
“Ma, tolong jelaskan pada Vincent apa yang sedang terjadi. Mama mendapat informasi apa? Mendadak ke Indonesia dan marah marah pada aku?” tanya Bang Bule sambil duduk di tepi tempat tidurnya dan tangannya memegang erat kupingnya agar tidak direbut lagi oleh Mamanya.
“Aku sebenarnya sudah senang mendengar kamu sudah memiliki kekasih. Aku jauh jauh datang ke sini aku ingin berkenalan dan melihat kekasihmu yang masih kuliah itu.” Ucap Nyonya Jansen dengan nada serius sambil menatap wajah Bang Bule.
“Dan akhirnya aku sudah melihat kekasihmu itu, dia cantik, masih muda, mau kerja urusan domestik juga. Mama suka.” Ucap Nyonya Jansen dengan bibir tersenyum. Sedangkan Bang Bule yang mendengar ucapan Sang Mamanya mengeryitkan dahinya akan tetapi dia masih menunggu agar Sang Mama menyelesaikan penjelasannya.
“Tapi Vin kamu itu keterlaluan hidup dalam satu rumah tanpa menikah itu sangat memalukan.” Ucap Nyonya Jansen selanjutnya dengan nada emosi sambil menatap tajam Bang Bule.
“Mama kenalan sama siapa? Kekasih ku? Apa Mama sudah menjenguknya ke rumah sakit? Bagaimana Mama bisa tahu dan kenal dia?” tanya Bang Bule yang sudah tidak sabar ingin meminta kejelasan dari ucapan Sang Mama yang membuat dirinya bingung.
“Hah tidak usah muter muter. Ayo ikut aku!” teriak Nyonya Jansen sambil bangkit berdiri dan menarik tangan Bang Bule.
“Papa akan segera aku hubungi agar dia segera menyusul ke sini dan melamar kekasihmu itu.” Ucap Nyonya Jansen sambil terus menarik tangan Bang Bule Vincent dan berjalan keluar dari kamar Bang Bule Vincent. Bang Bule pun hanya bisa menurut mengikuti Sang Mama.
Saat mereka berdua sudah berjalan di ruang tengah, mereka berdua berpapasan dengan anak buah Bang Bule yang tadi membersihkan kamar untuk Nyonya Jansen.
“Mam, kamar sudah beres sudah bersih rapi. Dibantu Nency jadi cepat selesai.” Ucap anak buah Bang Bule itu.
“Mana anak perempuan itu?” tanya Nyonya Jansen sambil menatap anak buah Bang Bule sedangkan tangannya masih saja menarik tangan kekar Bang Bule.
“Sudah ke gedung belakang.” Jawab anak buah Bang Bule sambil dia menatap heran dua orang ibu dan anak itu. Apalagi tampak Bang Bule tidak bisa menolak tangannya terus ditarik oleh Nyonya Jansen.
“Ayo Vin!” teriak Nyonya Jansen sambil menarik tangan Bang Bule lebih kuat dan berjalan keluar dari rumah dan menuju ke gedung belakang tempat orang orang binaan berada.
__ADS_1
“Mama pasti salah paham.” Ucap Bang Bule sambil terus mengikuti langkah kaki Sang Mama
“Hah! Kamu pasti hanya beralasan hanya mau enak enak tidak mau bertanggung jawab.” Ucap Nyonya Jansen sambil terus melangkah
“Kurang ajar! Godverdomme!” umpat Nyonya Jansen lagi pada Bang Bule
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah memasuki pintu utama gedung belakang.
“Mana Nency?” tanya Nyonya Jansen pada anak buah Bang Bule yang bertugas menjaga orang orang binaan.
Anak buah Bang Bule pun segera memanggil Nency. Dan tidak lama kemudian Nency datang dengan senyuman menghiasi bibirnya. Dia mengira Nyonya Jansen sudah berhasil membujuk Bang Bule.
“Dia kan anaknya?” ucap Nyonya Jansen sambil menoleh menatap Bang Bule.
“Mama sudah dibohongi dia.” Ucap Bang Bule lagi dengan lantang.
“Aku akan perberat hukumanmu. Jangan lagi kamu menginjakkan kaki ke dalam rumah.” Ucap Bang Bule sambil menatap tajam ke wajah Nency.
