Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 33. Ulah Anneke


__ADS_3

Mata Anneke menangkap sosok seseorang yang pernah dia lihat di kampusnya. Dia adalah adik tingkatnya.


“Bukannya itu mahasiswi baru terjelek di fakultas kedokteran yang pernah sok kenal dengan Kak Carol.” Ucap Anneke saat melihat sosok Isomah di boncengan vespa tua di jalan raya.


“Bonceng siapa dia, bapaknya apa kakeknya. Kok mesra sekali.” Ucap Anneke kemudian saat melihat sekilas wajah tua dan penampilan orang jadul yang mengemudikan vespa.


“Ha... ha... coba saja aku ganggu mereka.” Ucap Anneke selanjutnya lalu menjalankan mobilnya di belakang laju vespa tua Bang Bule sambil membunyikan klakson berkali kali.


“Bang minggir telingaku panas otakku stres mobil di belakang membunyikan klakson terus.” Teriak Ixora pada Bang Bule.


“Aku jalan sudah benar Beb, dia bisa mendahului masih ada jalan di samping.” Teriak Bang Bule. Bang Bule pun menambah laju kecepatan vespa tuanya sampai dengan kecepatan penuh. Akan tetapi Anneke juga turut mengimbangi sambil masih berada di belakang vespa tua Bang Bule dan terus saja membunyikan klakson keras keras dan berkali kali. Sambil tertawa puas.


“Ha... ha... senang juga menggoda orang jelek dan miskin, sampai seberapa kecepatan laju vespa tua bangka itu.” Ucap Anneke sambil terus membunyikan klakson mobilnya.


“Bang kita berhenti saja, sepertinya orang itu sengaja biar kita celaka.” Teriak Ixora yang tidak hafal nomor plat mobil Anneke, dia juga tidak bisa melihat orang di dalam mobil itu, sebab kaca mobil Anneke berwarna hitam tidak bisa terlihat orang di dalam jika dari luar mobil.


“Beb sepertinya aku pernah melihat mobil itu di kampus mu.” Ucap Bang Bule dengan suara keras.


“Banyak mobil seperti itu Bang. Kalau vespa Bang Bule ini hanya satu yang aku tahu.” Ucap Ixora dengan suara keras


“Sabar Beb.” Teriak Bang Bule lalu dia semakin menambah kecepatan laju vespa tuanya, dan tidak lama kemudian vespa itu melewati sebuah persimpangan jalan yang lampunya masih hijau tinggal beberapa detik saja. Vespa tua Bang Bule sukses melewati persimpangan itu sementara mobil Anneke terhenti oleh lampu lalu lintas yang sudah berubah menjadi merah.


Bang Bule di dalam hati sudah menghafalkan plat mobil yang sudah membuat gangguan pada perjalanannya. Sambil terus mengingat ingat mobil yang sepertinya pernah dia lihat.


“Kamu tidak tahu siapa yang ada di dalam mobil itu?” tanya Bang Bule sambil menoleh sekilas ke arah samping, dan Ixora pun hanya menggeleng gelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Ooooh aku ingat Beb, sepertinya dia primadona kampus, iya iya dia pernah datang saat kita latihan.” Ucap Bang Bule selanjutnya yang ingat Anneke datang saat latihan dengan memakai mobil itu.


“Ooo iya Bang, terus ngapain dia mengganggu kita.” Ucap Ixora yang sekarang sudah tidak dengan suara keras karena kondisi jalan sudah tidak begitu ramai setelah persimpangan lampu merah tadi.


“Mungkin dia stres jadi iseng mengganggu orang.” Jawab Bang Bule yang terus melajukan vespa tuanya dia akan menuju batas kota di mana ada sebuah taman untuk rekreasi melepas penat masyarakat kota.


Sementara itu Anneke yang terhalang lampu merah terlihat mengumpat umpat dan tidak tahu siapa yang dia umpat. Dan tiba tiba, mata dia melotot lagi.


“Hah kenapa aku bisa sampai di jalan ini, bukannya arah ke mansion Alfredo harus belok di jalan sejak tadi.” Ucap Anneke sambil memukul mukul kemudi mobilnya karena kesal sendiri.


“Sial! harus putar jauh ini.” Ucapnya kemudian.


