
Beberapa menit kemudian mobil Bang Bule sudah memasuki halaman rumah yang sangat luas, rumah khas bangunan jaman Belanda yang masih tampak berdiri megah kokoh dan terawat.
Bang Bule memarkir mobilnya di bawah pohon yang rindang dia lalu segera membuka pintu mobil yang segera turun dari mobil. Terlihat beberapa mobil dan beberapa motor juga parkir di halaman rumah itu. Mobil anak buahnya yang tadi membawa Reyvan dan Nency pun sudah tampak parkir di halaman itu.
Bang Bule berjalan cepat setengah berlari menuju ke bangunan gedung yang ada di belakang. Bangunan yang terpisah dengan bangunan utama yang dipakai untuk tempat tinggal Vincent dan beberapa anak buahnya.
“Bang mereka sudah dibawa masuk.” ucap salah satu anak buah Bang Bule yang terlihat berjalan mendatangi Bang Bule Vincent.
“Bagus.” ucap Bang Bule lalu dia segera membuka pintu bangunan itu.
Setelah pintu terbuka tampak Reyvan dan Nency duduk di kursi yang terpisah dan berjarak. Tangan dan kaki mereka diikat.
“Aku pikir kemarin aku serahkan kasusmu pada sekolah kamu bisa menyadari tetapi ternyata malah semakin menjadi.” ucap Vincent sambil menarik dagu Reyvan.
“Ampun Bang.” ucap Reyvan yang akhirnya ikut ikut memanggil Vincent dengan sebutan Bang.
“Sekolah kadang memberi hukuman dengan mengeluarkan anak, tetapi itu tidak mengatasi masalah.” ucap Vincent
“Kamu akan aku beri hukuman sama seperti seniormu.” ucap Vincent sambil menatap tajam pada Reyvan.
“Bang tolong jangan Bang, aku belum pernah melakukan kenapa mau disuntik kebiri.” ucap Reyvan yang sudah tahu kalau Justin dan Dino, dua orang bosnya saat kasus penculikan Ixora sudah dihukum dan disuntik kebiri oleh Vincent.
“Bang tolong jangan Bang, aku nanti tidak bisa merasakan nikmatnya surga dunia.” ucap Reyvan yang mulai meleleh air matanya dia merasakan dunianya sudah kiamat membayangkan burungnya loyo karena efek suntik kebiri.
Bang Bule lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Reyvan. Sejujurnya dia tidak tega melihat ada orang yang menangis.
“Kamu lakukan itu pada bocah itu.” ucap Bang Bule sambil menatap salah satu anak buahnya.
“Siyap Bang.” ucap anak buah Bang Bule
“Yang permanen apa temporer Bang?” tanyanya kemudian dan bang Bule menjawab dengan suara berbisik agar Reyvan tidak mendengar.
“Bang yang bocah satu nya itu?” tanya anak buah Bang Vincent sambil menatap ke arah Nency
__ADS_1
“Kamu buat seperti apa yang dia buat pada Ixora.” ucap Bang Bule lalu Bang Bule melangkah meninggalkan gedung itu.
“Tolong jangan lakukan!” teriak Nency dengan suara yang sudah akan menangis
“Ampunnn... hiks...hiks..” suara Nency yang sudah mulai terisak isak.
“Tolong jangan lakukan pada saya, maafkan saya hiks...hiks....” ucap Nency terus menangis dia sudah membayangkan diberi obat perangsang lalu digilir oleh anak buah Vincent yang banyak jumlahnya.
“Hua.... hua.... hua....” Nency pun semakin keras menangisnya.
Bang Bule lalu segera berjalan menuju bangunan depan yang dia gunakan untuk tempat tinggal. Bang Bule berjalan kira kira tiga puluh meter dari pintu gedung belakang yang digunakan untuk menahan Reyvan dan Nency hingga sampai di teras rumah tempat tinggalnya.
Bang Bule menaiki anak tangga teras. Akan tetapi dia terhenti dan membalikkan badannya, dia kembali menuruni anak tangga teras. Bang Bule lalu berjalan menuju ke mobilnya yang parkir di bawah pohon.
Bang Bule dengan cepat membuka pintu mobilnya lalu dia mengambil tas mungil Ixora yang tertinggal di mobil. Setelah diambilnya, Bang Bule segera kembali melangkah menuju ke rumahnya.
Setelah membuka kunci pintu Bang Bule segera memasuki rumah dan segera berjalan menuju ke kamarnya. Dengan segera dia membuka pintu kamar, Bang Bule terus melangkah memasuki kamarnya, dia tarik tas mungil Ixora di tempat tidurnya dengan hati hati.
