
Laki laki bertubuh tambun itu lalu segera memutus sambungan teleponnya.
“Apa yang terjadi?” Tanya laki laki bertubuh tambun itu pada perempuan yang menjaga Nyonya William dengan nada panik dan khawatir karena mendengar suara orang kesakitan di luar rumah nya, yang mana orang yang berada di luar rumah yang dia tahu adalah dua sopir yang sedang menjaga.
“Kenapa kamu masih di sini?” bentak bos tambun itu pada perempuan yang menjaga Nyonya William yang juga tampak panik. Bos tambun lalu segera keluar dari kamar yang ditempati oleh Nyonya William. Perempuan itu lalu juga akan melangkahkan kaki mengikuti bos tambun. Akan tetapi tiba tiba dia menghentikan kaki nya dan menoleh ke arah Nyonya William.
“Awas jangan melarikan diri kamu!” ucap nya pada Nyonya William dan selanjutnya dia segera mengikuti langkah kaki bos tambun.
Saat sampai di ruang tamu tampak bos tambun masih mengintip dari balik jendela yang dibuka sedikit tirai nya.
Akan tetapi dia tidak bisa melihat apa apa selain hanya melihat remang remang dua buah mobil yang terparkir. dia hanya mendengar suara dua sopir yang masih mengerang kesakitan. Sepertinya dua sopir itu berada di balik mobil.
Sementara itu tadi di luar rumah yang gelap gulita, Bang Bule dan Marcel setelah menembak kaki dua orang sopir yang berjaga itu dengan senjata api tanpa suara. Lalu mereka berdua berada di samping pintu dan menarik dengan cepat dua orang laki laki suruhan Bos Tambun yang keluar dari rumah saat mendengar teriak dua sopir yang berjaga. Dan seterusnya membekap dengan segera mulut dan hidung dua orang suruhan itu, dengan teknik ilmu bela diri tingkat tinggi nya Bang Bule dan Marcel segera membuat dua orang laki laki suruhan Bos Tambun itu terkapar pingsan tanpa mengeluarkan teriakan dari mulutnya. Dan dengan cepat pula mereka satukan dengan dua orang sopir yang masih mengerang kesakitan.
“Kamu buat orang yang masih berada di dalam agat keluar, aku cek jendela jendela kamar untuk mencari Nyonya William.” Bisik lirih Bang Bule saat sudah memastikan dua orang laki laki itu sudah benar benar pingsan.
Marcel pun lalu berjalan dan tangan nya menarik tubuh sopir yang masih mengerang kesakitan itu.
“Ampun... tolong....” teriak sopir itu.
Sementara itu Bos Tambun yang melihat ada sosok orang yang belum dikenalnya dan sudah membuat sopir kesakitan, mulai naik darah.
“Siapa dia kenapa bisa berada di sini?” teriak Bos Tambun sambil menoleh perempuan yang berada di dekat nya ikut mengintip keadaan luar dari jendela.
“Tidak tahu Tuan, teman saya di mana?” ucap perempuan itu malah balik bertanya.
“Hah, harus aku habisi orang itu.” Ucap Bos Tambun sambil melangkah menuju ke pintu.
__ADS_1
“Hai siapa kamu kenapa berani berani masuk ke wilayah ku.” Teriak Bos Tambun dengan tangannya lurus ke depan sambil memegang senjata api.
“Ayo keluar.” Teriak Bos Tambun lagi.
Marcel yang kembali bersembunyi di balik mobil dan terus membuat perhatian agar Bos Tambun semakin mendekat pada dirinya.
Sementara itu Bang Bule mengecek jendela jendela kamar. Dengan senjata pisau lipat nya yang super lengkap dia mencungkil jendela. Dia buka daun jendela yang sudah dia cungkil itu.
“Kosong.” Gumam Bang Bule dalam hati saat melihat kamar itu kosong. Bang Bule lalu berjalan dengan langkah lebar nya menuju ke jendela yang lain nya.
Bang Bule pun segera mencongkel jendela yang lainnya.
Sementara itu Nyonya William yang mendengar ada suara di jendela nya. Dia ketakutan dan bingung antara mau keluar kamar atau tetap berada di dalam kamar.
“Apa ada binatang yang memangsa manusia.” Gumam Nyonya William yang tiba tiba berpikir tadi suara teriak orang di luar karena serangan bintang.
