
Nindy terus melajukan motor matic nya, dia menambah lagi kecepatan nya. Isomah jantung nya berdebar debar sebab dia terbiasa diboncengkan oleh Pak Wagiman dengan kecepatan sedang dan cenderung lebih sering dengan kecepatan pelan pelan.
Isomah pun juga berdebar debar karena hari semakin sore. Dan jalan sudah mulai ramai karena beberapa kantor sudah mulai tutup dan karyawannya sudah mulai keluar dari kantor.
Dan tiba tiba...
CIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTT
Nindy mengerem sepeda motor nya dengan mendadak.
JEDUKKKKK
Isomah tubuhnya terhuyung ke depan, dan helm Isomah pun berbenturan dengan helm Nindy.
“Hati hati Nin, aku masih ingin hidup dengan selamat tanganku belum lama sembuh nya.” Ucap Isomah sambil menepuk paha Nindy.
“Maaf Nin, hampir terlewat tempat nya tuh.” Ucap Nindy yang karena begitu cepatnya sampai hampir melewati kantor yang dituju.
“Tuh sudah mau tutup kantornya, cepat kamu ke sana duluan!” Perintah Nindy
Isomah yang juga melihat ada seorang sudah keluar dari pintu kantor, membuat dia segera turun dari boncengan motor Nindy. Masih dengan memakai helm Isomah berlari menuju ke pintu pagar kantor itu. Dia terus masuk pada pintu pagar yang tidak ditutup dan tidak di jaga oleh Satpam.
Isomah segera bertanya pada orang yang masih berada di kantor itu. Tetapi Isomah sangat kecewa dengan jawabannya. Sebab pelayanan pada tamu ditutup. Beberapa karyawan sudah pulang. Dan hanya beberapa tenaga administrasi keuangan yang sedang menyelesaikan pekerjaan nya dan sebentar lagi juga mau pulang.
Isomah membalikkan badan nya dan dengan langkah lesu dia berjalan menuju ke tempat Nindy yang akan memarkirkan motor nya.
“Bagaimana Is? Aku mau menyusul kamu setelah memarkir motor malah kamu balik ke sini lagi.” Ucap Nindy sambil menstandarkan motor nya.
“Sudah tutup Nin.” Jawab Isomah dengan nada kecewa.
“Itu pintu masih buka.” Ucap Nindy sambil dagunya menunjuk pada pintu kantor yang terbuka.
“Sudah mau pulang mereka.” Jawab Isomah dengan lesu, Nindy pun langsung terlihat ekspresi wajah nya sangat kecewa. Dia merasa sia sia saja karena dia sudah melajukan motornya dengan ngebut pol.
“Nin, aku pulang naik ojek saja. Kasihan kamu.” Ucap Isomah sambil melepas helm nya dan menyerahkan lagi pada Nindy sang pemilik helm .
“Tapi Is...” ucap Nindy yang tidak tega meninggalkan Isomah seorang diri, karena hari sudah sore dan masalah nya belum ada harapan bisa terselesaikan.
“Kamu harus mutar mutar jalur kalau mengantar aku pulang. Bisa bisa hari sudah gelap kamu baru sampai rumah.” Ucap Isomah yang juga tidak tega pada Nindy jika harus mengantar nya pulang ke kampus.
“Kamu hati hati ya Is, besok ku bantu lagi.” Ucap Nindy selanjutnya yang akhirnya setuju jika Isomah pulang naik ojek.
Nindy pun lalu meninggalkan Isomah sebab memang Isomah yang menyuruh Nindy untuk segera pulang, Isomah kasihan juga jika adik adik Nindy menunggu Nindy.
__ADS_1
Isomah masih berdiri di depan kantor yang sudah tutup itu. Beberapa karyawan tampak keluar dari dalam kantor.
Sesaat ada dua orang karyawan yang juga berdiri tidak jauh dari Isomah yang juga menunggu ojek on line
“Hmmm coba aku tanya pada mereka.” Gumam Isomah dalam hati.
