
Waktu pun terus berlalu, Bang Bule terus berusaha untuk bisa menemui Ixora akan tetapi selalu saja gagal. Berkali kali dia hilir mudik dengan vespa tua nya dengan berpenampilan sebagai Kakek Penjual Obat melewati jalan di lokasi sekitar mansion William dengan harapan Nyonya William atau pak Wagiman melihatnya lalu dia disuruh masuk ke dalam mansion. Namun harapan hanya tinggal harapan.
Bang Bule pun berusaha untuk meminta bantuan Vadeo, Alexa dan Dealova akan tetapi sama saja ketiga orang itu tidak bisa membantu Bang Bule karena penjagaan Ixora semakin ketat.
Dan di suatu hari setelah Nyonya Jansen selesai memberesi meja makan sehabis serapan. Beliau berjalan menuju ke kamar Bang Bule.
“Vin, Mama kemarin sudah memesankan tiket pulang buat aku dan kamu.” Ucap Nyonya Jansen setelah masuk ke dalam kamar Bang Bule yang tidak terkunci.
“Ma, tolong ditunda dulu Ma.” Pinta Bang Bule yang duduk di kursi kerjanya sambil menatap layar lap topnya. Dia masih berusaha untuk mencari cara agar bisa menemui Ixora.
“Tidak bisa. Dengar Mamamu ini sekali lagi. Dengan kamu pulang ke Belanda siapa tahu kamu menemukan gadis lain di sana.” Ucap Nyonya Jansen dengan nada tinggi sambil menatap anak laki lakinya.
“Siapa tahu juga orang tua Ixora terbuka matanya, setelah kamu pergi jauh.” Ucap Nyonya Jansen selanjutnya dengan nada suara melemah sebab dia melihat wajah Bang Bule menegang dan matanya memerah.
“Kalau kamu hanya di sini dan terus gelisah namun masalah tidak selesai sama saja.” Ucap Nyonya Jansen lagi.
“Ma, aku juga punya pekerjaan di sini di sana aku kerja apa.” Ucap Bang Bule sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
“Kamu urus sapi perah di Belanda, kalau kamu menjadi pengusaha sukses siapa tahu orang tua Ixora jadi mau mempunyai menantu kamu.” Ucap Nyonya Jansen selanjutnya sambil tersenyum. Di Belanda keluarga Jansen memang memiliki peternakan sapi perah.
“Kapan kita berangkat Ma?” tanya Bang Bule selanjutnya yang mulai mengalah. Karena sia sia membantah Sang Mama.
“Nanti siang.” Ucap Nyonya Jansen lalu berjalan menuju ke lemari Bang Bule.
“What?” teriak Bang Bule dengan ekspresi kaget dan secara spontan menoleh menatap Sang Mama.
__ADS_1
“Maka ini Mama bantu kamu mengemasi barang barang mu.” Ucap Nyonya Jansen sambil mengeluarkan pakaian pakaian Bang Bule.
“Ma, kenapa mendadak begini?” tanya Bang Bule sambil menggaruk garuk kepalanya.
“Mendadak bagaimana bukannya sudah satu minggu lalu aku bicarakan pada kamu.” Ucap Nyonya Jansen tanpa menoleh ke arah Bang Bule, beliau masih sibuk memilih milih pakaian Bang Bule yang akan dikemas .
“Aku kan sudah katakan kalau dalam waktu satu minggu kamu tidak bisa mempertemukan aku dengan Ixora , kita pulang ke Belanda.” Ucap Nyonya Jansen lagi dengan tangannya yang terus bekerja
“Ma, tunda dulu..” ucap Bang Bule sambil bangkit berdiri
“Tidak bisa.” Ucap Nyonya Jansen
“Kamu sekarang hubungi Richardo kamu serahkan segala pekerjaanmu pada dirinya.” Ucap Nyonya Jansen yang kini menatap wajah anak laki lakinya.
Bang Bule terlihat mengusap wajahnya dengan kasar. Dia mengambil hand phonenya. Lalu dia mengusap usap layar hand phone akan tetapi dia tidak menghubungi Richardo namun dia mengetik ngetik untuk menulis pesan teks pada Dealova.
TING
Pesan terkirim akan tetapi hanya centang satu.
“Hmmm Dealova paling sedang jam pelajaran.” Gumam Bang Bule. Lalu dia terlihat kembali sibuk dengan hand phone nya untuk menghubungi Richardo membicarakan masalah pekerjaan. Dan setelahnya dia dan Sang Mama terlihat sibuk untuk menyiapkan kepulangannya. Bang Bule melakukan semua dengan berat hati.
Sedangkan di lain tempat Dealova yang sedang mengikuti pelajaran di kelasnya belum tahu ada pesan teks masuk di hand phone nya. Sebab saat mengikuti pelajaran hand phone memang tidak boleh di aktifkan.
Dan waktu pun terus berlalu. Di saat jam istirahat. Dealova mengaktifkan hand phone nya. Setelah semua program aktif terlihat ada notifikasi pesan masuk di aplikasi chatting nya.
__ADS_1
“Bang Bule.” Gumamnya saat melihat ada pesan masuk dari Bang Bule. Dan dengan segera Dealova membuka dan membacanya.
“Haduh bagaimana ini?” tanya Dealova pada dirinya sendiri. Amara yang duduk di sampingnya tampak menoleh lalu bertanya ada masalah apa dengan sahabatnya itu.
“Kasihan Kak Ixora ditinggal pulang Bang Bule ke Belanda, Kak Ixora tidak pegang hand phone.” Ucap Dealova. Dan Amara menyarankan Dealova menghubungi Sang Mama atau pelayan di Mansion.
“Tidak mungkin aku nelpon Mama agar menyampaikan pada Kak Ixora. Pelayan juga tidak berani menyampaikan.” Ucap Dealova
“Mana habis istirahat ada test lagi.” Ucap Dealova lagi. Lalu dia bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruang kelas, untuk mencari tempat yang aman guna menelepon Bang Bule. Amara sahabatnya pun turut mengikuti langkah kaki Dealova.
Dealova lalu terlihat menelepon Bang Bule, menanyakan tentang kebenaran berita nya dan menanyakan kepastian jadwal penerbangan nya.
“Iya iya Bang, nanti aku ijin pulang tapi habis aku ikut test dulu ya. Kalau ikut test menyusul test sendiri aku bisa terkencing kencing karena ditunggui Guru dari dekat.” Suara Dealova setelah mendapatkan kepastian kabar dari Bang Bule.
“Paling tidak nanti Kak Ixora bisa menelepon Bang Bule sebelum Bang Bule berangkat, agar dia tidak kecewa. Nanti aku cari cara dech agar Kak Ixora bisa menghubungi Bang Bule pakai hand phone ku.”
Dan benar setelah Dealova mengikut test harian salah satu mata pelajarannya. Dia lalu izin pulang dengan alasan sakit perut. Dealova juga menghubungi sopir keluarga William agar segera menjemput dirinya ke sekolah karena dia akan segera pulang karena sakit perut.
Di pintu gerbang sekolah Dealova berdiri menunggu mobil jemputan untuk pulang ke mansion William.
“Gimana ya caranya nanti agar Kak Ixora bisa berkomunikasi dengan Bang Bule.” Gumam Dealova sambil mengetuk ngetuk dahinya dengan ujung jarinya.
“Non, katanya sakit perut kok yang diketuk ketuk kepalanya. Sakit perut apa sakit kepala?” tanya petugas penjaga pintu gerbang sekolah.
“Sakit perut nya sampai bikin pusing Pak.” Jawab Dealova
__ADS_1
..
Bersambung