
Sementara itu di negara Tiongkok, laki laki bertubuh tambun itu tersenyum bahagia karena dia telah lolos dari pengejaran pak polisi.
“Aku harus mendatangi Cheng Lie sekarang juga, akan aku ceritakan tentang lomba penelitian yang mengancam bisnisku.” Gumam seorang laki laki paruh baya bertubuh tambun yang memakai baju piyama bergaris garis horisontal, yang sudah berada di suatu hotel berbintang di kota Beijing.
“Lebih baik datang langsung dari pada berbicara lewat hand phone.” Gumam laki laki bertubuh tambun itu lagi. Dia lalu menghubungi seseorang kolega nya untuk minta dijemput di hotel.
Setelah kolega nya akan mengantar sopir dan mobilnya menuju ke hotel nya. Laki laki bertubuh tambun itu, bersiap siap memakai pakaiannya.
Beberapa menit kemudian telepon di kamar laki laki bertubuh tambun itu berdering. Setelah diangkat pegawai hotel menginformasikan jika mobil yang menjemput sudah tiba.
Laki laki bertubuh tambun itu segera memakai kaca mata hitam dan tas hitamnya. Dia lalu sekilas menyisir rambut nya yang sudah tipis karena rontok bahkan bagian depan sudah polos alias botak. Setelah selesai laki laki bertubuh tambun itu segera keluar dari kamar hotelnya.
Saat berada di lantai satu di depan bagian resepsionis. Sang resepsionis menunjukan mobil hitam yang menjemput laki laki bertubuh tambun itu. Dan dengan cepat laki laki bertubuh tambun itu berjalan menuju ke mobil hitam yang sudah menjemputnya.
“Antar aku ke kantor Tuan Cheng Lie.” Ucap laki laki bertubuh tambun itu saat sudah masuk ke dalam mobil. Sopir yang akan mengantar itu pun menganggukkan kepala nya.
Mobil terus melaju membelah jalan raya kota Beijing.
Dan beberapa saat kemudian mobil sudah memasuki halaman sebuah bangunan megah. Dan tidak lama kemudian mobil berhenti di dekat pintu masuk bangunan itu. Laki laki bertubuh tambun itu pun segera membuka pintu dan turun dari mobil.
Laki laki bertubuh tambun itu segera melangkah menuju ke pintu masuk dan terus melangkah menuju ke pintu lift, dia tampak sudah familiar dengan gedung kantor itu. Laki laki itu pun cepat masuk ke dalam lift.
Beberapa saat kemudian laki laki itu sudah keluar dari pintu lift dan segera melangkah menuju ke suatu ruangan.
Dan sesaat kemudian dia menekan bel di depan pintu sebuah ruangan. Tidak lama kemudian pintu terbuka secara otomatis.
__ADS_1
“Ha iya... kamu kenapa datang tidak kabar kabar dulu, untung aku tidak pergi.” Ucap seorang laki laki setengah baya bermata sipit.
Mereka berdua pun lalu berjabat tangan, selanjutnya mereka berdua duduk di sofa yang yang berada di ruangan itu. Mereka berbincang bincang ringan pada awal nya. Lalu laki laki bertubuh tambun berbicara serius tentang lomba penelitian yang diikuti oleh Ixora dan juga penelitian Ixora yang mengancam bisnis nya.
“Haiya.. itu bagus penelitiannya, kenapa tidak kamu beli saja penelitian nya dan kamu bisa memproduksi sebanyak banyak nya dan kamu jual.” Ucap laki laki bermata sipit yang bernama Cheng Lie.
“Kalau kamu tidak mau beli biar aku saja yang membelinya. Coba aku tanya ada di mana lomba itu, aku akan mendatangi dan akan aku loby mahasiswa itu. Ha... Ha... Ha... seorang mahasiswa paling dibayar murah sudah suka.” Ucap Tuan Cheng Lie lagi sambil tertawa bahagia.
“Tapi dia anak orang kaya.” Saut laki laki bertubuh tambun dan bersuara berat itu.
