
“Tuan kan tidur di lantai tetapi Tuan tidak gatal gatal.” Ucap laki laki berkaca mata hitam itu mulai dengan analisa nya.
“Apa kamu mau mengatakan kulitku kulit badak jadi tidak terpengaruh lantai yang berkuman.” Suara berat laki laki dibalik hand phone yang tetap mengira anak buah nya akan mengakali dirinya untuk mengambil semua barang curian nya dengan menakut nakuti barang itu penyebab gatal gatal.
“Bu.. bukan begitu Tuan” ucap laki laki berkaca mata hitam itu sambil menggaruk garuk kepala nya
“Besok kamu harus segera menemui aku, aku harus bisa membatalkan Ixora William agar tidak melanjutkan penelitian nya sampai tingkat internasional.” Suara berat laki laki di balik hand phone itu dan lalu memutus sambungan teleponnya.
*****
Waktu pun terus berlalu. Di mansion Willam, Ixora sedang berada di dalam kamar nya. Dia sedang menghubungi Bang Bule menanyakan apa sudah mendapatkan informasi tentang nomor asing yang mengancam nya.
“Sudah Beb, tapi tapi itu nomor satu kali pakai dan yang mendaftar kartu sim nya pakai id nya pelayan kios seluler. Sudah aku lacak nomor id yang digunakan untuk mendaftar itu. Dan bukan dia pelakunya. Richardo sudah mengecek nya, kios seluler dekat lokasi kampus Mahardhika. Tetapi pelayan itu tidak hafal pembeli yang meminta di daftarkan kartu sim nya.” Ucap Bang Bule dengan nada serius namun penuh penyesalan sebab belum bisa membantu Sang kekasih hati.
“Hanya pesan ancaman ke kamu saja isi data nya. Tidak ada informasi lain nya.” Ucap Bang Bule lagi.
“Haduh.. terus akun yang kirim foto hoax?” tanya Ixora selanjutnya
“Maaf Beb, belum selesai agak susah juga bener Richardo nomor itu dilindungi dengan sangat rapi.” Ucap Bang Bule dengan nada penuh penyesalan lagi namun kali ini dia sambil tersenyum nyengir sebab memang benar yang dikatakan oleh Richardo perlindungan akun penjahat sangat rapi.
“Coba nanti aku cari lagi dengan aplikasi yang dikasih Alexandria.” Ucap Bang Bule selanjutnya.
“Okey Bang, terima kasih ya.. Aku mau mandi nih..” ucap Ixora selanjutnya dan sambungan teleponnya pun diakhiri.
Saat baru saja Ixora menaruh hand phone nya di meja belajar nya dan dia akan melangkah menuju ke kamar mandi.
Tiba tiba terdengar suara dering di hand phone.
“Bang Bule ada apa lagi.” Gumam Ixora lalu kembali meraih hand phone nya, dan saat dilihat tertera nama kontak bapak polisi sedang melakukan panggilan suara. Ixora pun segera menggeser tombol hijau.
“Selamat malam.” Ucap Ixora setelah menggeser tombol hijau.
“Selamat malam Nona. Mau saya informasikan ini ada yang daftar dan pesan obat, tetapi baru satu orang.” Suara bapak polisi di balik hand phone Ixora.
“Baiklah Pak, bilang saja Pak, agar besok datang sore hari jam tiga Dokter akan siap memeriksa nya lebih dulu. Besok saya akan menyamar menjadi Dokter dan Bapak yang menjadi tenaga administrasi he.. he..” ucap Ixora sambil tertawa kecil.
__ADS_1
“Okey okey Nona tidak masalah saya menjadi tenaga administrasi dan staf pemasaran yang penting pencuri tertangkap.” Ucap bapak polisi sambil tersenyum akan tetapi senyumnya tidak dilihat oleh Ixora sebab mereka berkomunikasi lewat panggilan suara.
“Dari info yang saya dapat dari rumah sakit tiga laki laki pasien dengan keluhan gatal hebat itu memang mirip dengan sketsa wajah yang saya tunjukkan pada pihak rumah sakit.” Ucap bapak polisi itu lagi dengan nada serius.
“Semoga yang mendaftar juga orang itu Pak.” Ucap Ixora dengan sangat berharap yang mendaftar itu adalah benar benar target sasaran nya bukan orang lain yang sakit gatal bukan karena efek hasil penelitian nya.
“Iya Nona, profil foto nya tidak ada di akun nya.” Ucap bapak polisi itu yang di tidak melihat profil foto orang pendaftar itu hand phone nya.
“Pak tolong kirim nomor itu ke saya ya.” Ucap Ixora yang ada ide untuk mengirim nomor pendaftar itu ke Bang Bule Sayangku.
“Baik Nona.” Jawab bapak polisi. Sambungan telepon pun lalu mereka akhiri. Bapak Polisi pun mengirim nomor hand phone pendaftar ke nomor Ixora.
“Aku kirim nomor ini ke Bang Bule.” Ucap Ixora lalu Ixora mengirim nomor itu ke Bang Bule, agar Bang Bule melihat informasi tentang nomor itu.
Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam dan hari pun berganti.
Pukul setengah tiga sore Ixora yang sudah berpenampilan memakai jas warna putih dan membawa tas tangan warna hitam itu sudah sangat mirip seorang Dokter beneran. Ixora pun memakai rambut palsu berwarna kecoklat coklatan bergelombang. Tidak lupa dia pun memoleskan make up pada wajah nya.