“Aku tidak melakukan kerangkeng pada kalian semua karena aku masih menghargai hak azazi kalian sebagai manusia. Tetapi kalau kalian membuat masalah lagi, aku serahkan kalian pada polisi agar kalian masuk penjara.” Teriak Bang Bule dengan keras agar semua orang binaan yang ada di gedung itu mendengar.
“Ayo Ma, aku jelaskan yang sesungguhnya terjadi.” Ucap Bang Bule dengan nada melunak sambil menarik tangan Sang Mama. Kini Nyonya Jansen yang ganti nurut pada anaknya. Dia pun tadi merasa takut saat anaknya berkata keras.
Bang Bule dan Nyonya Jansen terus berjalan menuju ke dalam rumahnya. Dan selanjutnya mereka berdua masuk ke kamar Bang Bule.
__ADS_1
Bang Bule menutup pintu kamarnya. Nyonya Jansen terlihat berjalan menuju ke kursi rotan panjang legendaris itu. Lalu beliau duduk di situ untuk menunggu Bang Bule.
Sesaat kemudian Bang Bule sudah duduk di samping Sang Mama. Bang Bule pun menceritakan perbuatan Reyvan dan Nency pada Ixora kekasihnya. Akan tetapi Bang Bule tidak mengatakan jika kekasihnya itu Ixora William anak seorang pengusaha terkenal. Bang Bule juga menceritakan jika orang tua kekasihnya tidak merestuinya bahkan terjadi salah paham setelah kejadian di malam perpisahan itu.
“Hah? Kenapa urusan cintamu rumit begitu. Kalau kamu sudah berbuat baik untuk menolong kenapa malah kamu yang disalahkan.” Komentar Nyonya Jansen setelah Bang Bule selesai bercerita.
“Pasti hanya untuk alasan saja dia tidak mengizinkan kamu mendekati anak perempuannya. Pasti dia tidak menginginkan kamu menjadi menantunya.” Ucap Nyonya Jansen sambil memeluk tubuh Bang Bule. Dia merasa turut prihatin dan sedih anak laki lakinya tidak direstui cintanya oleh orang tua sang gadisnya.
“Sudah tinggalkan saja. Ayo pulang ikut Mama, banyak perempuan cantik dan baik di negeri asalmu Vin.” Ucap Nyonya Jansen sambil menghapus air matanya sebab tanpa dia sadari air matanya tadi meleleh.
“Mama sakit hati dengan perlakuan orang tuanya kepada kamu.” Ucapnya kemudian.
“Mama akan jual rumah besar ini. Biar Richardo atau Eveline yang membelinya kalau mereka akan melanjutkan pekerjaanmu ini.” Ucap Nyonya Jansen selanjutnya, dia sudah bertekat untuk membawa pulang Bang Bule dan menjual rumah peninggalan orang tuanya.
“Ma, please Ma beri waktu pada Vincent untuk menunjukkan pada orang tuanya kalau aku sungguh sungguh mencintainya dan akan selalu menjaga anaknya.” Ucap Vincent yang tidak rela berpisah dengan Ixora dan juga pekerjaan nya.
“Hmmm sampai kapan? Sampai kamu jadi Kakek Kakek?” tanya Nyonya Jansen
“Ma.. sabar Ma...” ucap Bang Bule sambil mengusap usap punggung Sang Mama agar Sang Mama sedikit reda emosinya.
“Sabar ada batasnya.” Ucap Nyonya Jansen tanpa menatap Bang Bule.
"Usia kita semakin bertambah. Mama dan Papa semakin menua, kamu pun juga. Sahabatmu Vadeo juga sudah menikah, anak anak teman Mama di Belanda juga banyak yang sudah menikah. Sedangkan kamu masih menunggu restu yang tidak tentu.." ucap Nyonya Jansen lagi sambil terus menatap Bang Bule.
__ADS_1
“Ma, orang sabar disayang Allah.. Akan diberi kesehatan, panjang umur dan banyak rejeki.” Ucap Bang Bule sambil menatap Sang Mama agar Mamanya memberi lebih banyak waktu untuk dirinya.