Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 159. Perhatian Bang Bule


__ADS_3

“Bul, kaki ku sakit tidak pakai alas kaki.” Teriak Nyonya William yang masih tetap berdiri. Bang Bule lalu menoleh menatap ke arah telapak kaki mulus Nyonya William yang tanpa menggunakan alas kaki. Bang Bule lalu melepas sepatu dan kaos kaki nya.


“Nyonya mau pakai yang mana, kaos kaki atau sepatu?” tanya Bang Bule menawarkan lagi bantuannya kepada orang tua kekasih hati nya itu.


Akhir nya Nyonya William memilih memakai kaos kaki Bang Bule, sebab sepatu Bang Bule terlalu besar buat dirinya malah nanti akan kesulitan berjalan. Setelah Nyonya William selesai memakai kaos kaki Bang Bule dan Bang Bule memakai sepatu nya. Mereka berdua berjalan menuju ke tempat Marcel berada.


Saat mereka berdua sudah sampai di lokasi tempat Marcel berada. Marcel berdiri sambil melihat orang orang yang sudah terkapar.


“Kamu bantu memasukkan mereka ke dalam mobil. Polisi nanti akan segera datang.” Ucap Marcel sambil menatap lima orang yang sudah terkapar.


“Ada satu orang perempuan di dalam, kamu ambil dia dan satukan di sini.” Ucap Bang Bule sambil menarik salah satu orang untuk di masukkan ke dalam mobil. Marcel pun segera melangkah ke dalam rumah untuk mengambil satu orang perempuan yang masih pingsan.


Setelah semua masuk ke dalam mobil. Bang Bule dan Marcel mengambil semua hand phone dan kunci mobil. Marcel pun mengunci mobil dan jendela di mobil dibuka agar ada udara masuk.


“Ayo kita tinggalkan tempat ini.” Ucap Marcel. Mereka bertiga pun segera melangkah menuju ke tempat motor nelayan yang terparkir agak jauh dari tempat itu. Nyonya William agak berjingkat jingkat jalannya.


Tidak lama kemudian mereka bertiga sudah sampai di tempat motor yang terparkir.


“Kenapa kita tidak pakai mobil mereka saja, aku duduk di mana?” tanya Nyonya William sambil menatap motor yang bersandar pada suatu pohon besar.


“Nyonya duduk di boncengan paling belakang apa di tengah. Kita harus kembalikan motor ini pada pemiliknya Nyonya.” Jawab Bang Bule dan terlihat Marcel sudah mendirikan motor yang bersandar itu.

__ADS_1


“Apa di depan Nyonya.” Ucap Marcel sambil tersenyum dan menaruh pantatnya di jok motor. Nyonya William hanya bisa pasrah dan cemberut karena malah digoda oleh Marcel.


Dan akhirnya Nyonya William pun memilih duduk di boncengan paling belakang sedang kan Bang Bule berada di tengah. Bang Bule menitip kan ransel nya agar di bawa oleh Marcel supaya tidak semakin mempersempit tempat duduk nya dan Nyonya William.


Motor terus melaju menuju ke pantai tempat kapal nelayan yang mereka pinjam bersandar. Nyonya William memegang perut Bang Bule dengan sangat kencang karena takut jatuh.


Beberapa menit kemudian motor sudah sampai di bibir pantai dan bersamaan dengan itu tampak kelip lampu kapal nelayan mendekat. Marcel segera menghentikan motornya.


“Itu kapal yang membawa polisi sudah datang. Kita tunggu sebentar.” Ucap Marcel saat melihat ada kapal nelayan yang datang dan sudah mendekat.


“Apa Ixora ku ikut dengan kapal mereka?” tanya Bang Bule yang sudah sangat merindukan Ixora nya.


“Ixora ku.” Gumam Nyonya William dengan nada yang tidak rela.


“Maka kita tunggu, kalau Ixora dan Tuan William ikut mereka lebih baik mereka segera balik ikut dengan kapal kita.” Ucap Marcel yang sudah mematikan mesin motor nya.