Di saat Anneke masih memikir mikir jalur terpendek untuk menuju ke mansion Alfredo. Lampu sudah hijau. Mobil dan kendaraan lainnya yang berada di belakang nya sudah berkali kali membunyikan klakson agar mobil Anneke segera bergerak.


Anneke pun akhirnya menjalankan mobilnya lurus terus ke depan karena tidak memungkinkan untuk belok kiri atau kanan. Padahal itu jalur yang akan membuatnya semakin jauh dari lokasi masion Alfredo.


“Gara gara vespa tua dan gadis jelek membuat susah diriku.” Gumam Anneke yang malah menyalahkan orang lain dan vespa tua yang tidak punya salah apa apa pada dirinya.


Anneke pun terus melajukan mobilnya untuk menuju ke mansion Alfredo dengan jalan yang memutar mutar karena kesalahannya sendiri.


Setelah dua jam perjalanan akhirnya Anneke sampai di lokasi mension Alfredo. Penjaga gerbang menanyakan kartu identitas dan keperluan Anneke datang ke mansion itu.


“Apa kamu tidak tahu kalau aku itu kekasihnya Tuan Muda Carol?” tanya Anneke dengan nada ketus setelah dia menurunkan kaca jendelanya.


“Maaf Nona, saya tidak tahu.” Jawab petugas penjaga gerbang yang memang tidak tahu.

__ADS_1


“Tuan Carol tidak memberi tahu kalau akan ada tamu. Silahkan Nona menunjukkan kartu identitas dulu.” Ucap penjaga gerbang itu selanjutnya.


Anneke pun dengan kesal mengambil kartu identitasnya dan dia serahkan pada petugas penjaga pintu gerbang. Dan setelahnya penjaga pintu gerbang itu terlihat menghubungi Tuan nya.


“Silahkan Nona masuk, maaf.” Ucap petugas penjaga gerbang dengan sopan sambil menyerahkan kartu identitas Anneke.


“Ingat ya, kalau aku sudah jadi isteri Tuan Muda Carol, aku pecat kamu!” teriak Anneke sambil menerima kartu identitas nya lalu menutup jendela kaca mobilnya dan segera melajukan mobilnya masuk ke halaman mansion Alfredo.


Petugas penjaga pintu gerbang pun hanya geleng geleng kepala, sebab akhir akhir ini banyak gadis gadis cantik datang ke mansion mengaku sebagai kekasih Tuan Muda Carol.


Sedangkan Anneke setelah memarkir mobilnya. Dia terlihat sibuk merapikan riasan wajah dan juga pakaian sexyy nya. Setelah yakin sudah tampil sempurna dia keluar dari mobil sambil tangan membawa kotak makanan yang sudah berisi makanan masakan restoran mewah langganan kaum elite.


Anneke melangkah dengan gaya bak peragawati berjalan di atas panggung peragaan busana. Dan setelah sampai di depan pintu utama Mansion Alfredo dia menekan bel tamu pelan pelan tidak seperti saat membunyikan klakson mobil di belakang vespa tua Bang Bule tadi.


Tidak lama kemudian.


“Selamat siang Nona, mencari siapa?” tanya seorang pelayan saat pintu sudah terbuka.


“Apa kamu juga belum tahu kalau aku ini kekasih Tuan Muda Carol?” tanya Anneke sambil menatap pelayan yang membuka pintu dengan tajam.


“Maaf Nona, Tuan Muda Carol sedang berenang tadi bilang tidak mau diganggu.” Ucap sang pelayan dengan nada sopan.


“Silahkan Nona tunggu dulu di ruang tamu.” Ucap sang pelayan kemudian.


“Apa Nyonya Alfredo ada?” tanya Anneke sambil tersenyum, sebab dia punya maksud akan mengambil hati orang tua nya Carol.

__ADS_1


“Ada Nona, silahkan tunggu dulu di ruang tamu.” Ucap sang pelayan. Dan Anneke pun akhirnya masuk ke dalam mansion Alfredo, dia tersenyum senang melangkah menuju ke ruang tamu dan duduk menunggu.


"Hmm setelah aku serahkan makanan ini pada Nyonya Alfredo aku susul Kak Carol di kolam renang." gumam Anneke sambil tersenyum mesuum membayangkan tubuh Carol yang sedang berada di kolam renang.


__ADS_2