
Waktu pun terus berlalu dan sesuai dengan keputusan dari Bang Bule. Eveline yang melatih Ixora dan Richardo selalu mengawasi dan menemani mereka berdua. Dan hingga pada akhirnya Ixora pun sudah mahir menggunakan segala jenis senjata api. Karena kecerdasan dan motivasi yang tinggi untuk melindungi dirinya, maka dengan cepat dia bisa melakukan hal itu.
Tugas penelitian nya yang untuk lomba tingkat internasional pun sudah hampir selesai. Sudah memasuki tahap akhir. Karena Isomah mendapatkan kebebasan dalam menggunakan laboratorium, secara sembunyi sembunyi dan di sela sela waktu nya dia juga melakukan penelitian sampingan. Salah satu penelitian sampingan yang dia seriusi adalah penelitian membuat senjata biologi dari zat zat racun atau zat yang menimbulkan alergi yang terkandung dari bahan bahan tumbuh tumbuhan. Termasuk dia juga membuat penelitian untuk penawar nya.
“Hmmm sepertinya ini yang sangat membuat kulit menjadi sangat gatal setelah terjadi kontak.” Ucap Isomah sambil tersenyum puas dengan hasil penelitian sampingan nya, yang sudah di uji coba pada tikus tikus sebagai binatang korban untuk penelitian nya.
“Okey ini yang aku lanjutkan. Besuk coba buat penelitian dari bahan yang membuat mata buta sementara waktu.” Ucap Isomah sambil tersenyum.
“He.. he.. harus pesan tikus lagi pada Pak Wagiman.” Ucap Isomah sambil tertawa kecil.
Saat Isomah masih berjibaku dengan alat alat laboratorium untuk membuat penelitian sampingan nya. Tiba tiba ada suara ketukan di dinding kaca ruang laboratorium nya.
Isomah pun menoleh ke arah suara itu.
“Bu.” Ucap Isomah dengan ekspresi kaget saat melihat sosok Ibu Dosen Retno berdiri di luar ruang laboratorium. Dia tidak menyangka Ibu Dosen Retno akan berkunjung di laboratorium tempat dia melakukan penelitian sebab hari ini adalah hari libur.
Keringat Isomah pun mulai keluar di dahi nya padahal ruang laboratorium itu ber AC. Isomah dengan segera memberesi alat alat laboratorium yang masih berada di atas meja praktikum.
“Apa kamu masih sibuk Is?” teriak Ibu Dosen Retno dari luar sebab pintu laboratorium dikunci oleh Isomah. Isomah tidak menjawab dan dengan cepat dia memberesi. Namun tiba tiba..
DUG
“Haduh..” gumam Isomah saat ada satu buah tabung reaksi yang mengelimpang dan serbuk serbuk isinya tumpah.
“Sebentar Bu!” teriak Isomah. Ibu Dosen tidak melihat apa yang ada di atas meja praktikum sebab tertutupi oleh tubuh Isomah yang memakai jas laboratorium.
__ADS_1
“Selesaikan, aku tunggu di luar ya. Ada yang penting!” teriak Ibu Dosen Retno lalu melangkah pergi.
“Iya Bu.” Teriak Isomah.
“Untung aku memakai sarung tangan pelindung.” Gumam Isomah lalu memberesi serbuk yang tumpah itu. Serbuk senjata biologi nya yang bisa membuat kulit menjadi gatal luar biasa.
“Meskipun sudah aku buat juga penawar nya tetap sayang lah jika aku gatal gatal gara gara senjata makan Nona he... he...” ucap Isomah sambil tertawa kecil dan dengan cepat namun kini lebih hati hati dia membereskan semua barang barang yang digunakan untuk penelitian sampingan nya itu. Setelah mencuci bersih dan menaruh kembali alat alat laboratorium itu pada tempatnya. Dia lalu menaruh materi materi penelitian nya pada locker yang sudah disewa nya. Dia kunci locker tersebut lalu dia pun berjalan menuju ke pintu laboratorium. Tidak lupa tote bag nya sudah dicangklong berada di salah satu bahu nya.
Pelan pelan Isomah membuka kunci pintu laboratorium dan dengan hati hati pula Isomah menarik daun pintu yang sebagian besar terbuat dari kaca tebal itu. Isomah lalu melangkah keluar dan berjalan meninggalkan ruang laboratorium itu. Tidak lupa sudah mengunci kembali pintu laboratorium itu.
