Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 9. Menuju Bali


__ADS_3

“Tidak usah.” ucap Nyonya William dengan nada ketus.


“Ma, terus gimana dengan hand phone ku, dompet ku, kartu kartu ku?” tanya Ixora dengan nada kuatir.


“Biar besok diambil sopir.” jawab Nyonya William


“Sudah Pa, kita langsung pulang. Capek aku, lagian sudah terlalu malam.” Ucap Nyonya William lagi sambil menoleh ke arah suaminya. Tuan William pun menuruti kemauan isterinya bagi beliau yang terpenting kini puterinya sudah selamat.


Sementara itu Bang Bule yang sudah terbaring di tempat tidurnya dia memeluk tas mungil Ixora, membayangkan yang dia peluk adalah tubuh Ixora.


“Hmmm aku telepon Vadeo sekarang saja.” gumam Bang Bule. Bang Bule lalu bangkit dari tidurnya dan melangkah menuju ke mejanya untuk mengambil telepon selulernya.


Bang Bule mulai mengusap usap layar telepon seluler nya untuk mencari nama kontak Vadeo. Dan setelah mendapatkan nama kontak Vadeo, dia pun melakukan panggilan video kepada sahabat setianya yang sejak kecil itu.


Berkali kali dia menghubungi Vadeo hanya terdengar nada sambung akan tetapi tidak tersambung.


“Apa Vadeo sedang melakukan proses pembuatan anak ya..” gumam Bang Bule. Lalu dia membatalkan panggilan videonya untuk Vadeo. Kini dia mencari nama kontak Alexandria.


“Siapa tahu jika Alexa yang dihubungi terganggu dan menerima panggilan teleponku.” gumam Bang Bule.


“Mereka kan bisa melakukan kapan saja. Sementara nasibku sekarang sedang di ujung tanduk gara gara salah paham.” gumam Bang Bule dan terus saja menghubungi nama kontak Alexandria. Akan tetapi dia kini melakukan panggilan suara.


Sementara itu Vadeo dan Alexandria sedang melakukan goyang enak enak di sebuah hotel penuh dengan privasi.


“Kak.. itu hand phone berdering terus. Aku ambil dulu ya, siapa tahu kabar penting dari Ixora.” ucap Alexandria sambil goyang goyang akan tetapi konsentrasinya sudah terbagi.


“Sebentar Sayang.” ucap Vadeo dengan suara parau sambil merem melek karena goyangan isterinya.

__ADS_1


“Kak, aku ambil hand phoneku dulu..” ucap Alexandria yang sudah semakin tidak berkonsentrasi. Dia pun pelan pelan melepaskan diri dan melangkah turun dari tempat tidurnya. Vadeo terlihat langsung memiringkan tubuhnya dan memeluk guling entah apa yang dia lakukan.


Alexandria pun segera mengambil telepon seluler nya. Dilihatnya di layar telepon seluler nya ada nama kontak Bang Vincent tertera. Dia langsung menggeser tombol hijau


“Bang bagaimana dengan Ixora? Tadi Papa bilang sedang dibawa ke Dokter, dan aku belum mendapat kabar selanjutnya.” ucap Alexandria setelah menggeser tombol hijau.


“Maaf Al, aku juga belum tahu.” Ucap Bang Bule


“Sekarang kalian berada di mana, ada masalah penting yang ingin aku sampaikan pada kamu berhubungan dengan Ixora.” ucap Bang Bule.


“Aku sedang di Bali.” jawab Alexandria dan terlihat dia lalu mendengarkan suara Bang Bule di telepon seluler nya.


Vadeo kini terlihat bangkit dan mulai berjalan mendekati Alexandria dan selanjutnya dia mengambil alih telepon seluler Alexandria.


“Bule kamu itu mengganggu saja!” ucap Vadeo dengan nada tinggi.


“Bukan Bro, bener aku sekarang sangat membutuhkan bantuan kalian berdua. Tolong Bro, aku kan sudah membantu suksesnya pernikahan kamu kemarin.” ucap Bang Bule dengan nada penuh permohonan.


“Share lokasi kamu berada ya.. Aku akan segera datang. Sudah sekarang lanjutkan pekerjaanmu. Tetapi jangan lupa share lokasi.” ucap Bang Bule lagi lalu dia memutus sambungan teleponnya.


