Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 102. Ancaman dari Nomor Asing


__ADS_3

Saat Isomah masih mengamati orang misterius itu dan mengingat ingat apa dia pernah melihat nya. Tiba tiba..


“Neng ini sudah.” Suara sang penjual makanan mengagetkan Isomah.


“O ya Bu.” Ucap Isomah sambil bangkit berdiri dia lalu melangkah menuju ke tempat penjual berdiri. Setelah membayar dan menerima bungkusan pesanannya. Isomah membalikkan badannya.


Isomah melangkah untuk keluar dari warung tenda itu. Dengan pelan dia membuka tenda warung, kepala nya melongok longok untuk melihat orang misterius tadi.


“Sudah pergi apa masih di sekitar sini ya?” gumam Isomah dalam hati bertanya pada diri nya sendiri. Isomah pun lantas melangkahkan kaki nya meninggal kan warung tenda itu dan masih dalam mode waspada.


Dengan cepat Isomah melangkah memasuki jalan kecil yang mengarah menuju ke rumah kost nya.


Hingga langkah kaki Isomah sampai di depan rumah kost nya Isomah tidak melihat lagi orang misterius tadi. Isomah pun segera membuka pintu pagar dan masuk ke dalam halaman rumah kost nya.


“Apa dia preman teman yang mengejarku ya.. Apa dia tahu kalau aku Ixora.” Gumam Isomah dalam hati sambil terus melangkah menuju ke kamar nya.


Saat sudah sampai di depan pintu kamar kost nya. Isomah segera membuka kunci pintu kamar nya dan dengan segera pula dia membuka daun pintu dan cepat cepat masuk ke dalam kamar nya.


Isomah segera menekan saklar lampu dan dia pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan menyegarkan tubuhnya setelah seharian penuh dengan kesibukan.


Beberapa menit kemudian Isomah sudah keluar dari kamar mandi, dia sudah dengan tubuh bersih dan segar. Namun dia belum membersihkan make down nya untuk berjaga jaga jika ada orang yang mengetuk ngetuk pintu kamarnya. Membersihkan wajahnya dari make down saat nanti akan pergi tidur.


Isomah pun menuju ke meja belajar nya di mana tote bag nya tadi dia taruh di sana. Isomah segera mengambil hand phone nya dia sangat ingin tahu apa sudah ada balasan dari panitia lomba.


Saat hand phone nya sudah aktif banyak notifikasi masuk. Namun saat dibuka belum ada balasan dari panitia lomba. Ada pesan chat dari Nindy yang mengucapkan banyak terima kasih dan dia menanyakan apa benar Richardo yang sudah membantu biaya rumah sakit yang sekarang sudah pindah di kamar dan fasilitas vip. Dan banyak pesan chat dari Bang Bule yang mengkhawatirkan dirinya sekaligus merindukan nya. Isomah pun segera membalas pesan chat ke dua orang itu.

__ADS_1


Setelah selesai membalas chat pada Nindy dan Bang Bule Sayangku, tiba tiba mata Isomah terbelalak saat ada pesan dari nomor tidak dikenal yang setelah dibaca isi pesannya mengancam dirinya.


“JANGAN COBA COBA KAMU MINTA BANTUAN HUKUM PADA SIAPA PUN. KALAU MASIH INGIN HIDUP!”


Isomah segera menaruh hand phone di atas meja belajarnya.


“Apa Kak Carol ya atau orang tadi suruhan Kak Carol.” Gumam Isomah dalam hati.


“Atau orang yang memfitnah aku, pemilik akun itu atau hanya suruhan dari otak pelakunya.” Gumam Isomah lagi sambil terus berpikir pikir.


“Aku suruh saja Tuan Richardo segera mengungkap siapa pelaku yang sudah memfitnah aku. Aku harus lebih waspada. Ternyata dengan penampilan ku sebagai Isomah saja masih juga mendapat bahaya.” Gumam Isomah kemudian lalu dia mengambil bungkusan makanannya karena perutnya sudah mulai terasa lapar.


