Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 44. Tiga Perempuan Asing


__ADS_3

Sementara itu di rumah sakit, Bang Bule dengan gelisah menunggui Ixora yang sedang di dalam ruang operasi.


“Semoga Ixora tidak kekurangan darah. Kalau kekurangan darah bisa ketahuan identitasnya jika stok darah di rumah sakit ini juga habis.” Gumam Bang Bule dalam hati.


Jika ada perawat membuka pintu ruang operasi jantung Bang Bule berdebar debar. Kuatir ada panggilan untuk keluarga Isomah. Dan benar tidak lama kemudian seorang perawat muncul di depan pintu.


“Keluarga pasien Isomah.” Suara perawat itu dengan lantang.


“Saya.” Ucap Bang Bule sambil bangkit berdiri dan berjalan mendekati Sang perawat yang memanggil.


“Operasi sudah berjalan dengan lancar. Tinggal menunggu pasien sadar. Bapak tunggu di pintu keluar ruang operasi, pasien akan dibawa ke ruang perawatan.” Ucap sang perawat. Bang Bule pun hanya mengangguk angguk dia kehabisan kata kata karena rasa bahagia akhirnya Ixora segera mendapat penanganan, dan operasi berjalan lancar.


“Telima kasih..” hanya itu kata yang terucap dari mulut Bang Bule sambil menganggukkan kepala lalu dia berjalan menuju ke pintu keluar ruangan operasi.


Bang Bule berdiri di depan pintu, menunggu pintu ruang itu terbuka. Meskipun sudah mendapat informasi jika operasi Ixora sudah selesai dan berjalan dengan lancar akan tetapi Bang Bule tetap jantungnya berdebar debar menunggu pintu terbuka.


Beberapa menit kemudian pintu keluar ruang operasi itu terbuka. Sebuah brankar keluar ditarik dan didorong oleh dua perawat. Bang Bule melihat pasien yang berada di dalam brankar itu akan tetapi tidak terlihat sebab wajahnya posisinya miring ke arah berlawanan dengan bang Bule. Seorang pasien perempuan muda kepala masih tertutup penutup kepala dan tubuh tertutup hingga batas leher.


“Apa itu pasien Isomah?” tanya Bang Bule pada perawat.


“Bukan Pak.” Jawab perawat yang mendorong brankar itu.


Bang Bule pun kembali berdiri menunggu di depan pintu yang kini sudah tertutup lagi. Bang Bule memegang dadanya karena jantungnya masih saja berdebar debar. Dan tidak lama kemudian pintu terbuka lagi. Muncul satu orang perawat yang sedang menarik sebuah brankar. Bang Bule melonggokkan kepalanya untuk melihat orang yang ada di atas brankar. Kali ini dia tersenyum sebab dia sudah sangat mengenali wajah yang ada di atas brankar itu. Wajah Isomah yang tanpa kaca mata sebab kaca mata Isomah diserahkan pada Bang Bule oleh perawat saat Isomah akan menjalani operasi. Akan tetapi make down yang anti luntur oleh keringat masih membuat orang tidak mengenali jati diri Ixora.

__ADS_1


Brankar Isomah ditarik dan didorong oleh perawat keluar dari ruang operasi.


“Pasien Isomah ya Sus?” tanya Bang Bule sambil mengikuti brankar itu.


“Benar Pak.” Jawab perawat itu. Dan mereka pun segera berjalan menuju ke ruang rawat untuk Isomah.


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di depan ruang rawat Isomah. Perawat membuka pintu kamar itu dan segera memasukkan brankar Isomah.


“Pak, kalau sudah sadar berikan pasien air mineral dan segara panggil Dokter ya.” Ucap Perawat setelah mengatur tempat tidur Isomah. Bang Bule menganggukkan kepala dan kedua perawat itu pun pergi meninggalkan ruang rawat Isomah.