“Ayo turun!” suara Marcel dengan keras sambil menepuk paha Bang Bule yang masih duduk di boncengan. Bang Bule pun tidak bisa turun sebab orang yang ada di belakang nya juga masih duduk nangkring.


“Ini gimana turun nya, susah aku ini mau turun.” Teriak Nyonya William yang kesulitan turun karena bagian belakang motor yang lebih tinggi dan pancatan kaki buat pembonceng diinjak oleh kaki Bang Bule. Menyadari hal itu Bang Bule lalu menarik kakinya dari pijakan nya dan sedikit menoleh ke belakang lalu tangannya terulur untuk membantu Nyonya William turun dari motor. Nyonya William pun berhasil turun dari boncengan motor dengan aman. Bang Bule hanya bisa tersenyum dalam hati lalu dia pun ikut turun dari boncengan motor.


Beberapa menit kemudian kapal polisi itu sudah bersandar di bibir pantai. Bang Bule dan Nyonya William melihat satu per satu orang orang yang keluar dari kapal itu. Sampai orang terakhir yang keluar hanya orang orang yang berpakaian seragam polisi dan dua orang nelayan, tidak ada sosok Ixora dan Tuan William. Bang Bule yang sudah sangat merindukan Ixora itu hanya bisa menelan kekecewaan.

__ADS_1


“Terima kasih Tuan Tuan Muda yang sudah membantu kerja tim kami.” Ucap ketua tim polisi pencari Nyonya William saat sudah berada di dekat tiga orang itu. Beliau lalu menjabat tangan Bang Bule, Marcel dan Nyonya William yang masih memakai baju hamil dan kaki memakai kaos kaki Bang Bule.


“Sama sama.” Ucap Bang Bule dan Marcel secara bersamaan. Marcel dan Bang Bule pun lalu menyerahkan semua hand phone milik pelaku dan dua kunci mobil milik pelaku pada polisi itu.


“Pak Polisi di mana suami dan anak saya?” tanya Nyonya William.


“Mereka menunggu di pelabuhan.” Jawab ketua tim polisi pencari Nyonya William.


“Kenapa mereka tidak ikut?” tanya Nyonya William


“Selain karena tadi kapal tidak lagi muat juga karena Nona Ixora perlu beristirahat karena besok masih ada acara lomba.” Jawab Pak Polisi karena tadi saat akan bergerak berdiskusi lebih dulu dengan Tuan William.


Akhirnya polisi polisi itu segera bergerak menuju ke lokasi pelaku yang sudah dibekuk oleh Bang Bule dan Marcel. Dan dua kapal nelayan itu melaju membelah lautan meninggalkan pulau terpencil itu. Satu kapal berisi dua nelayan yang mengantar polisi polisi dan satu kapal berisi Bang Bule, Marcel dan Nyonya William.


Marcel tampak sudah ahli dalam mengemudikan kapal nelayan itu. Sebab dia sudah sering membawa kapal itu jika mengejar penjahat penjahat yang lari atau bersembunyi di pulau pulau terpencil.


Angin laut dini hari berhembus masuk ke dalam kapal nelayan itu. Nyonya William yang hanya mengenakan baju hamil itu merasa tubuh nya kedinginan. Dia bersedekap untuk mengurangi rasa dingin.


Bang Bule melihat perempuan setengah baya yang kedinginan itu teringat akan Sang Mamanya. Bang Bule lalu melepas jaket nya.


“Nyonya jika mau silahkan pakai jaket saya, agar Nyonya tidak sakit.” Ucap Bang Bule sambil mengulurkan jaket nya pada Nyonya William yang masih bersedekap itu.

__ADS_1


Nyonya William dengan perasaan sedikit tidak enak dan rasa haru karena perhatian dari Bang Bule, lalu tangannya terulur menerima jaket dari Bang Bule itu lalu memakai jaket Bang Bule itu untuk melindungi tubuh nya dari terpaan angin laut dini hari.


Kapal terus melaju membelah lautan.


__ADS_2