Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 71. Cemburu dan Curiga


__ADS_3

Ixora terus melangkah menuju ke kamarnya. Dengan segera dia membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci. Dia cepat cepat masuk ke dalam kamar bukan karena ingin segera minum obat nya, akan tetapi dia ingin segera menghubungi Bang Bule. Dia tidak ingin ada selisih paham karena Bang Bule sudah mendengar kabar Ixora diantar oleh Carol.


Ixora terus melangkah menuju ke sofa di mana kedua hand phone nya masih tergeletak di sana.


“Non, minum obat nya dulu.” Ucap sang perawat saat melihat Ixora langsung duduk di sofa sambil memegang hand phone nya. Ixora hanya diam saja sambil mengaktifkan hand phone khususnya. Sang perawat pun mendekat sambil membawa obat Ixora bersama satu gelas air mineral.


Ixora meminum obatnya, lalu dia kembali mengusap usap layar hand phone nya untuk menghubungi Bang Bule.


Sementara itu di lain tempat di negeri kincir angin, Belanda. Hari masih terang karena selisih waktu enam jam dengan Indonesia yang mana Indonesia lebih awal.


Sejak sehabis makan siang dengan keluarganya Bang Bule langsung masuk ke dalam kamarnya yang sudah bersih dan rapi karena sudah disiapkan oleh pelayan keluarga Jansen.


Maksud hati Bang Bule akan segera menghubungi Ixora, akan tetapi hanya bisa berbicara dengan Dealova dan itu pun dia mendapatkan kabar buruk, yang mana kekasih hatinya diantar oleh rival beratnya karena mendapatkan dukungan dari orang tua Ixora.


Bang Bule membaringkan tubuhnya di tempat tidur akan tetapi tidak bisa tidur, sebab sedang memikirkan nasib cintanya.


Mendadak Bang Bule terhenyak kaget saat mendengar bunyi dering khusus di hand phone nya. Bunyi dering yang kemarin kemarin selalu dinanti nanti, dan hatinya sangat bahagia jika dering suara yang dinantinya itu pun tiba. Akan tetapi kini bunyi dering itu seakan ada sesuatu yang bagai mengiris hatinya hingga terasa perih ngilu. Sakit karena mengingat kekasih hatinya yang jauh dan sulit tergapai, apalagi kekasih hati nya kini dekat dengan laki laki yang dijodohkan oleh orang tuanya.


Dengan tangan lemah Bang Bule meraih hand phone nya yang berada di atas nakas yang tidak jauh dari tempat tidur nya.

__ADS_1


“Ixora atau siapa yang menghubungi aku. Bukan nya hand phone nya disita oleh Nyonya William.” Gumam Bang Bule sambil menatap layar hand phone nya yang tertera nama kontak My Baby melakukan panggilan video. Dia tidak yakin yang melakukan panggilan video adalah Ixora sebab setahu nya hand phone Ixora disita oleh Nyonya William.


Dengan malas Bang Bule menggeser tombol hijau.


“Baaaang.” Suara Ixora dengan senyuman di bibirnya. Bang Bule yang kaget sampai hand phone nya jatuh ke tempat tidurnya. Dengan cepat Bang Bule mengambil lagi hand phone nya.


“Beb...” ucap Bang Bule dan kalimatnya tidak bisa berlanjut. Padahal sebenarnya ada banyak kata kata yang ingin dia ucapkan dan ingin dia tanyakan akan tetapi tidak ada yang bisa keluar dari mulutnya. Campur aduk perasaaan Bang Bule antara haru, rindu, cemburu,....


“Bang, aku ingin tanyakan sesuatu?” ucap Ixora kemudian dengan nada serius namun pancaran sinar matanya tetap teduh dan ada kilatan kilatan kerlap kerlip pancaran cinta dari hatinya.


“Apa?” tanya Bang Bule singkat, namun dia terus memandangi wajah cantik Ixora yang selalu dia rindu.


“Tentang perjodohan mu? Dan kamu setuju? Dan saat aku pergi kamu langsung berdua dua? Kamu sudah bohong padaku katanya dijemput Papa tetapi Carol pengacara muda yang sukses itu ternyata yang menjemput kamu?” ucap Bang Bule selanjutnya secara beruntun kata kata yang tadi sulit keluar akhirnya meluncur begitu saja karena terdorong oleh api cemburu dari dalam hati nya.