Bang Bule menatap layar telepon seluler nya, dia menunggu kiriman lokasi tempat Vadeo dan Alexandria berada. Dan beberapa saat kemudian ada notifikasi masuk dan dengan segera dia membuka aplikasi chat.


“Besok aku ikut penerbangan pertama.” ucap Bang Bule setelah melihat lokasi Vadeo dan Alexandria berada. Dan selanjutnya Bang Bule terlihat mengusap usap layar telepon seluler nya untuk memesan tiket. Dan setelah melakukan transaksi on line, Bang Bule menaruh lagi telepon seluler nya di meja.


Bang Bule segera kembali berjalan menuju ke tempat tidurnya dan kembali membaringkan tubuhnya sambil tangan nya terus memegang tas mungil Ixora.


Akan tetapi tiba tiba terdengar suara dering di dalam tas mungil Ixora tersebut. Bang Bule pun membuka tas itu, dan diambilnya telepon seluler Ixora. Dan saat dilihat layar telepon seluler Ixora tertera kontak nama MAMA yang sedang melakukan panggilan suara.

__ADS_1


“Diterima tidak ya...” gumam Bang Bule terlihat sangat ragu ragu.


“Pasti dia akan marah marah kepada aku.” gumam Bang Bule lagi. Membayangkan saja dia sudah begidik ngeri.


“Pasti dia akan omong terus sambung menyambung tanpa bisa disela.” gumam Bang Bule lagi lalu membiarkan saja telepon seluler Ixora itu berdering terus menerus hingga berhenti dengan sendirinya. Dan setelah berhenti, Bang Bule menon aktifkan telepon seluler sang kekasih hatinya itu.


Setelah menaruh telepon seluler Ixora yang sudah aktif itu ke dalam tas mungil Ixora. Bang Bule pun mulai memejamkan matanya.


Sedangkan di tempat lain, di mension William. Nyonya William masih terus mencoba menghubungi nomor hand phone Ixora.


"Benar benar kurang ajar Bule itu, tidak mau menerima panggilan dari aku. Sekarang malah dimatikan hand phone Ixora." gerutu Nyonya William


"Sudahlah Ma, kita tidur saja. Mungkin baterai hand phone Ixora sudah habis dan mati dengan sendirinya." ucap Tuan William mencoba untuk berpikir positif. Karena beliau sudah sangat lelah dan merasa bersyukur Ixora selamat. Dia ingin segera istirahat. Nyonya William pun akhirnya juga mulai ikut membaringkan tubuhnya.


Pagi harinya Bang Bule bangun lebih pagi dari hari hari biasanya. Dia segera mandi dan langsung bersiap siap akan berangkat menuju ke bandara.


Bang Bule menaruh tas mungil Ixora di dalam tas ransel besarnya. Setelah menggendong tas ranselnya. Bang Bule melangkah menuju ke pintu kamarnya dan dengan segera dia membuka pintu kamar itu. Bang Bule berjalan menuju ke sofa yang ada di ruang tengah. Di atas sofa itu terlihat ada satu anak buahnya yang tertidur dengan lelap.


Bang Bule lalu menepuk nepuk kaki anak buahnya itu.


“Bang...” ucap anak buahnya yang sudah membukakan matanya meskipun terlihat wajahnya masih mengantuk.


“Bang mau kemana, pagi pagi gini?” tanya anak buah Bang Bule yang kini sudah mulai duduk di sofa.


“Aku mau ke bandara. Kamu jaga dua bocah kemarin. Aku sudah lapor ke polisi kalau ada yang lapor kehilangan anggota keluarga dengan ciri ciri mereka berdua, dua bocah itu aman di dalam tangan kita.” ucap Bang Bule sambil menatap anak buahnya.


“Selesai urusanku aku langsung pulang.” ucap Bang Bule selanjutnya lalu dia melangkahkan kaki menuju ke pintu depan.

__ADS_1


Bang Bule pun segera melangkah ke mobilnya yang akan membawanya ke bandara dan setelahnya mobil akan ditinggal di tempat parkir di bandara.


__ADS_2