“Bu Retno menunggu di mana ya?” tanya Isomah dalam hati pada diri nya sendiri , sebab bangku di luar ruangan kosong tidak ada satu orang pun menduduki nya. Dan Isomah pun terus berjalan di sepanjang koridor gedung laboratorium itu.
“Is...” teriak suara Ibu Dosen Retno dari belakang. Isomah pun menghentikan langkahnya dan menoleh.
“Ibu menunggu di mana tadi kok di bangku luar ruangan tidak ada?” tanya Isomah setelah Ibu Dosen Retno sudah berjalan di dekat nya.
“Is, penelitian kan sudah tahap akhir. Panitia lomba minta kita melengkapi segala administrasi termasuk paspor kamu.” Ucap Ibu Dosen Retno sambil terus berjalan di samping Isomah.
“Kalau kamu belum memiliki paspor tolong segera urus untuk pembuatan nya.” Ucap Ibu Dosen Retno selanjutnya
“Iya Bu.” Jawab Isomah sambil terus melangkah
“Terus Ibu juga mau berkunjung ke rumah orang tua kamu. Untuk mendapatkan izin kamu pergi ke luar negeri untuk presentasi hasil penelitian nanti.” Ucap Ibu Dosen Retno lagi yang membuat jantung Isomah rasanya berhenti berdetak.
DEG
__ADS_1
Isomah pun menghentikan langkah kaki nya dan Ibu Dosen Retno yang melihat pun turut serta menghentikan langkah kaki nya.
“Untuk masalah paspor bisa bilang ke Papa biar orang Papa yang mengurus dengan segala cara nya. Tapi untuk ke rumah.” Gumam Isomah dalam hati sambil tangannya menggaruk garuk dahi nya yang mendadak terasa gatal.
“Bu, orang tua saya sudah mengizinkan kok. Ibu tidak usah berkunjung ke rumah saya.” Ucap Isomah selanjutnya sambil menoleh ke arah Ibu Dosen Retno
“Is, kamu tidak perlu malu dengan kondisi rumah dan orang tua kamu.” Ucap Ibu Dosen Retno sambil memeluk pundak Isomah dari samping.
“Iya Bu, nanti saya bilang ke orang tua saya kapan mereka siap kedatangan Ibu.” Ucap Isomah selanjutnya
“Ah nanti saja dipikirkan atau aku nanti bilang Mama dan Papa.” Gumam Isomah dalam hati.
“Baiklah, ayo aku antar kamu pulang ke kost.” Ucap Ibu Dosen Retno selanjutnya dan Isomah pun menganggukkan kepalanya. Mereka berdua lalu berjalan menuju ke tempat mobil Ibu Dosen terparkir.
Sementara itu di lain tempat di sebuah ruang an misterius terdengar suara dua orang laki laki misterius sedang berbicara serius.
“Tuan perempuan itu masih terus melakukan penelitian nya. Apa nanti hasil penelitian itu tidak membahayakan bisnis Tuan.” Suara salah satu laki di dalam ruangan misterius itu
“Biar saja. Tapi dia tidak bisa pergi ke luar negeri untuk melanjutkan penelitian nya. Paling hasil penelitian nya cuma numpuk di perpustakaan tidak ada investor yang mendanai. Seperti hasil penelitian mahasiswa lainnya apalagi dia mahasiswa miskin dan jelek. Meskipun cerdas tidak ada nilai jual nya. Investor tidak akan tertarik.” Suara laki laki yang lain dengan jenis suara yang lebih berat dari yang tadi bersuara.
“Kenapa bisa begitu Tuan?” suara laki laki yang pertama tadi bertanya.
“Aku sudah bayar pada orang dalam agar mahasiswa itu tidak bisa mendapatkan paspor ha... ha.... ha.....” suara laki laki yang berjenis suara lebih berat, lalu terdengar suara tawa nya
“Dan Tuan tetap menjadi raja di raja ha... ha.... ha...” suara laki laki satu nya dan juga turut tertawa
__ADS_1
“Iya semua manusia merogoh kocek nya dan masuk ke dalam pundi pundi ku ha... ha... ha...” suara berat laki laki dan selanjutnya terdengar suara tawa terbahak bahak.