Isomah pun lalu mendekati dua karyawan itu. Dia lalu mengenalkan diri dan menyampaikan kasus yang dihadapi nya. Dia juga menceritakan sudah satu hari mencari bantuan pada lembaga bantuan hukum akan tetapi belum dapat juga.
“Mungkin bisa tetapi biaya mandiri Dik.” Jawab salah satu dari karyawan itu.
“Dan sepertinya mahal. Apa lagi jika pihak kampus Mahardhika saja yang memiliki pengacara handal menolak.” Ucapnya selanjutnya
“Owhhh.” Gumam Isomah, yang kini paham jika bisa dengan jalur mandiri macam masuk universitas saja.
“Coba loby lagi pihak kampus.” Ucap satu karyawan lainnya. Dan dua karyawan itu pun segera pergi karena ojek on line nya sudah datang.
Isomah masih berdiri dan berpikir pikir, dia mengingat ingat jumlah tabungan dan perkiraan pendapatan nya dari hasil bagi saham ditambah hadiah dari lomba nya.
“Aku hubungi Kak Alexa saja, aku akan pinjam uang dia dulu jika tabungan ku masih kurang.” Gumam Isomah dalam hati lalu dia mengusap usap layar hand phone nya untuk menghubungi Kakak nya.
“Kakak di mana? Aku butuh uang mau pinjam untuk hal penting banget.” Ucap Isomah setelah Alexandria menerima panggilan suara nya.
“Cepat kamu sekarang ke Jonathan Co. Aku dan Kak Deo masih lembur.” Jawab Alexandria.
Isomah menemui satpam penjaga pintu gerbang. Pak Satpam yang tidak ingin pengalaman nya terulang kembali mendapatkan hukuman pukulan dipantatnya oleh Vsdeo, maka dia sangat ramah dan sopan menemui Isomah.
Pak Satpam pun segera menghubungi Alexandria dan mengatakan jika ada seorang perempuan bernama Isomah ingin menemuinya.
“Silahkan masuk langsung menuju ke resepsionis bilang saja Pak Satpam sudah menghubungi Nyonya Alexandria dan sudah diizinkan untuk langsung ke ruangan nya.” Ucap Pak Satpam mempersilahkan Isomah masuk.
“Minta diantar petugas resepsionis ya.” Ucap Pak Satpam lagi masih dengan nada sopan dan ramah.
Isomah pun segera melangkahkan kaki nya menuruti pesan dari Pak Satpam. Dan petugas resepsionis yang masih berjaga pun mengantar Isomah menuju ke ruang kerja Alexandria. Petugas resepsionis pun sopan dan ramah pada Isomah. Semua karyawan Jonathan Co selalu ingat pesan dari Alexandria agar tidak memandang orang dari tampilan luar nya.
Tidak lama kemudian Isomah sudah masuk ke dalam ruang kerja Alexandria yang bersih dan dingin karena udara AC. Terlihat di dalam ruangan itu ada Vadeo dan Alexandria yang masih duduk di kursi kerjanya.
“Suruh mandi dulu dia, bau keringat dia campur debu itu apa dia tidak mandi berhari hari.” Ucap Vadeo sambil menutup hidungnya dengan telapak tangannya
“Alexa waktu menyamar jadi Sandra ga dekil dekil amat kayak kamu itu Ix.” Ucap Vadeo selanjutnya. Lalu dia bangkit berdiri mengikuti istrinya yang sudah lebih dahulu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke sofa yang ada di dalam ruang kerja nya.
“Kak Deo keluar aja dulu.” Ucap Ixora yang masih dengan penampilan sebagai Isomah itu. Yang kini sudah duduk di sofa di samping Alexandria kakak nya.