Bang Bule menarik satu kursi dan dia dekatkan pada tempat pembaringan Isomah. Dia lalu duduk di kursi itu sambil memandangi wajah Ixora yang berpenampilan sebagai Isomah. Dia usap usap tangan Isomah yang tidak sakit.


“Beb... “ gumam Bang Bule dia terharu pada Ixora yang sedang menjadi Isomah dan harus mengalami kecelakaan. Dia kesulitan untuk menghubungi keluarga aslinya agar identitasnya tidak diketahui.


“Bang....” ucap lirih Ixora akan tetapi mata masih terpejam.


“Beb.. Aku di sini.” Ucap Bang Bule sambil mencium tangan Ixora.


Ternyata Ixora hanya mengigau, dia belum sadar sebab Dia hanya mengucapkan satu kata itu dan mata masih terus terpejam. Bang Bule hatinya bahagia sebab dalam igauannya Ixora memanggil namanya. Akan tetapi semoga saja benar panggilan Bang untuk Bang Bule. Bukan Bang Bakso, Bang Siomay dan Bang Bang lain lainnya.. Ah atau mungkin bisa saja Ixora mengigau memanggil Bang Ojol yang sudah dibatalkan. Hanya Ixora yang tahu dia memimpikan apa dalam alam bawah sadarnya.


Sementara itu di mansion Willam ketiga perempuan itu masih heboh dalam melakukan make down pada penampilan nya.


“Aku tuh sudah dasarnya cantik paten mau di make down dengan bagaimana pun tetap saja cantik.” Ucap Dealova narsis sambil memandangi wajahnya yang sudah selesai di make down.

__ADS_1


“Yang cantik paten itu induknya Deal, sudah mau punya cucu masih cantik kayak gadis.” Ucap Nyonya William tidak mau kalah.


Saat mereka sudah selesai melakukan make down pada wajahnya lalu mereka memakai pakaian yang mereka pinjam dari para pelayan, sebab pakaian Alexandria saat menjadi Sandra sudah dibawa oleh Ixora semua.


Untuk menyempurnakan dalam menyembunyikan identitasnya mereka masih memakai masker di wajahnya di tambah kaca mata dan kerudung pada kepalanya. Pakaian yang kedodoran sudah sempurna menyembunyikan postur tubuh asli mereka bertiga.


“Sudah ayo Ma, kita lewat pintu samping. Pak Wagiman sudah menunggu di sana dan sudah memesan taxi on line.” Ucap Alexandria lalu dia berjalan menuju keluar dari kamarnya.


Saat dia keluar dari pintu terlihat sosok Vadeo yang tadi sedang keluar sekarang berjalan sedang menaiki anak tangga.


“Hai... siapa kalian berani berani masuk kamar kami?” teriak Vadeo saat melihat penampilan tiga perempuan yang tidak dia kenal. Sebab mereka meskipun meminjam pakaian pelayan akan tetapi bukan pakaian seragam pelayan. Jadi Vadeo tidak mengenalnya.


“Kakak ipar pertama ini kita kita jangan pukul ya..” suara cempreng Dealova yang sangat familiar di telinga Vadeo, lalu dia tersenyum dan segera membatalkan niatnya yang akan memukul tiga perempuan yang awalnya dikira orang orang asing itu.


“Apa ada karnaval?” tanya Vadeo sambil tersenyum lebih tepatnya menahan tawa.


“Sudah jangan banyak tanya. Ixora kecelakaan kita harus menyamar untuk melihat keadaannya.” Ucap Nyonya William lalu dia segera melangkah menuruni anak tangga.


Vadeo terlihat kaget lalu dia pun ikut berjalan di antara mereka bertiga.


“Sayang, aku ikut ya.. “ ucap Vadeo yang berjalan di belakang mereka


“Tidak usah dulu Kak. Kita lihat saja dulu. Bila nanti Ixora perlu dipindah baru kita minta pertolongan Kak Deo dan Papa.” Ucap Alexandria masih terus melangkah menuju ke pintu samping mansion.

__ADS_1


__ADS_2