Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 59. Mencari Cara


__ADS_3

Keesokan paginya. Saat hari masih gelap Bang Bule sudah bangun. Dia segera mandi dan berpenampilan sebagai Kakek Penjual Obat. Dia berharap Sang Mama tidak melihatnya.


Dengan pelan pelan Bang Bule membuka pintu kamarnya, dia melonggokkan kepalanya untuk memastikan dulu tidak ada Sang Mama di ruangan di depan kamarnya.


“Hmm aman.” Gumam Bang Bule saat melihat di dalam rumah masih tampak sepi, sepertinya semua penghuni masih berkegiatan di dalam kamar pribadinya masing masing. Terlihat ada satu orang anak buah Bang Bule yang tidur nyenyak di sofa di ruang tengah. Suara dengkurannya pun masih terdengar keras mengalahkan suara gerak gerik Bang Bule.


Dengan langkah cepat Bang Bule keluar dari rumahnya. Hari masih gelap, embun pagi masih menempel pada daun daun tanaman dan segala benda yang tidak teratapi. Dingin. Bagai hati Bang Bule yang kini terasa dingin, harapan dan hangat cintanya meredup karena terhalang pekat dan gelapnya rintangan.


Bang Bule mengambil vespa tuanya. Dia jalankan keluar dari halaman rumahnya yang luas tanpa menyalakan mesinnya. Agar tidak membangunkan orang orang yang masih tidur. Berat. Bagai beratnya perjalanan cinta Bang Bule.


Setelah keluar dari pintu pagar Bang Bule menyalakan mesin vespa tuanya. Dia jalankan menuju ke kost Isomah. Dia akan menemui Bunda Naura, berharap jika dia datang sebagai Kakek Penjual Obat, Bunda Naura akan mengatakan jati diri Isomah sebenarnya dan dia diizinkan menuju ke mansion William.


Beberapa menit kemudian, vespa tua Bang Bule sudah sampai di depan kost Isomah. Suasana masih terlihat sepi, meskipun hari sudah tidak gelap lagi akan tetapi masih terasa dingin dan embun pagi belum menghilang karena hadirnya sinar mentari.


“Aku tunggu dulu di mini market itu sambil sarapan.” Gumam Bang Bule lalu berjalan menuju ke mini market yang di depannya ada kursi kursi dan kebetulan ada tukang bubur ayam berhenti di situ. Vespa tua Bang Bule dia parkir di depan pintu pagar kost Isomah.


Waktu pun terus berlalu dan hingga tidak terasa Bang Bule sudah habis tiga mangkok bubur ayam. Dan hari pun semakin terang, sinar matahari sudah mulai sampai di permukaan bumi dan sudah mengusir embun pagi. Setelah membayar apa yang dia makan dan minum, Bang Bule bangkit dari kursi di depan mini market itu dan berjalan menuju ke pagar kost Isomah.


“Pak .. Pak.. tolong buka pagalnya!” teriak Bang Bule saat melihat laki laki paruh baya yang sedang menyapu halaman.


“Kakek dari mana, tadi saya lihat vespa tua Kakek tetapi kok orangnya tidak ada.” Teriak laki laki paruh baya itu sambil berjalan dengan cepat menuju ke pintu pagar.

__ADS_1


“Salapan dulu, masih sepi tadi.” Ucap Bang Bule yang berpenampilan sebagai Kakek Penjual Obat.


“Kakek kalau mencari Isomah tidak ada dia sedang pulang ke desa, sedang sakit.” Ucap laki laki paruh baya itu sambil membukakan pintu pagar.


“Apa kamu tahu dia di desa mana?” tanya Bang Bule dan laki laki paruh baya itu hanya menggelengkan kepalanya.


“Aku mau ketemu Bunda Naula.” Ucap Bang Bule lalu dia segera berjalan menuju ke pintu utama rumah induk. Laki laki paruh baya itu pun terlihat berlari menuju ke belakang lewat pintu samping untuk memberi tahu pada Bunda Naura kalau ada tamu Kakek Penjual Obat.