“Hati hati ya Sayang..” ucap Nyonya William saat Ixora pamit pada dirinya.
Sesaat Ixora membuka pintu utama Mansion dan tampak mobil dan sopir yang akan mengantar sudah siap. Nyonya William pun memberi pesan agar hati hati sekali lagi pada Ixora. Dan Ixora terus melangkah menuruni anak tangga teras untuk menuju ke arah mobil yang sudah siap akan mengantar.
“Pak ke kantor polisi dulu ya.” Ucap Ixora saat sudah masuk ke dalam mobil. Pak sopir menganggukkan kepala nya, dan mobil pun berjalan pelan pelan meninggalkan halaman mension William. Dan mobil bertambah laju kecepatan nya saat sudah memasuki jalan raya.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman kantor Polisi. Namun tiba tiba hand phone Ixora berdering.
Ixora segera mengambil hand phone dari tas hitam nya. Di lihat di layar hand phone nya tertera nama kontak pak polisi melakukan panggilan suara. Ixora pun segera menggeser tombol hijau.
“Nona, saya sudah di ruko yang saya sewa, letak nya cuma di belakang kantor Polisi. Nona langsung saja ke lokasi. Saya lihat target sasaran sudah masuk ke halaman ruko.” Suara Pak Polisi di balik hand phone Ixora.
“Baik Pak.” Jawab Ixora lalu sambungan telepon nya sudah putus.
Ixora pun segera meminta Pak Sopir untuk meninggalkan halaman kantor Polisi dan menuju ke ruko yang lokasi nya di belakang kantor polisi.
Mobil terus berjalan pelan pelan, tidak lama kemudian mata Ixora melihat ada papan nama Jual Obat, yang tampak nya papan nama itu baru saja dibuat.
__ADS_1
“Pak berhenti Pak, biar saya jalan kaki saja.” Ucap Ixora yang selanjutnya dia mengambil masker dari dalam tas nya dan kemudian dia menutupi wajah nya dengan masker.
Ixora pun terus melangkah menuju ruko.
“Itu Ibu Dokter nya sudah datang.” Ucap Pak Polisi yang tampak duduk di kursi dan jelas tidak memakai seragam polisi, dia memakai atasan tshirt berkerah dan celana blue jeans.
Ixora melihat laki laki yang duduk di kursi dengan memakai jaket hitam dan tampak tangan nya sering kali menggaruk garuk bagian tubuh nya yang terasa gatal.
“Dok tolong saya, saya memakai segala macam obat tidak mempan.” Ucap laki laki itu sambil menatap Ixora dengan pandangan mata memelas.
“Hmmm, saya coba dulu di satu jari bapak yang paling terasa gatal. Jika memang sembuh pengobatan bisa dilakukan akan tetapi dengan rawat inap di sini.” Ucap Ixora yang selanjutnya dia duduk di kursi di samping bapak polisi. Ixora pun sudah mengantisipasi jika yang datang adalah orang yang bukan target sasaran akan dirujuk ke dokter pribadi keluarga William. Sebab dia belum menjadi Dokter jadi tidak ada izin praktek.
“Kalau sembuh saya tidur di depan ruko pun mau.” Ucap laki laki yang duduk di depan nya tersekat oleh meja yang ada beberapa brosur brosur dan botol botol juga kardus kardus obat di atas nya. Nampak nya Pak Polisi membeli atau menyewa botol botol dan kardus kardus obat itu.
Ixora lalu membuka tas hitam nya dia mengambil peralatannya satu tempat obat, sarung tangan medis, cawan kecil. Dia lalu mengambil satu butir kapsul dan dia buka kapsul itu dia tuang sedikit isi di dalam kapsul itu pada cawan obat kecil berwarna putih gading. Tampak cairan keluar dari kapsul itu.
“Coba lihat mana jari yang paling gatal.” Ucap Ixora selanjutnya.
Laki laki itu lalu mengulurkan tangannya dan tampak permukaan kulitnya tampak bentol bentol merah bahkan ada yang sudah bernanah. Ixora pun mengoles jari itu dengan cairan yang ada di cawan obat nya.
“Tunggu sebentar.” Ucap Ixora setelah selesai mengoles satu jari laki laki itu.
Beberapa menit kemudian.
“Dok, benar sembuh tidak gatal lagi jari saya yang paling parah tadi.” Ucap laki laki itu dengan mata berbinar binar dan senyum merekah di bibir nya.
“Dok boleh lagi?” tanya nya dengan nada penuh permohonan.
“Baiklah ini bisa kamu habiskan. Dan setelah nya kamu pulang dan bawa baju kamu untuk menginap di sini.” Ucap Ixora lalu memberikan cairan sisa di cawan kecil itu.
Laki laki itu pun langsung mengoles oles pada satu telapak tangan nya, sambil bibir tersenyum senang.
“Saya harus bayar berapa?” tanya laki laki itu sambil menatap Ixora.
“Tanya bapak bagian administrasi.” Jawab Ixora sambil menoleh menatap bapak polisi yang ekspresi wajah nya masih tampak kagum dengan obat yang di bawa oleh Ixora.
__ADS_1
“Hmmm pantas saja menjadi juara.” Gumam bapak polisi yang masih menatap tangan laki laki di depan nya yang berangsur angsur sembuh.