
Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam. Sinar matahari sudah menghilang berganti gelap datang menyelimuti bumi, dan hadir terang lampu listrik di dalam kamar Bang Bule.
“Hmm coba aku hubungi Anneke sekarang.” Ucap Bang Bule saat masuk ke dalam kamarnya sambil menekan saklar lampu listrik. Dia baru saja selesai makan malam dengan Sang Mama tercinta.
Bang Bule sekilas melihat chat untuk Ixora tadi. Dan masih centang satu.
“Ixora kenapa hand phone nya tidak aktif sejak tadi.” Gumam Bang Bule dalam hati.
Bang Bule pun lalu menghubungi Anneke lewat panggilan suara. Dua kali tiga kali mengulangi panggilannya masih saja tidak diterima oleh Anneke.
“Hmm apa karena dia belum tahu kalau ini nomor ku jadi dia enggan menerima.” Gumam Bang Bule dalam hati
“Hmm maklum mungkin karena dia selebritis banyak nomor iseng lalu dia biarkan saja jika nomor asing masuk.” Gumam Bang Bule lalu dia menulis pesan teks. Yang mengatakan kalau dia Vincent akan berbicara ada hal penting.
Pesan terkirim akan tetapi sudah beberapa menit berlalu tidak ada respons dari Anneke. Bang Bule menaruh hand phone nya di atas meja lalu dia merebahkan tubuhnya pada kursi rotan panjang itu.
“Hmmm apa yang harus aku lakukan. Kalau Ixora memang dijodohkan dan Ixora setuju dengan perjodohan itu.” Gumam Bang Bule sambil pikirannya menerawang, dia masih mengira Ixora sudah mengetahui perjodohan itu.
“Bisakah aku mengiklaskan Ixora hidup dengan laki laki brengsek yang tampak baik itu.” Ucap Bang Bule dengan nada emosi mengingat rekaman yang tadi dia lihat.
Saat Bang Bule masih berpikir pikir terdengar suara dering di hand phone nya. Dia bangkit berdiri dengan malas sebab suara deringnya bukan suara dering dari My Baby Ixora tercinta.
__ADS_1
Bang Bule melihat di layar hand phone nya tertera tulisan nama Anneke di layar nya. Bang Bule dengan malas meraih hand phone nya dan dia geser tombol hijau.
“Hallo Bang Vincent, maaf aku tadi tertidur ini baru saja bangun.” Ucap Anneke dengan suara sexy suara khas orang bangun tidur. Dia tadi memang setelah bermesraan dengan Carol dan sepulangnya Carol dia langsung tidur.
“Kaget dan sangat senang dihubungi oleh Bang Vincent. Ada perlu apa Bang?” tanya Anneke selanjutnya
“An, tolong kirim bukti rencana perjodohan itu pada aku.” Ucap Bang Bule
“Tapi Bang...” ucap Anneke tampak berpikir pikir. Dia bingung sebab Carol melarang dirinya membocorkan rahasia itu.
“Okey Okey akan aku berikan asal Bang Vincent datang ke rumahku.” Ucap Anneke selanjutnya sambil tersenyum.
“Apa susahnya jika mengirimkan saja sekarang.” Ucap Bang Bule yang berpikir Anneke bisa mengirimkan lewat hand phone, sebab kalau dipikir dia sangat malas menemui Anneke.
Bang Bule dan Anneke pun melanjutkan perbincangan nya untuk mengatur waktu pertemuan mereka. Dan setelahnya mereka menyudahi perbincangan nya.
“Hmmm tidak masalah aku berikan itu pada Bang Vincent asal dia tidak berkata jika itu dari aku. Hmmm siapa tahu Bang Vincent juga mau bermesra mesra denganku. Pasti besar dan panjang mantap mantap miliknya.. owhhh..” gumam Anneke dengan ekspresi wajah mesumnya.
Sementara itu di mansion Willam, tepatnya di kamar Ixora. Gadis cantik itu masih terbaring di tempat tidur dengan penjagaan ketat.
Satu orang perawat yang didatangkan oleh Dokter pribadi keluarga William, selalu menjaga Ixora. Nyonya William pun hampir setiap waktu juga berada di dekat puteri keduanya itu.
__ADS_1
Dan hal itu benar benar membuat Ixora tidak bisa memegang hand phone khususnya. Hand phone pemberian dari Bang Bule yang khusus digunakan untuk berkomunikasi dengan Bang Bule.
“Hmm nanti kalau perawat itu sudah tidur aku akan menghubungi Bang Bule. Kasihan dia tidak tahu aku sudah dipindah Papa ke mension.” Gumam Ixora dalam hati sambil menatap Sang perawat dan Sang Mama yang sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya.
“Ix, nanti aku tidur di kamar Papa, kamu dijaga perawat ya.. Papa sudah ngambek berhari hari tidur sendiri sudah uring uringan terus.” Ucap Nyonya William sambil menatap Ixora yang terbaring. Sang Papa yang dibuat alasan padahal Nyonya William pun juga sudah rindu goyang goyang enak.
“Ya Ma, Ixora tidur sendiri juga tidak apa apa.” Ucap Ixora yang masih terbaring dengan tangan kanannya masih dengan alat alat medis pelindung dan diistirahatkan di atas tempat tidur. Ixora pun senang jika tidur sendiri bisa bebas menghubungi Bang Bule meskipun dengan tangan kirinya.
“Ooooh no no.. harus ada yang jaga kamu, tangan kananmu belum boleh bergerak dulu. Kalau kamu sewaktu waktu memerlukan sesuatu ada yang membantumu.” Ucap Nyonya William sambil telunjuk jari tangannya digerak gerakkan ke kiri dan ke kanan sebagai kode dia tidak akan membiarkan Ixora tidur sendirian di kamar.
Dan waktu pun berlalu, malam semakin larut. Ixora pura pura tidur agar Sang perawat pun segera tidur.
Mata Ixora terpejam akan tetapi telinga nya terpasang untuk mendengarkan setiap gerakan sang perawat. Terdengar langkah kaki sang perawat berjalan mendekati nya.
Sang perawat membenarkan letak tangan kanan Ixora dan juga letak selimut Ixora juga letak bantal Ixora. Jantung Ixora berdebar debar sebab tote bag nya dia taruh di bawah bantal nya. Dia tadi minta tolong Dealova yang membawakan tote bag berisi hand phone dan beberapa buku berada di dalamnya.
“Hmm untung tidak dijauhkan dari aku.” Gumam Ixora yang matanya sedikit membuka tanpa diketahui oleh Sang perawat. Dia melihat tote bag nya masih aman di bawah bantal.
Dan akhirnya waktu yang dinanti oleh Ixora pun tiba. Sang perawat itu sudah tertidur lelap. Ixora dengan tangan kirinya mengambil tote bag nya. Lalu dia masukkan tangan kirinya ke dalam tote bag itu, dia selipkan hand phone khususnya di dalam buku. Lalu dia ambil buku yang di dalamnya sudah ada hand phone khususnya itu. Dia lakukan begitu agar jika Mama dan Papa melihat rekaman CCTV tampak dia hanya mengambil buku.
Dengan pelan pelan Ixora bangun, tangan kiri nya membawa buku berisi hand phone, dia berjalan menuju ke kamar mandi tempat yang aman dari pantauan CCTV.
__ADS_1
Sesampai di kamar mandi Ixora duduk di kloset yang bersih, kering dan wangi. Dengan segera dia mengaktifkan hand phone nya.