun segera mengambil hand phone nya dan menghubungi bos tambun.


“Bos yang turun dari mobil itu ibu ibu bukan mahasiswa yang peserta lomba.” Ucap nya dengan suara pelan pelan.


“Ha? Kata mu di informasi ada nama Ixora William?” suara berat di balik hand phone dengan nada kaget.


“Bukan Ixora, Tuan tapi Amira William.” Ucap sang penguntit membenarkan informasi yang sudah dia terima dari orang dalam hotel.


“Itu orang tua nya bodoh! isterinya Tuan William. Ya sudah tidak apa apa kamu culik saja dia, bisa untuk jaminan agar Ixora memberikan penelitian nya cuma cuma kepada ku. Dan aku juga bisa minta tebusan dari Tuan William ha... ha....” suara berat di balik hand phone diiringi tawa puas bahagia. Dan selanjutnya sambungan telepon terputus.

__ADS_1


Sang penguntit lalu menghubungi jaringannya untuk segera datang dan bekerja sama.


Dan waktu pun terus berlalu. Rombongan Nyonya William bisa jalan jalan dengan aman tanpa gangguan, meskipun Nyonya William tetap saja belum menemukan cangkir nenek buyut yang hilang satu. Hingga tiba saat nya waktu untuk makan siang pun tiba.


“Ayo kita makan siang di mall saja sekalian cari cari barang.” Usul sang guide, orang tua peserta dari negara Philipina.


Mereka semua pun setuju dan segera masuk ke dalam mobil dan selanjutnya ketiga mobil itu menuju ke mall terbesar di kota Manila. Sang penguntit pun terus mengikuti dari jarak jauh dan terus memberi informasi pada jaringan yang diajak bekerja sama.


Beberapa menit kemudian ke tiga mobil sudah memasuki halaman mall dan mobil sudah masuk ke area parkir, orang orang di dalam ke tiga mobil itu segera keluar dari mobil dan menuju ke salah satu restoran yang berada di dalam mall. Sang penguntit terus saja mengikuti dari jarak jauh. Sang pengawal Nyonya William sudah menyadari jika ada yang mengikuti sejak tadi dia pun pasang mode waspada.


Sesaat setelah acara makan siang selesai tampak Nyonya William bangkit berdiri dan yang lain pun juga bangkit berdiri. Mereka akan melanjutkan jalan jalan di mall.


“Tolong bawa tas ku, aku mau ke toilet sebentar.” Ucap Nyonya William pada sang pengawal sambil menyerahkan tas tangan nya.


Nyonya William pun berjalan menuju ke toilet sang pengawal mengikuti nya dan menjaga di luar sambil mengawasi sang penguntit yang sudah dia awasi sejak di perjalanan.


Perempuan itu tidak masuk ke dalam bilik padahal ada beberapa bilik yang kosong. Perempuan itu terus berdiri.


Beberapa menit kemudian satu bilik berbuka sedikit pintu nya, dan tampak sosok Nyonya William yang masih di dalam bilik dan memegang pintu.


“Apa perutmu sakit?” suara keras perempuan itu sambil menyelonong masuk ke dalam bilik, Nyonya William yang kaget dan belum sempat berteriak mulut nya sudah disekap dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Nyonya William pun tidak sempat berteriak dan selanjutnya dia pingsan.


Pakaian Nyonya William dilepas dan diganti dengan baju hamil yang sudah dia keluarkan dari tas nya. Baju Nyonya William dia untel untel dan ditaruh di perut Nyonya William jadi bagai orang hamil. Perempuan itu pun lalu memasang kerudung di kepala Nyonya William.


Perempuan itu lalu memapah Nyonya William dengan sedikit menyeret tubuh Nyonya William sebab Nyonya yang pingsan tidak bisa melangkahkan kaki nya.

__ADS_1


“Tolong... saudara saya mau melahirkan, tadi kata nya merasa mau buang air besar tetapi dia ternyata mau melahirkan.” Suara perempuan itu agak keras.


“Dia sudah pingsan tidak berdaya.” Teriak nya lagi. Beberapa orang yang ada di situ memberinya jalan, karena mereka perempuan tidak bisa membantu menggotong hanya ada satu orang yang membantu memapah.


Sang pengawal memberi jalan dan tidak tahu jika yang dibawa perempuan itu adalah Nyonya William. Sebab perempuan itu menutupi wajah Nyonya William dengan kain kerudung di kepala Nyonya William.


“Kamu tolong dia, aku stand by di sini.” Suara sang penguntit pada teman nya. Dan satu orang penguntit itu segera membantu perempuan itu dengan menggotong tubuh Nyonya William dibawa dengan cepat keluar mall itu.


Sang penguntit satu nya masih berdiri dan sengaja agar perhatian sang pengawal Nyonya William terus terpusat pada nya.


Sang pengawal masih setia menunggu di depan toilet sambil membawa tas tangan Nyonya William. Dan sang penguntit itu pun masih juga berdiri. Dan hingga tiba saat nya teman teman genk dadakan Nyonya William menghampiri sang pengawal.


“Di mana Nyonya William?” tanya salah satu dari mereka.


“Apa apa tadi kok ribut ribut?” tanya teman genk dadakan Nyonya William lainnya.


“Ada orang mau melahirkan, Nyonya William di dalam sudah sejak tadi, tolong Anda lihat di dalam.” Pinta sang pengawal. Dan tiga orang dari perempuan itu pun masuk ke dalam toilet. Dan bersamaan dengan itu sang penguntit pun melangkah pergi.


Beberapa saat kemudian.


“Tidak ada Nyonya William di dalam.” Teriak salah satu dari mereka.


“Aku panggil panggil tidak ada sautan. Semua bilik tidak ada diri nya.” Ucap yang lain nya yang tadi turut masuk ke dalam toilet.


“Ayo kita lapor petugas mall, untuk cek CCTV di mana Nyonya William.” Ucap sang Nyonya orang tua peserta dari negara Philipina. Sedang yang lain nya menghubungi polisi yang mengawal tadi.

__ADS_1


Sang penguntit yang kini sudah berada di atas motor nya tersenyum puas. Dia pun segera melajukan motor nya meninggalkan lokasi mall dan terus mengikuti mobil temannya yang sudah membawa Nyonya William.


Mobil yang membawa Nyonya William terus melaju menuju ke sebuah pelabuhan yang sudah ditentukan oleh Bos Tambun.


__ADS_2