Sementara itu di rumah Bang Bule Vincent. Richardo sedang berada di dalam kamar nya, dia masih penasaran dengan seorang laki laki berkaca mata hitam dan berjaket kulit yang hilang dari kejaran nya.


“Sepertinya Nency sudah pulang.” Gumam Richardo lalu dia keluar dari kamar nya dan menyuruh anak buah Bang Bule yang kini sudah jadi menjadi anak buahnya, untuk memanggil Nency agar menghadap pada diri nya.


“Tadi aku lihat kamu berbicara dengan laki laki berkaca mata hitam dan berjaket kulit. Siapa dia?” tanya Richardo to the point sambil duduk di kursi teras di depan Nency.


“Tidak kenal Tuan.” Jawab Nency dengan nada suara agak takut takut.


“Apa kamu menjawab dengan benar?” tanya Richardo lagi sambil tangannya mengusap usap layar hand phone nya untuk membuka sebuah aplikasi .


“Benar, dia tadi bertanya apa saya kenal dengan orang buta gembel yang tadi datang ke sini.” Ucap Nency sambil menatap Richardo


“Isomah maksudmu?” tanya Richardo sambil melotot ke arah Nency dalam hati dia tidak terima Isomah dikatakan gembel buta.

__ADS_1


“Iya Tuan, juara penipu itu. Apa Tuan akan membantu dia. Hari hati Tuan kalau membantu dia pasti Tuan Carol Alfredo akan marah. Sudah ada pengumuman di kampus.” Ucap Nency dengan nada serius sambil menatap wajah tampan Richardo.


“Dia tanya apa lagi?” tanya Richardo yang masih kepo


“Hmmm apa ya.. “ gumam Nency tampak mengingat ingat


“Itu Tuan, tanya siapa yang mengantarnya itu.” Ucap Nency selanjutnya.


“Owh..” gumam Richardo paham makanya Nency tadi sempat menoleh ke arahnya


“Tadi Tuan Richardo mengantar gembel buta itu kan..” ucap Nency lagi dengan nada suara manja karena dia pun ingin diantar ke kampus oleh Richardo.


“Gembel gembel kamu itu yang gembel.” Ucap Richardo sambil melihat layar hand phone nya dia sedang membuka aplikasi yang digunakan untuk mengawasi Nency dan binaan lainnya. Di aplikasi itu juga bisa untuk mendeteksi kebohongan perkataan orang. Dan dari jawab an Nency tidak ada indikasi kebohongan.


“Sudah sana kamu kembali ke tempat mu. Hukumanmu aku tambah kalau kelakuanmu tidak berubah.” Ucap Richardo sambil bangkit berdiri dan memasukkan hand phone di saku celana panjangnya.


“Tuan saya sudah tidak berbuat jahat pada Ixora kenapa akan ditambah hukuman saya.” Ucap Nency sambil mendongak menatap wajah Richardo yang tidak memperhatikan diri nya.


Richardo pun tidak memedulikan ucapan dari Nency dan dia terus melangkah masuk ke dalam rumah dan segera menutup daun pintu.


“Ihhhh ganteng ganteng sombong lihat wajah ku saja tidak malah nempel pada gembel.” Suara Nency menggerutu lalu mau tak mau dia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke gedung belakang.


Sementara itu Richardo terus masuk ke dalam kamar nya.


‘Sepertinya orang misterius itu ada hubungannya dengan kejuaraan lomba penelitian yang diikuti oleh Isomah.“ gumam Richardo lalu dia segera menuju ke meja kerja nya. Richardo pun lantas duduk di kursi kerja nya.

__ADS_1


Sesaat hand phone Richardo yang masih di dalam saku celana panjangnya berdering. Tangan Richardo pun segera meraih hand phone nya. Saat di lihat layar hand phone nya tertera sederet angka yang melakukan panggilan suara kepada diri nya.


“Siapa yang menghubungi aku, nomor asing.” Gumam Richardo yang belum juga menggeser tombol hijau.


__ADS_2