“Aku akan selalu melindungi kamu Beb..” ucap Vincent lalu dia berjalan menuju ke kamar mandi.
Ixora sudah diberi suntikan untuk menetralkan efek obat perangsang yang sudah diminumnya.
“Dok perlu dilakukan visum tidak?” tanya Nyonya William setelah Ixora sudah selesai ditangani oleh Pak Dokter pribadi keluarga William.
“Tidak perlu.” Jawab Pak Dokter yang setengah baya itu.
“Iya Ma, aku tidak merasakan sakit kok.” Ucap Ixora yang sudah duduk di kursi di samping Mamanya.
“Tadi katanya berdenyut denyut.” Ucap Nyonya William sambil menatap Ixora.
“Iya tadi berdenyut denyut tapi sekarang sudah tidak.” Ucap Ixora dengan nada serius
“Aku kira berdenyut denyut sakit, kata orang yang sakit gigi itu kan berdenyut denyut rasanya.” ucap Nyonya William sambil tersenyum.
__ADS_1
“Bersyukur Nona Ixora selamat lagi. Tetapi mulai sekarang pengawalan dan penjagaan harus lebih ketat.” ucap Pak Dokter dengan ekspresi wajah yang turut prihatin dengan kasus Ixora
“Kurang ketat bagaimana coba Dok, dia berangkat dengan pengawal dan sopir. Penjahatnya itu yang benar benar licik dan jahat.” Ucap Nyonya William
“Teman sendiri lagi.” Ucap Nyonya William lagi dengan nada emosi apalagi ingat moment Reyvan diarak tanpa baju dan Nency yang ada disampingnya.
“Habis minum Dok, badan saya terasa panas.” ucap Ixora mengingat awal kejadiannya.
“Iya, temanmu itu memberi obat perangsang pada minumanmu, kamu tidak tahu.” ucap Pak Dokter
“Besok lagi kamu bawa minuman sendiri dan taruh di tas jangan ada orang yang bisa menyentuh.” ucap Nyonya William masih terlihat emosi.
“Udah yok Ma, aku pengen mandi, rasanya lengket tubuhku mungkin tadi banyak keluar keringat.” ucap Ixora sambil menatap wajah Mamanya. Dan akhirnya Nyonya William pun mohon diri, mereka berdua mengucapkan terimakasih lalu bangkit berdiri dan keluar dari ruang praktek Dokter.
“Gimana Ma, jadi dilakukan visum?” tanya Tuan William sambil bangkit berdiri saat istri dan anaknya sudah keluar dari ruang praktek Dokter.
“Tidak Pa, masih aman.” jawab Nyonya William sambil menggandeng lengan Ixora. Mereka bertiga segera berjalan menuju ke tempat mobil terparkir.
Tuan William segera membuka pintu mobilnya saat sudah berada di dekat mobilnya, demikian juga Ixora yang ingin segera sampai mension dan ingin segera mandi. Sementara Nyonya William terlihat masih berjalan memutari mobil bagian depan. Dan sesaat kemudian Nyonya William membuka pintu mobil bagian depan. Kini dia duduk di jok depan di samping suami nya.
“Ma, tas ku di mana?” tanya Ixora saat Sang Mama sudah masuk ke dalam mobil sambil mencari cari tas kecilnya.
Nyonya William pun menoleh ke belakang turut mencari tas kecil Ixora. Tuan William yang sudah memanaskan mobil tidak jadi menjalankan mobilnya.
“Tertinggal di ruang praktek Dokter tidak?” tanya Tuan William tanpa menoleh kedua tangannya pun masih memegang kendali mobilnya.
“Kamu balik sana ke ruang praktek Dokter!” perintah Nyonya William sambil menoleh ke arah Ixora. Ixora pun segera membuka pintu mobil dan berlari menuju ke rumah pak Dokter sebab ruang praktek sudah tutup.
Terlihat Ixora diantar oleh Pak Dokter menuju ke ruang praktek lagi untuk mengecek tas Ixora. Beberapa menit kemudian mereka berdua keluar dengan tidak membawa tas yang dia cari. Ixora pun segera berlari menuju ke mobil Papanya. Dengan segera dia membuka pintu mobil dan segera masuk ke dalam mobil.
“Tidak ada Ma.” ucap Ixora dengan nafas yang terdengar karena habis berlari. Tuan William pun mulai menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah Pak Dokter.
“Pasti tertinggal di mobil Bule itu.” gumam Nyonya William.
__ADS_1
“Kita ke rumah Bang Bule dulu untuk ambil tas ya Pa...” ucap Ixora