“Ah kamu belum mencoba sudah pesimis, yang kaya kan orang tua nya, mahasiswa sekarang sudah senang dapat penghasilan sendiri.” Ucap Tuan Cheng Lie sambil menatap laki laki bertubuh tambun itu.
“Pesaing itu harus diajak kerja sama dan lama lama alias setelah nya ditindas ha... Ha... Ha...” ucap Tuan Cheng Lie lagi sambil tertawa
“Kemungkinan ada di negara ini, coba kamu cari informasi.” Ucap laki laki bertubuh tambun itu.
“Kenapa aku tidak tahu jika ada lomba penting di negara ini.” Ucap Tuan Cheng Lie lalu tampak dia mengusap usap layar hand phone nya. Dan setelah nya dia mengatakan tidak ada lomba tingkat Internasional di negara nya dalam waktu waktu ini.
“Ha, tempat lomba itu tidak di negara ini?” teriak laki laki bertubuh tambun itu tampak kaget.
“Coba kamu cari informasi lagi.” Ucap nya kemudian.
Tuan Cheng Lie pun terlihat sibuk lagi mengusap usap layar hand phone nya untuk mencari informasi lomba tingkat internasional antar mahasiswa di bidang obat obatan tradisional.
“Benar tidak di sini. Tetapi di negara tetangga mu.” Jawab Tuan Cheng Lie setelah mendapat informasi
__ADS_1
“Di mana? Malaysia?” tanya laki laki yang bertubuh tambun itu.
“Bukan, di Philipina.” Jawab Tuan Cheng Lie dengan santai.
“Sial! Aku harus ke Philipina.” Ucap laki laki bertubuh tambun itu sambil mengambil hand phone dari saku jas nya.
“Tidak usah terburu buru, masih ada waktu..” ucap Tuan Cheng Lie.
Dan waktu pun terus berlalu, pesawat yang ditumpangi oleh Ixora pun sudah mendarat di bandara Ninoy Aquino Manila.
Setelah melampaui prosedur yang berlaku Ixora dan rombongan sudah berada di ruang kedatangan penumpang. Nyonya William tersenyum bangga saat dilihat banyak banner spanduk spanduk bertulisan selamat datang peserta lomba penelitian tingkat internasional.
Apalagi saat mata nya menangkap ada tulisan seseorang memegang kertas bertulisan Ixora William peserta lomba penelitian tingkat internasional.
“Ix itu mereka panitia yang menjemput kita.” Ucap Nyonya William yang berjalan di samping Ixora dan Ibu Dosen Retno sedangkan dua pengawal berjalan di belakang mereka bertiga.
“Benar Nyonya, mereka panitia lomba yang menjemput kita.” Ucap Ibu Dosen Retno sambil tersenyum dan terlihat lega.
Tidak lama kemudian seseorang datang mendekat dan memberi salam pada Ixora dan rombongan. Dia mengenalkan diri sebagai panitia lomba yang bertugas menjemput mereka. Setelah berbincang bincang sejenak, panitia lomba itu mengarahkan Ixora dan rombongan untuk mengikuti orang yang membawa tulisan nama Ixora tadi. Dia adalah sopir panitia lomba yang akan mengantar Ixora dan rombongan untuk menuju ke hotel tempat para peserta lomba menginap. Sedangkan panitia lomba yang mendatangi tadi masih menunggu di bandara karena masih menunggu peserta dari negara lain yang akan tiba.
Ixora, Ibu Dosen Retno dan Nyonya William berada di dalam mobil panitia, sedangkan dua orang pengawal memesan taxi bandara untuk mengikuti mobil yang akan mengantar Ixora dan Nyonya William.
Dua mobil itu beriringan keluar dari lokasi bandara. Mobil terus melaju menuju ke hotel tempat menginap para peserta lomba. Sedangkan dua pengawal keluarga William itu berusaha mencari informasi apa masih ada kamar kosong di tempat hotel Ixora dan Nyonya William menginap.
“Semoga kita dapat kamar di hotel yang sama.” Ucap salah satu pengawal sambil menoleh ke arah temannya yang sedang browsing browsing di dalam mobil taxi yang terus melaju mengikuti mobil panitia lomba yang membawa Ixora dan rombongan.
__ADS_1