
Laki laki itu pun lalu pamit pulang, dan dia akan datang lagi esok hari. Tidak lupa dia mengucapkan banyak terima kasih pada Ixora dan Pak Polisi. Pak Polisi belum menarik biaya pada diri nya akan tetapi kartu identitas dia yang harus ditinggalkan. Laki laki itu pun menyetujui tanpa menaruh curiga. Yang ada dibenaknya hanya ingin sembuh agar bisa pulang untuk melepas rindu pada anak istrinya. Laki laki itu terus tersenyum senangnya berlipat lipat.
Sementara itu Ixora dan Pak Polisi masih membicarakan pasien yang laki laki yang baru saja pulang itu.
“Wajah dia sangat cocok dengan sketsa wajah salah satu dari pelaku.” Ucap Pak Polisi sambil menunjukkan sketsa wajah ke tiga pelaku pada Ixora.
“Iya Pak, dari gejala gatal gatal nya juga sangat cocok dengan apa yang diakibatkan oleh hasil penelitian saya itu.” Ucap Ixora sambil mengamati ketiga sketsa wajah pelaku.
“Pak yang satu memakai kaca mata hitam itu seperti nya orang yang pernah menguntit saya.” Ucap Ixora selanjutnya.
“Kita tunggu besok Nona.” Ucap Bapak Polisi. Dan mereka berdua masih membicarakan tentang rencana penjebakan selanjutnya.
Dan beberapa saat kemudian Ixora mohon diri sebab dia pun masih harus kuliah sore hari.
“Nona, terima kasih sekali atas kerja sama nya.” Ucap Pak Polisi sambil menjabat tangan Ixora.
“Sama sama Pak.” Jawab Ixora dan selanjutnya dia segera melangkah meninggalkan ruko itu dan menuju ke mobil yang masih menunggu di tepi jalan.
“Sekarang ke kampus ya Pak.” Ucap Ixora setelah masuk ke dalam mobil nya, dia pun lalu melepas jas putih nya dan melepas rambut palsu nya. Membersihkan wajah nya dari make up, lalu memoles wajahnya dengan pelembab dan riasan seperti biasanya.
Sementara itu. Laki laki yang tadi berobat terus melajukan sepeda motor nya, dengan bibir terus tersenyum penuh harapan akan kesembuhan nya.
Beberapa menit kemudian sepeda motor yang dia naiki sudah sampai di rumah yang dia tinggali bertiga dengan teman nya. Setelah memarkirkan motornya. Dia dengan segera masuk ke dalam rumah dan akan menceritakan kabar gembira nya.
Dengan segera dia membuka pintu rumah yang tidak terkunci itu. Saat pintu sudah terbuka dan dia belum juga melangkah masuk.
“Bagai mana?” tanya salah satu teman nya sambil berjalan mendekati diri nya.
__ADS_1
“Kamu lihat ini telapak tangan ku yang tadi gatal parah sekarang sudah sembuh Cuma diobati dengan cairan sedikit yang dikeluarkan dari dalam satu kapsul kecil.” Jawab nya sambil melangkah masuk dan menunjukkan telapak tangan nya yang sudah mulai membaik.
“Wah hebat benar, aku juga mau. Sini aku minta satu kapsul dulu.” Ucap teman nya itu sambil melihat lihat telapak tangan teman nya yang sudah sembuh.
“Minta apa, cara mengobatinya di sana. Harus rawat inap. Aku tidak bawa satu kapsul pun.” Ucap laki laki yang baru saja berobat itu lalu berjalan masuk menuju ke kamar nya.
“Hah! Pelit amat kamu!” teriak nya sambil terus menggaruk garuk bagian tubuh nya yang terus saja terasa gatal gatal.
“Kamu kok tidak percaya. Sana kamu daftar saja dan order. Aku belum ditarik biaya. Besok aku akan datang lagi sambil membawa baju ganti dan perlengkapan tinggal di sana.” Ucap laki laki yang baru saja berobat itu lalu dia segera masuk ke dalam kamar nya untuk menyiapkan baju baju yang akan dia bawa besok pagi.
“Ya sudah aku juga mau daftar dan order. Besok kita datang bersama sama ya.” Ucap temannya itu lalu dia pun mengambil hand phone nya karena dia akan mendaftar dan memesan obat gatal juga.
“Hmmm aku juga ingin segera sembuh.” Gumamnya yang tidak lupa masih menggaruk garuk bagian tubuh nya yang gatal gatal.