“Apa maling.” Gumam Nyonya William selanjutnya sambil melangkah menuju ke pintu kamar dia akan keluar kamar untuk menghindar dari maling yang akan masuk ke dalam kamar yang dia tempati.
“Nyonya William, mari pergi lewat sini.” Suara lirih Bang Bule mengagetkan Nyonya William dan langsung menoleh ke arah suara.
“Kamu Bul?” ucap Nyonya William tampak kaget kedua bola mata Nyonya William pun tampak membesar sebab kaget tidak menyangka Bang Bule ada di depan nya.
“Apa kamu yang menculik aku?” tanya Nyonya William malah curiga pada Bang Bule sebagai otak penculikan pada diri nya agar mendapat restu nya.
“Nyonya jangan teriak teriak, kita tidak punya banyak waktu.” Ucap Bang Bule sambil meloncat dari jendela dan masuk ke dalam kamar. Sebab Nyonya William malah curiga kepada dirinya.
“Apa kamu benar mau membantu ku...?” tanya Nyonya William masih ragu ragu sebab dia sudah memperlakukan Bang Bule dan orang tua nya dengan tidak baik.
__ADS_1
Di saat Nyonya William masih ragu ragu dan Bang Bule menjawab dangan menganggukkan kepala nya. Tiba tiba pintu kamar terbuka dengan keras.
BRAKKK
Muncul sosok seorang perempuan yang tadi ke luar mengikuti Bos Tambun. Dia kembali ke kamar yang ditempati oleh Nyonya William karena disuruh Bos Tambun untuk menjaga tawanan apalagi dia mendengar suara Nyonya William berbicara.
“Ooo mau ada orang yang menolong, untung aku segera datang.” Ucap perempuan itu sambil menarik tangan Nyonya William.
“Bul.. Tolong aku..” teriak Nyonya William yang tidak mau melangkah menurut tarikan tangan perempuan itu.
Bang Bule pun segera melangkah mendekati Nyonya William dan perempuan itu. Bang Bule berusaha untuk melepas tangan perempuan itu yang terus memegang tangan Nyonya William dengan sangat kencang. Perempuan itu melepas pegangan tangan nya pada Nyonya William akan tetapi dia menghantam dengan keras tubuh Bang Bule, akan tetapi hantaman itu tidak berasa bagi syaraf tubuh Bang Bule yang terus berlatih meskipun sibuk mengurus sapi sapi.
Dan terjadilah saling hantam dan tendang yang tidak seimbang. Nyonya William yang melihat hal itu dia menyingkir pelan pelan mendekati jendela yang sudah berbuka. Dia akan melarikan diri.
Tidak menunggu lama perempuan itu sudah roboh tidak bergerak gerak dan pingsan karena ilmu bela diri Bang Bule.
“Ayo Bul, cepat pergi dari sini, sebelum buntalan itu datang.” Ucap Nyonya William yang sebenarnya minta tolong pada Bang Bule sebab dia tadi sudah mau kabur lewat jendela akan tetapi ternyata jarak dengan lantai di bawah cukup tinggi.
Bang Bule pun segera melangkah dan dengan segera dia menaruh tas ransel nya ke depan dan menyuruh Nyonya William nempel di punggung nya. Dan Nyonya William pun menurut dalam gendongan belakang Bang Bule. Bang Bule segera meloncat turun keluar dari jendela. Kaki Bang Bule tetap kokoh menopang tubuh nya yang menggendong Nyonya William. Dan masih mengendong Nyonya William Bang Bule melangkah dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Sesaat Bang Bule masih melangkah untuk menuju ke tempat motor nya terparkir tiba tiba terdengar bunyi siulan kode dari Marcel.
SUUUUUUUUIIIIIIITTTTT
Mendengar kode itu, Bang Bule segera menurunkan tubuh Nyonya William dari punggungnya.
“Kok, kamu turunkan aku!” suara Nyonya William dengan nada tinggi.
__ADS_1
“Kamu sudah tidak mau lagi menolong aku. Lihat aku tidak memakai alas kaki, sakit kaki ku jika harus berjalan.” Ucap Nyonya William lagi. Dia mulai khawatir jika Bang Bule ingat perlakuan nya pada Bang Bule dan orang tua nya sehingga membuat Bang Bule tidak mau lagi menolong nya.
“Nyonya mari kita lihat teman saya.” Ucap Bang Bule segera melangkah menuju ke tempat Marcel tadi.