Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 11. Isomah


__ADS_3

“Hhhhhhhhmmmmmm.” gumam Alexandria sambil melepas nafasnya.


“Mama tetap tidak bisa menerima penjelasan itu.” Ucap Alexandria sambil menatap Vincent dengan rasa kecewa, sebab tidak bisa membantu Vincent untuk terlepas dari hukuman sang Mama Nyonya William.


“Bang Vincent tidak boleh menemui Ixora.” ucap Alexandria lagi. Tampak ekspresi wajah Vincent kaget, sedih, kecewa bercampur menjadi satu.


“Sudah Vin, terima saja kenyataan sambil menguji cintamu itu..” ucap Vadeo dengan ekspresi ikut sedih juga melihat temannya sedang bersedih.


“Untuk obat agar kamu tidak terlalu sedih dan kecewa kamu boleh menginap di hotel ini gratis aku yang bayar, tetapi di kamar yang standart sana.. jangan ikut ikut kami di sini nanti kamu akan semakin sedih bila di dekat dekat kami.” ucap Vadeo sambil bangkit berdiri lalu menepuk nepuk pundak Vincent.


Waktu pun terus berlalu dan waktu pendaftaran mahasiswa baru pun semakin dekat. Ixora sudah mengambil keputusan untuk masuk di fakultas kedokteran. Di samping itu dia memutuskan untuk menyembunyikan kecantikannya dan juga identitasnya sebagai puteri Tuan William.


“Aku harus bilang ke Papa.” ucap Ixora lalu dia melangkah keluar dari kamarnya. Dia melangkah dengan cepat untuk menuruni anak tangga.


“Ma, Papa di mana?” tanya Ixora saat melihat sang Mama sedang duduk santai di ruang keluarga.


“Di ruang kerja.” jawab Sang Mama sambil pandangan mata dan jari jari tangannya sibuk dengan layar telepon seluler nya.


Ixora pun dengan cepat terus melangkah menuju ke ruang kerja Tuan William.


TOK... TOK... TOK...


Ixora mengetuk pintu dengan tekanan dan kekuatan sedang, sebab sudah hafal tabiat Sang Papa, jika mengetuk dengan suara keras akan disalahkan dan demikian juga jika dengan suara pelan akan disalah pula. Repot.


“Masuk.” terdengar suara bariton dari dalam.


Ixora pun pelan pelan membuka handel pintu dan dengan pelan pula dia mendorong daun pintu itu. Terlihat Tuan William dengan gestur tubuh serius duduk di kursi kerja di depan meja komputernya.


“Pa, aku mau bicara serius dengan Papa.” Ucap Ixora sambil melangkah masuk dan berjalan menuju ke sofa yang berada di dalam ruang kerja itu.


“Hmmmm masalah apa?” tanya Tuan William tanpa menoleh ke arah Ixora.

__ADS_1


“Rencana kuliah Pa.” jawab Ixora. Mendengar kalimat rencana kuliah, Tuan William lalu menutup layar komputernya. Tuan William bangkit berdiri dari kursi kerjanya lalu beliau melangkah menuju ke sofa yang ada di ruang kerja itu.


“Bagaimana rencana kamu?” tanya Tuan William sambil mendudukkan pantatnya di salah satu sofa. Ixora pun sudah duduk di salah satu sofa itu.


“Pa, aku mau mengambil fakultas kedokteran.” jawab Ixora dengan mata yang berbinar binar.


“Bagus, Papa sangat setuju.” ucap Tuan William sambil tersenyum senang.


“Tapi Pa, aku juga mau ambil kuliah di batra.” ucap Ixora lagi.


“Apa itu batra?” tanya Tuan William sambil mengeryitkan dahinya dan menatap Ixora dengan serius.


“Tahuku baterai.” ucap Tuan William lagi dengan nada serius.


“Pengobatan Tradisional, Pa, itu masuk program studi di fakultas vokasi.” jawab Ixora sambil tersenyum.


“Kamu itu aneh aneh saja kuliah di fakultas kedokteran itu lama dan susah masih juga mau kuliah di dua tempat.” ucap Tuan William dengan nada tinggi


“Aku ingin jadi Dokter tetapi dengan pengobatan tradisional Pa. Pengenku bisa mengangkat kearifan lokal masyarakat kita Pa. Juga pengobatan yang minim efek samping.” ucap Ixora menyampaikan mimpinya pada sang Papa, Tuan William.


