
Carol dan Anneke mengabaikan suara dering di hand phone, karena kegiatannya yang sedang tanggung untuk ditinggal kan. Akan tetapi suara dering di hand phone Carol tidak juga mau berhenti. Lama lama Carol pun tidak tenang hati nya. Onderdil nya yang tadi sudah keras menegaang bagai pedang, lama lama mulai melunglai layu mengkerut dan melemah. Dan tentu saja itu membuat Anneke kesulitan memasangkan alat pengaman onderdil Carol. Sudah dicoba oleh Anneke dengan berbagai cara agar kembali lagi mengeras akan tetapi tetap sia sia saja.
“An aku ambil hand phone ku dulu.” Suara Carol lalu dia bangkit berdiri dengan alat pengaman yang baru sebagian terpasang pada onderdil nya . Sedangkan Anneke terlihat tampak kesal. Carol mengambil hand phonenya yang masih berada di dalam saku kemeja nya yang tergeletak di atas pojok tempat tidur Anneke.
Saat hand phone sudah berada di tangannya terlihat nama kontak Sang Papa, Tuan Alfredo tertera di layar hand phone nya melakukan panggilan suara.
“Papa, untung panggilan suara.” Gumam Carol lalu dia segera menggeser tombol hijau.
“Hei kamu di mana? Nyonya William mengatakan kamu sudah pulang sejak tadi. Harus nya sudah sampai Mansion.” Suara Tuan Alfredo setelah Carol sudah menerima panggilan suara nya.
“Sekarang juga pulang sebentar lagi kita akan makan malam bersama keluarga William!” ucap Tuan Alfredo kemudian.
“Kalau tidak segera pulang, jangan salahkan kalau aku mencoret nama mu di kartu keluarga Alfredo.” Ucap Tuan Alfredo lalu memutus sambungan teleponnya.
Carol masih memegang hand phone nya lalu dia segera mengambil pakaiannya yang tercerai berai letaknya. Dengan segera dia memakai pakaian nya.
“Kak, mau ke mana lagi?” tanya Anneke dengan nada dan ekspresi wajah kuatir.
“Kita belum selesai.” Ucap Anneke selanjutnya sambil menggeleyot manja di tubuh Carol yang belum selesai memakai pakaiannya.
“Dilanjut nanti An, aku dipanggil Papa sekarang juga.” Ucap Carol sambil memasang kancing kancing kemejanya.
“Aku tidak mau dicoret dari kartu keluarga Alfredo.” Ucap Carol lagi
Anneke yang sangat kesal dan kecewa hanya bisa mendengus dan tidak bisa mencegah kepergian Carol. Sebab jika Carol tidak dianggap sebagai keluarga Alfredo sama saja obsesi besarnya untuk memiliki anak pewaris keluarga Alfredo akan sirna begitu saja.
__ADS_1
“Awas kalau nanti tidak kembali ke sini. Aku viralkan foto dan video kita.” Ancam Anneke sambil menatap Carol yang mulai melangkah.
“An jangan lakukan. Awas kalau kamu lakukan.” Ucap Carol sambil menoleh ke arah Anneke yang masih berada di tempat tidur.
“Iya iya .. makanya jangan ingkar janji lagi.” Ucap Anneke dengan nada tinggi.
“Kamu harus sabar, ingat posisi mu hanya sebagai isteri siri. Awas kalau kamu macam macam.” Ucap Carol agak keras sambil menoleh lagi menatap Anneke dengan tajam, lalu dia segera membuka pintu kamar Anneke. Tampak Anneke yang kesal hanya bisa melempar, membuang bantal bantal miliknya ke lantai dan seterusnya menggaruk garuk kepalanya, mengacak acak rambut nya sendiri.
Carol pun berjalan keluar dari kamar Anneke. Dengan cepat dia melangkah menuju ke pintu untuk segera keluar dari rumah Anneke.
Carol berjalan menuju ke mobil nya. Sesaat dia merasakan ada sesuatu yang membuat onderdil nya terasa tidak nyaman.
“Sial alat pengaman masih nempel.” Ucap Carol yang kini ingat alat pengaman kecebong belum dia lepas saat dia memakai pakaian tadi karena tergesa gesa.
Sementara itu di Mansion William. Di dalam kamar Ixora, dua gadis cantik kakak beradik sedang berhias karena diajak oleh orang tuanya untuk mengikuti gala diner. Tuan dan Nyonya William memang membohongi kedua anaknya. Mereka mengatakan ada undangan gala dinner oleh perusahaan kolega nya.
“Kak, nanti pasti banyak coker, cogan yang mapan, beken, berkelas.” Ucap Dealova yang sedang memperbaiki alis matanya yang sedikit terkena bedak tabur.
“He... He... ternyata yang datang orang orang tua dengan membawa bocil bocil nya.” Ucap Ixora yang juga sedang memoles wajah nya dengan make up tipis tipis.
“Ha... Ha... ya sudah ga apa apa..” ucap Dealova sambil tertawa
“Heh.. ga boleh menginginkan suami orang.” Saut Ixora sambil memandang wajah adiknya di pantulan cermin.
“Duren yang bawa bocil nya Kak.” Ucap Dealova
__ADS_1
“Heh, hati hati kamu jalan mu masih panjang kalau kamu tergoda duren, langsung disuruh jadi mak nya bocil nya.” Ucap Ixora
“Bocil ngurus bocil berantakan semua.” Ucap Ixora selanjutnya
“Eh Kak, gimana kabar Bang Bule? Maaf ya Kak gara gara mulutku jadi salah paham.” Ucap Dealova mengalihkan topik pembicaraan.
“Ya gitu lah masih adem adem aja.. paling Cuma chat, Beb apa kabar, Beb selamat pagi, Beb selamat siang,...” ucap Ixora
“Terus Kak Ixora jawab apa?” tanya Dealova kemudian
Saat Ixora akan menjawab pertanyaan Dealova terdengar suara dering di hand phone Ixora. Ixora yang masih duduk di kursi rias lalu bangkit berdiri. Sedangkan Dealova terlihat masih memoles bibir nya dengan lipglos .
“Deal Mama.” Ucap Ixora saat melihat ada nama kontak Sang Mama tertera di layar hand phone nya melakukan panggilan suara.
“Apa Ma?” tanya Ixora setelah menggeser tombol hijau.
“Iya Ma, sudah selesai.” Ucap Ixora selanjutnya lalu sambungan telepon sudah diputus oleh Mamanya.
“Ayo Deal, ga usah cantik cantik nanti yang datang Kakek Kakek..” ucap Ixora lalu menyambar tas mungil kesayangannya.
Ixora dan Dealova segera keluar dari kamar dan berjalan menuruni anak tangga. Terlihat di bawah Tuan dan Nyonya William sudah berdiri menunggu mereka Tuan dan Nyonya William memakai pakaian couple . Gaun yang dikenakan oleh Ixora dan Dealova pun berwarna senada dengan pakaian orang tua nya.
“Cantik nya anak anak Mama.” Ucap Nyonya William sambil tersenyum bangga melihat dua anak gadisnya yang tampil cantik menawan dengan gaun elegan nan sopan. Nyonya William juga senang tipu tipu nya sudah sukses membuat Ixora mau ikut makan malam bersama dan tampil cantik pula.
Mereka berempat terus melangkah menuju ke pintu utama Mansion. Ixora dan Dealova terlihat wajahnya tersenyum ceria cantik mempesona.
__ADS_1