Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 27. Kakek Penjual Obat


__ADS_3

“Kakek mau cari siapa?” tanya laki laki paruh baya itu yang bekerja bersih bersih bersih dan menjaga pintu pagar. Saat sudah sampai di dekat pintu pagar.


“Saya mencali Isomah.” Jawab Bang Bule dengan suara orang tua sambil menatap laki laki paruh baya itu.


“Kakeknya atau apanya?” tanya laki laki paruh baya itu sambil mengamati sosok Bang Bule.


“Biasanya bapaknya yang datang ke sini, tapi tubuhnya tidak tinggi dan besar macam Kakek ini. Kakek sudah bungkuk aja masih tinggi.” Ucap laki laki paruh baya itu sambil mendongak menatap Bang Bule yang tubuhnya lebih tinggi.


“Bukan kakeknya, aku penjual obat dan jamu. Isomah mau mengajali aku jualan on line he... he...” jawab Bang Bule sambil tertawa terkekeh dan menunjukkan tas hitamnya yang dia tenteng pada laki laki paruh baya itu.


“Halah Mbah.. Mbah.. sudah tua saja mau jualan on line.” Gumam laki laki paruh baya itu sambil membuka pintu pagar.


“Kakek masuk, menemui Bunda Naura dulu, ayo saya antar.” Ucap laki laki paruh baya itu sambil melebarkan dalam membuka pintu pagar.


“Vespa biar di situ saja tidak usah dimasukkan nanti malah Mbah jatuh memasang dan melepas standar berkali kali.” Ucap laki laki paruh baya itu saat melihat Bang Bule akan memasukkan vespanya ke halaman rumah kost Isomah.


“Nanti pespaku ilang kamu yang beltanggung jawab ya...” ucap Bang Bule sambil menatap laki laki paruh baya itu.


“Meskipun aku tua tapi aku masih kuat, karena jualan jamu kuat, apa kamu mau beli he..” ucap Bang Bule lagi yang selalu dengan suara orang tua, dan masih menatap laki laki paruh baya itu.


“Tenang Mbah tidak ada yang mau ambil vespa tua itu.” Ucap laki laki paruh baya sambil menutup pagar.


“Nanti saya beli Mbah, jamu tolak miskin he... He.. “ ucap lali laki paruh baya itu lalu mengantar Bang Bule menuju ke ruang tamu untuk menemui Bunda Naura.


Bang Bule pun disuruh oleh laki laki paruh baya itu untuk duduk di kursi tamu menunggu Bunda Naura.


Tidak lama kemudian Bunda Naura datang sambil menatap Bang Bule dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.

__ADS_1


“Celamat siang Nyah...” ucap Bang Bule sambil membuka topi nya sebentar sambil menundukkan kepala dengan sopan.


“Maaf aku pakai topi kalena kepala ku botak.” Ucap Bang Bule sambil tersenyum. Dan kembali memakai topi nya.


“Kakek ada perlu apa mencari Isomah?” tanya Bunda Naura sambil mendudukkan pantatnya.


“Apa olang tadi belum omong pada kamu apa tujuan ku ke sini?” ucap Bang Bule malah ganti bertanya.


“Hmmm enak juga jadi orang tua, bisa omong seenakku pada Nyonya Naura. Kalau aku tidak menyamar menjadi Kakek mana berani aku." gumam Bang Bule dalam hati.


“Kakek tunggu, Isomah sedang dipanggilkan.” Ucap Bunda Naura masih mengamati Bang Bule.


“Bagus... Bagus.. .” Ucap Bang Bule sambil mengangguk anggukan kepalanya.


“Apa kamu mau beli jamu atau obat kuat?” tanya Bang Bule selanjutnya sambil membuka tas hitamnya. Sebab dia melihat Bunda Naura masih saja mengamati dirinya.


“Hahh tidak apa apa, bial jadi wanita kuat kamu.” Ucap Bang Bule sambil tersenyum menatap Bunda Naura


“Kakek kenapa tidak minum jamu anti botak?” tanya Bunda Naura sambil menatap Bang Bule


“Hahh? aku yang jual bagaimana aku minum sendili, bisa lugi aku, alias tidak untung atau tekol.” Jawab Bang Bule dengan nada serius masih terus dengan suara orang tua.


Beberapa saat kemudian muncul sosok Isomah masuk ke dalam ruang tamu itu. Isomah langsung melihat sosok Bang Bule yang menyamar menjadi seorang Kakek itu. Dalam hati Isomah tertawa melihat penampilan Bang Bule..


“Is kamu kenal dengan Kakek ini?” tanya Bunda Naura sambil menatap Isomah yang masih berjalan menuju ke kursi tamu.


“Ya jelas kenal Nyah.. Dia anak baik mau memgajali aku jualan on line.” Saut Bang Bule sambil menatap Isomah

__ADS_1


“Iya Bun, kenal ketemu waktu di kampus Kakek jualan di depan pintu gerbang.” Jawab Isomah bersekongkol dengan Bang Bule. Bang Bule pun tersenyum.


“Kamu temui dia di ruang tamu ini. Jangan pergi kemana mana.” Ucap Bunda Naura lalu bangkit berdiri.


“Nyah.. Aku belum makan, mau mengajak Isomah makan di walung.” Ucap Bang Bule yang memang ingin mengajak Isomah makan di luar agar bisa lebih leluasa berbicara dan pegang pegang tangan.


“Pesan lewat aplikasi saja Kek, sekalian belajar belanja on line dulu, sebelum jualan on line. “ ucap Bunda Naura sambil melangkah meninggalkan ruang tamu.


Bunda Naura terus melangkah meninggalkan ruang tamu itu menuju ke dalam, entah sungguh sungguh pergi ke dalam atau mengamati di balik pintu. Bang Bule terlihat sangat kecewa karena dilarang membawa Isomah keluar dari rumah kost. Isomah hanya diam saja sambil terus berjalan menuju ke kursi tamu.


“Mana Kek, obat obatan dan jamunya difoto dulu.” Ucap Isomah sambil mendudukkan pantatnya di kursi tamu yang panjang.


Bang Bule pun bangkit berdiri sambil membawa tas hitamnya lalu pindah duduk di samping Isomah.


“Kalau hanya duduk di sini dan diawasi sama aja Beb..” bisik Bang Bule sambil mengeluarkan obat obatan dan jamu jamuannya dari dalam tas hitamnya.


“Sabar Bang..” suara lirih Isomah sambil mengatur barang barang Bang Bule di atas meja.


Mereka berdua pun sibuk mengatur barang barang Bang Bule dan selanjutnya Isomah sibuk memotret barang barang itu. Bang Bule selalu saja mengambil kesempatan untuk bisa memegang jari jari Isomah. Isomah pun terlihat tersenyum bahkan kadang tertawa kecil melihat tingkah Bang Bule.


Akan tetapi tiba tiba...


“Kek, duduknya pindah, meskipun Kakek sudah tua tetapi bukan muhrim tidak boleh dekat dekat gitu..” suara Bunda Naura yang tiba tiba datang dengan membawa nampan berisi cangkir minuman.


“Kalau tidak dekat dekat bagaimana aku bisa belajal, tulisan di heng phong aja kecil kecil.” Ucap Bang Bule sambil menatap Bunda Naura yang masih berjalan


“Kamu itu ada ada saja, jangan cembulu pada Isomah he.. He... He... He...” ucap Bang Bule selanjutnya sambil tertawa terkekeh kekeh.

__ADS_1


__ADS_2