“Hah, aku pemilik kantor ini malah diusir sama orang dekil macam gini.” Ucap Vadeo sambil memencet hidung Ixora yang mancung akan tetapi sekarang hidungnya sangat berminyak karena efek make down yang dipakai bercampur dengan keringat. Vadeo pun mengibas ibaskan tangannya lalu dia mengambil tisu yang berada di atas meja. Alexa dan Ixora yang melihat hanya tertawa.
__ADS_1
Setelah mereka bertiga duduk di sofa , Ixora pun menyampaikan permasalahan nya kepada kakak nya Alexandria akan tetapi Vadeo yang yang juga duduk di sofa itu turut mendengar nya.
“Ya sudah buka saja jati diri mu pasti Carol mau membantu mu dan semua langsung beres.” Saut Vadeo setelah Ixora selesai bercerita
“Kak, kalau aku membuka jati diri ku pasti muncul masalah baru. Anneke pasti akan mengancam aku.” Ucap Ixora sambil menatap Kakak ipar nya.
“Kak aku masih trauma menjadi korban kekerasan, penculikan dan korban pelecehan hampir saja aku diperkosa Reyvan.” Ucap Ixora lagi
“Bukannya kamu sudah ikut pelatihan bela diri.” Ucap Vadeo sambil masih menatap Ixora dia sebenarnya tidak tega melihat adik iparnya harus menyamar seperti itu.
“Aku belum siap.” Ucap lirih Ixora yang merasa ilmu nya belum cukup untuk melindungi dirinya sendiri.
“Kamu tidak cukup hanya berlatih dengan tangan kosong. Kamu perlu latihan tambahan, belajar menggunakan senjata api.” Usul Alexandria sambil menatap adiknya dengan serius.
“Dan aku tidak mau menjadi isteri nya Carol.” Ucap Ixora lagi yang merasa dengan berpenampilan sebagai Isomah aman dari keinginan Carol yang ingin selalu berdua dengan nya.
“Kak, aku pinjam uang dulu ya buat bayar pengacara dan ahli digital forensik.” Ucap Ixora selanjutnya pada pokok tujuannya dia datang ke Jonathan Co.
“Atau Kak Alexa yang akan membantuku jadi ahli digital forensik nya, membuktikan kalau foto itu hoax.” Ucap Ixora sambil tersenyum menatap Kakak nya.
“Kamu mau bayar hutang pakai apa?” tanya Alexandria menguji adik nya, sebab dia pun iklas membantu adiknya yang sedang bermasalah.
“Tabunganku dan juga hasil bagi keuntungan saham perusahaan.” Jawab Ixora
“Masih kurang.” Saut Alexandria
“Aku bantu dengan ilmuku, untuk membantu program hamil Kak Alexa.” Ucap Ixora selanjutnya dia belum mengatakan uang hasil lomba sebab belum pasti karena juara masih dipending.
“Okey aku setuju.” Ucap Alexandria dan Vadeo secara bersamaan. Mereka berdua yang sudah merindukan anak sangat senang jika Adiknya yang kuliah di kedokteran dan battra membantu program hamil nya.
“Kamu pergi ke rumah Bang Bule dan temui Richardo. Aku tidak ada waktu buat membantu kamu. Pagi sampai malam ngurus dua perusahaan. Malam sampai dini hari ngurus kakak ipar mu itu.” Ucap Alexandria selanjutnya sambil menoleh menatap suaminya, Vadeo pun terlihat senyum dikulum malah teringat kegiatannya enak enak dengan isterinya.
“Aku belum sempat cerita pada Bang Bule.” Ucap Ixora
“Tidak apa apa malah surprise buat Bang Bule.” Saut Alexandria.
Setelah setuju dengan kesepakatan yang mereka buat. Mereka bertiga pun menyudahi pertemuannya. Karena hari sudah gelap, Ixora diantar pulang ke rumah kost oleh Vadeo dan Alexandria.
Saat Ixora turun dari mobil Vadeo ada satu pasang mata yang terus memperhatikan nya.
....
Bersambung ya..
__ADS_1