Sesaat kemudian pintu utama rumah induk terbuka dan muncul sosok Bunda Naura.


“Nyah langsung saja, aku dengal Isomah sakit di bawa ke desa, di lumah sakit sudah tidak ada Isomah, di mana lumah Isomah?” tanya Bang Bule yang berpenampilan sebagai Kakek Penjual Obat.


“O iya Kek, ayo masuk dulu, duduk dulu, nanti saya jelaskan.” Ucap Bunda Naura mempersilahkan Bang Bule masuk ke dalam ruang tamu.


“Kek, aku buatkan minum hangat hangat dulu ya..” ucap Bunda Naura lalu berjalan menuju ke belakang.


“Kasihan orang tua pagi pagi sudah sampai sini.” Suara Bunda Naura yang terdengar di telinga Bang Bule.


Tidak lama kemudian Bunda Naura datang dengan membawa nampan berisi satu cangkir kopi, aroma kopi itu menguar tercium oleh hidung Bang Bule.


“Silahkan diminum Kek, tidak panas sekali kok hangatnya sudah siap minum.” Ucap Bunda Naura sambil meletakkan cangkir kopi itu. Bunda Naura pun lalu duduk di salah satu kursi di ruang tamu itu. Bang Bule terlihat tangannya terulur mengambil cangkir kopi itu, lalu dia meminum kopi hangat itu yang aromanya menggoda dirinya, sebab tadi dia baru minum air mineral yang dia beli di mini market.

__ADS_1


“Di mana lumah Isomah Nyah?” tanya Bang Bule selanjutnya setelah meletakkan cangkir kopi di atas meja, dia dengan tidak sabar menunggu apa Bunda Naura akan menjelaskan jati diri Isomah sebenarnya.


“Rumahnya di desa Kek.” Jawab Bunda Naura sambil menatap wajah Kakek Penjual Obat.


DEG


Bang Bule merasakan jika harapan untuk mendapatkan informasi jati diri Isomah yang sebenarnya sirna.


“Maaf saya tidak tahu alamat persisnya. Bapaknya cuma bilang mau di bawa ke rumahnya yang di desa agar bisa dirawat oleh Ibunya, kalau Ibunya ke sini kasihan adiknya tidak ada yang mengurus.” Ucap Bunda Naura selanjutnya.


Dengan lemas dan langkah gontai Bang Bule meninggalkan rumah kost Isomah yang tentu saja setelah pamit pada Bunda Naura. Bunda Naura yang merasa kasihan pada Kakek Penjual Obat itu pun ikut mengantar sampai di depan pintu pagar.


Bang Bule yang sedih dan lemas badannya meskipun sudah sarapan tiga mangkok bubur itu, selalu gagal memanasi vespa tuanya.


“Sial apa macet vespa ini, tadi pagi masih dingin saja langsung bisa.” Gumam Bang Bule dalam hati sambil terus berusaha untuk menyala mesin vespa tuanya.


Bunda Naura yang melihat hal itu tidak tega lalu memanggil pegawai kebunnya agar membantu Kakek Penjual Obat.


“Apa Kakek belum minum obat kuat?” tanya laki laki paruh baya itu sambil menyalakan mesin vespa tua Bang Bule.


“Kek, hati hati...” teriak Bunda Naura dan laki laki paruh baya setelah mesin vespa tua Bang Bule sudah menyala dan Bang Bule sudah mulai menjalankan vespa tua itu meninggalkan rumah kost Isomah.

__ADS_1


Bang Bule terus melajukan vespa tuanya di sepanjang perjalanan dia masih mencari cara bagaimana bisa menemui Ixora dan membawanya menuju ke rumahnya untuk bertemu dengan Sang Mama.


__ADS_2