Sedangkan satu teman nya lagi yang memiliki hobby memakai kaca mata hitam tidak berada di dalam rumah tersebut, orang itu sedang pergi sendiri menghadap sang Bos, meskipun dalam kondisi masih gatal gatal. Sebab akan mendapatkan tugas penting dari Sang Bos.
Di lain tempat di belahan bumi lainnya tepat nya di benua Eropa di negeri Belanda. Bang Bule sedang berada di dalam kamar nya. Sejak dia pulang dari peternakan langsung masuk kamar dan tidak juga keluar keluar. Nyonya Jansen Sang Mama mengawatirkan keadaan anak laki laki nya itu.
“Vin..” teriak Nyonya Jansen sambil memutar handel pintu kamar Bang Bule Vincent yang tidak terkunci itu.
Saat pintu dibuka, tampak Bang Bule sedang sibuk duduk di kursi sambil menatap layar lap topnya yang sedang aktif.
“Vin, kamu sibuk apa? Aku kira kamu sakit karena kecapekan mengurus sapi sapi. Terima kasih ya Vin, kini produksi susu tterus saja naik drastis. Papa akan menambah jumlah sapi lagi. Permintaan untuk eksport sudah ada.” Ucap Nyonya Jansen sambil mendekati anak laki laki nya. Sedang kan Bang Bule hanya diam masih fokus pada layar lap topnya.
“Ma, Ixora dalam bahaya.” Ucap Bang Bule dengan pandangan mata masih terus fokus pada layar lap topnya.
“Apa kasus pencurian kemarin?” tanya Nyonya Jansen yang juga mengikuti berita pujaan hati sang putera nya.
__ADS_1
“Masih ada kaitannya Ma.” Jawab Bang Bule
“Kemarin Ixora kirim nomor orang yang dicurigai mencuri hasil penelitian nya. Dan ini aku buka data data nya terhubung dengan nomor nomor yang memang orang orang yang berbuat jahat pada Ixora.” Ucap Bang Bule sambil masih fokus pada pekerjaan nya.
“Belum pasti, tapi ada sedikit titik terang.” Ucap Bang Bule selanjutnya.
“Kasihan Ixora dia masih muda tetapi banyak orang orang jahat pada diri nya. Padahal dia anak yang baik dan pintar.” Ucap Nyonya Jansen dengan nada sedih.
“Karena dia cantik, baik dan pintar maka banyak yang iri dan tidak suka. Yang sekarang ini sepertinya takut jika usahanya akan hancur karena hasil penelitian Ixora.” Ucap Bang Bule dengan nada serius.
“Apa kamu sudah mendapatkan otak orang yang berbuat jahat itu?” tanya Nyonya William sambil menatap Bang Bule Vincent
“Kamu tolong lah Ixora, siapa tahu ini jalan agar kamu mendapatkan restu dari orang tua nya.” Ucap Nyonya Jansen sambil mengusap usap punggung Bang Bule.
“Ma, aku tulus akan membantu Ixora. Bukannya aku sudah selalu menolong Ixora tetapi tetap saja aku tidak mendapat restu.” Ucap Bang Bule sambil menoleh dan mendongak menatap Sang Mama yang masih berdiri di belakang nya.
“Sabar anak laki laki ku sayang ..” ucap Nyonya Jansen sambil memeluk tubuh Bang Bule dari belakang.
“Akhir nya aku pun menyadari jika cinta mu hanya pada Ixora, dan aku tidak bisa lagi untuk memaksamu untuk mencari gadis lain. Dan aku juga merasa jika Ixora juga mencintai diri mu, hanya perlu menunggu waktu.” Ucap Nyonya Jansen sambil mencium puncak kepala Bang Bule.
“Ma, tapi usia ku semakin bertambah banyak.” Ucap Bang Bule kembali menoleh dan mendongak menatap wajah Sang Mama dengan ekspresi memelas.
“Bukan nya itu semakin baik, orang kan inginnya apa apa serba banyak he... he...” ucap Nyonya Jansen sambil memeluk nepuk pundak Bang Bule Vincent dan Nyonya Jansen tertawa kecil lalu melangkah akan meninggalkan kamar Bang Bule.
“Ma...” teriak Bang Bule Vincent tampak kesal karena malah ditertawakan oleh Sang Mama
“Sudah ayo makan dulu, setiap pilihan kan ada konsekuensi nya..” teriak Sang Mama yang sudah keluar dari pintu kamar Bang Bule.
__ADS_1