“Baiklah yang penting kamu tidak kecapekan dan tidak stres dengan kuliah dan tugas tugasnya.” ucap Tuan William sambil mengangguk anggukan kepalanya meskipun dia tidak begitu paham dengan mimpi Ixora.


“Iya Pa... Tapi ada lagi yang ingin aku sampaikan.” ucap Ixora lagi.


“Apa lagi?” tanya Tuan William dengan nada datar.


“Aku mau menyamar jadi gadis jelek dan miskin. Jadi aku mau kost saja Pa.” jawab Ixora


“Apa apaan lagi, pakai menyamar segala.” ucap Tuan William sambil menatap tajam ke arah Ixora. Setelah Ixora menyampaikan alasannya demi keselamatan dirinya akhirnya Tuan William pun menyetujui.


“Ya sudah, Papa juga kuatir temanmu itu masih menaruh dendam kepada dirimu. Juga untuk menguji cinta laki laki kepada dirimu itu.” ucap Tuan William selanjutnya.

__ADS_1


“Pa...” ucap Ixora lagi.


“Apa lagi?”


“Pa, pemilik kampus itu kan Tuan Alfredo. Papa bilang ke dia ya.. yang dipublish data palsuku saja.” ucap Ixora


“Terus kamu mau pakai nama siapa? Isomah?” tanya Tuan William sambil menatap Ixora dan tersenyum.


“Ha... ha... ha... terserah Papa dech orang tua walinya Pak Wagiman, Bapak yang mengurus taman mansion itu saja Pa. Nanti aku keluar dari mansion menuju kost biar diantar Pak Wagiman pakai motornya.” ucap Ixora sambil tertawa kecil.


“Ya sudah, sekarang kamu keluar kamu bilang ke Pak Wagiman sana, aku akan menghubungi Alfredo.” ucap Tuan William lalu dia bangkit berdiri.


“Terima kasih ya.. Pa...” ucap Ixora lalu dia pun bangkit berdiri, tidak lupa dia berjalan mendekati Papanya untuk memeluk dan mencium pipi sebagai ungkapan rasa terima kasih nya. Dan seterusnya dia melangkah meninggalkan ruang kerja Tuan William.


Tuan William pun mengambil telepon seluler nya lalu dia menghubungi Tuan Alfredo. Beliau menyampaikan akan keinginan Ixora untuk menyembunyikan identitasnya demi keselamatan sebab pengalamannya menjadi korban penculikan, pembiusan dan pemberian obat perangsang oleh temannya sendiri, sehingga nyaris menjadi korban pemerkosaan.


“Okey, aku nanti bilang pada bagian yang mengurusi hal itu di dua fakultas yang akan dimasuki Ixora. Aku akan merahasiakan semua ini, sampai waktunya tiba. Termasuk pada Carol puteraku.” ucap Tuan Alfredo dengan nada serius.


“Aku mendukung jika itu untuk keselamatan puteri cantikmu itu. Aku masih berharap kita bisa besanan, gagal memiliki mantu puteri pertama kamu, tidak apa apa puteri keduamu yang menjadi mantuku.” ucap Tuan Alfredo lagi.


Setelah menghubungi Tuan Alfredo. Tuan William lalu melangkah meninggalkan ruang kerjanya. Dia akan menemui isterinya, Bagaimana pun istrinya juga harus mengetahui rencana Ixora.


“Ma, ayo ke kamar..” ucap Tuan William saat sudah sampai di ruang keluarga.


“Masih sore Pa.. kok mau goyang goyang.” ucap Nyonya William masih asyik mengusap usap layar hand phone nya


“Ge er, kepedean kamu itu.” ucap Tuan William sambil terus melangkah menuju ke arah kamarnya.


“Ayo Ma, penting ini.” ucap Tuan William lebih keras karena saat menoleh istrinya belum juga beranjak dari tempat duduknya.


“Heleh penting penting paling juga berakhir dengan goyang goyang.” gumam Nyonya William akan tetapi mau tak mau dia pun bangkit berdiri dan berjalan mengikuti langkah kaki suaminya.

__ADS_1


__ADS_2