“Bang bukan seperti itu.” Saut Ixora memotong kalimat Bang Bule yang salah paham


“Terus seperti apa?” tanya Bang Bule dengan nada datar dan dingin.


“Bang aku malah tidak tahu tentang perjodohan itu, dan tadi memang Papa yang menjemputku, tetapi tiba tiba muncul Kak Carol yang baru saja pulang dari Singapore.” Ucap Ixora menjelaskan hal yang sesungguhnya.

__ADS_1


“Ach itu pasti sudah di atur oleh keluargamu.” Saut Bang Bule tetap curiga ada skenario pertemuan Ixora dan Carol di bandara


“Terus kenapa kamu tidak mengatakan kalau Carol yang membuat mu celaka? Kamu menutupi karena kamu suka pada nya? Kamu ingin agar dia selalu tampak sempurna?” ucap Bang Bule selanjutnya menanyakan perihal Ixora yang tidak menceritakan kalau Carol yang sudah membuat diri nya celaka.


“Bang kenapa Bang Vincent berpikir seperti itu. Aku tidak mengatakan kalau Kak Carol yang menabrakku, karena aku tak ingin jadi diri Isomah terungkap atau Isomah dikeluarkan dari kampus.” Jawab Ixora


“Aku juga tidak ingin Bang Vincent dikeluarkan sebagai pelatih di kampus. Kita tidak bisa bertemu lagi.. Tapi semua percuma karena Bang Bule pergi meninggalkan aku ..” ucap Ixora tanpa isak tangis akan tetapi air matanya sudah meleleh membasahi kedua pipi mulusnya . Ixora lalu memutus sambungan teleponnya karena dada dan lehernya terasa sakit. Sakit dan sedih karena orang yang sangat dicintainya sudah berprasangka buruk pada dirinya, dan berada jauh di lain benua. Air mata Ixora terus saja meleleh. Hand phone nya pun kembali tergeletak di sofa begitu saja.


“Dealova kenapa juga mulutnya mengatakan aku pulang diantar oleh Kak Carol, jadi bikin tambah masalah saja...” gumam Ixora menyesali adiknya yang sudah menceritakan kepulangan nya diantar oleh Carol.


Sang perawat yang mendengar dan melihat pembicaraan Ixora dengan Bang Bule tadi lalu berjalan mendekati Ixora, dan berusaha untuk menghibur nya, sebab dia melihat air mata Ixora yang terus meleleh.


Sementara itu di balik pintu kamar Ixora ada sosok yang mengintip di balik pintu dan tampak bahagia pada ekspresi wajahnya.


“Yes.. yes.. yes .. “ suara Nyonya William yang sejak tadi mengintip dari balik pintu kamar Ixora yang dibuka sedikit yang tidak diketahui oleh Ixora ataupun sang perawat karena perhatian nya pada Ixora.


“He... He... Dealova yang polos tidak tahu rencana perjodohan itu, sudah menceritakan sejujurnya Carol mengantar Ixora. Biar saja Bule itu marah pada Ixora bukannya itu malah bagus.” Gumam Nyonya William dalam hati sambil tersenyum penuh kemenangan.


“Akhirnya mereka berkonflik dengan sendiri nya, kesempatan emas agar Carol semakin mendekati Ixora.” Gumam Nyonya William lagi sambil menutup pelan pelan pintu kamar Ixora agar tidak membunyikan suara. Dengan cepat Nyonya William berjalan menuruni anak tangga sambil salah satu tangannya membawa pasport Dealova.

__ADS_1


Sementara di dalam kamar Ixora, pemilik kamar itu masih berurai air mata tanpa isakan suara. Bang Bule di seberang sana pun membaringkan tubuhnya lagi dengan pandangan menerawang jauh. Ada perasaan sedih dan menyesal sudah membuat orang yang sangat dia cintai berurai air mata karena ucapannya. Akan tetapi dia juga tidak tahan untuk menumpahkan perasaan cemburu dan curiganya.


__ADS_2