
Hand phone Bang Bule sudah mati secara otomatis karena kehabisan baterai yang tidak dia sadari karena sejak tadi resah, gelisah dan gulana hatinya karena kedatangan Anneke yang membawa berita tentang Ixora. Bang Bule terus memacu mobilnya dengan kecepatan penuh agar bisa sampai ke rumahnya.
Sementara itu Anneke pun juga melajukan mobilnya meninggalkan rumah makan itu. Dia menyesali kenapa tidak merekam pembicaraan Tuan Alfredo dan Carol tentang perjodohan itu.
“Sial, kenapa Bule Keren itu tidak percaya begitu saja dengan omonganku.” Ucap Anneke sambil memukul mukul kemudi mobilnya.
“Bodohku juga tidak merekam pembicaraan itu.” Ucapnya lagi yang kini tangan kirinya memukul kepalanya sendiri akan tetapi tentu saja tidak dengan keras.
“Aku harus berusaha mencari bukti agar Bule Keren itu percaya.” Ucapnya kemudian sambil mengangguk anggukan kepala memberi semangat pada pada dirinya sendiri.
“Hmmm bukannya besok pagi jadwal mediasi Kak Carol dengan pelapor.” Gumam Anneke dengan mata berbinar binar sebab dia mendapatkan ide untuk mendapatkan bukti.
“Aku coba saja besok tanya ke Kak Carol dan aku rekam secara diam diam.” Ucap Anneke sambil tersenyum senang lalu dia menambah laju kemudi mobilnya rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Carol esok pagi.
Waktu pun terus berlalu, di rumah Bang Bule terlihat suasana sepi sebab anak buah dan orang orang binaan sedang rekreasi ke luar kota. Bang Bule memang memberi jadwal agar mereka melakukan rekreasi bersama akan tetapi masih dengan pengawasan. Richardo dan Eveline yang bertugas mengawasi mereka semua. Akan tetapi tetap ada beberapa orang yang bertugas menjaga rumah dan markas.
Bang Bule sudah berada di dalam rumahnya sejak tadi. Dia sudah mandi keramas agar segar dan isi di dalam kepalanya juga turut segar yang mendadak beku karena pertemuannya dengan Anneke.
Bang Bule meraih hand phone nya yang baterai nya sudah terisi penuh dengan energi listrik. Bang Bule segera mengaktifkan hand phone nya.
Saat semua program di hand phone sudah aktif betapa kagetnya Bang Bule karena banyak notifikasi masuk. Apalagi yang terbanyak adalah pesan dari Ixora yang menanyakan sedang apa dan di mana juga dengan siapa.
__ADS_1
“Hmmm gara gara orang stres itu bikin stres orang lain juga.” Gumam Bang Bule lalu melakukan panggilan pada Ixora, akan tetapi sekarang gantian hand phone Ixora yang sudah mati.
Bang Bule lalu mencoba melacak keberadaan Ixora, dan ternyata kini Ixora sudah berada di mansion Willam. Bang Bule selanjutnya menghubungi Alexandria dia akan menanyakan tentang berita perjodohan Ixora yang baru saja dia dengar.
Akan tetapi sudah berkali kali melakukan panggilan tidak juga terhubung.
“Apa iya sih siang siang gini mereka berdua masih enak enakan.” Gumam Bang Bule lalu dia mencoba menghubungi nomor Vadeo.
“Ada apa Bro?” suara Vadeo langsung terdengar di hand phone Bang Bule, sampai Bang Bule kaget karena panggilan suaranya langsung diterima oleh Vadeo.
“Hmmm aku kira kalian sedang enak enakan bikin baby... aku menghubungi Alexa berkali kali kenapa tidak diangkat.” Ucap Bang Bule kemudian
“Ha.. Ha... sedang istirahat Bro, Alexa sedang mandi tuh.. aku lihat kamu berkali kali menghubungi Alexa, nih hand phone Alexa juga ada di tanganku . Sengaja tidak aku angkat ha... Ha....” ucap Vadeo sambil tertawa
“Bro, ini penting aku dapat berita kalau Ixora dijodohkan dengan Carol, apa benar Bro? Apa kamu dan Alexa sudah tahu?” tanya Bang Bule kemudian dengan suara bersemangat karena ingin segera mendapat jawaban kepastiannya.
“Hah? Semakin berat perjuanganmu Bro, aku belum tahu.” Jawab Vadeo dengan nada sangat kaget. Ekspresi wajahnya pun kaget akan tetapi tidak dilihat oleh Bang Bule sebab mereka melakukan panggilan suara.
“Coba nanti aku tanya Alexa. Aku dan Alexa ini juga sedang di mansion Willam, kalau Alexa belum tahu biar nanti dia tanya ke Nyonya William.” Ucap Vadeo selanjutnya dia ikut prihatin dengan nasib cinta sahabatnya jika Ixora dijodohkan dengan Carol.
“Benar ya Bro, tolong tanyakan. Nasib cintamu enak langsung dapat restu.” Ucap Bang Bule selanjutnya
__ADS_1
“Sama saja Bro, bukannya perjuanganku untuk mendapatkan Alexa juga lebih lama sejak aku SD dan aku keliling dunia untuk mencari Alexa yang disembunyikan oleh keluarga William. Kamu baru beberapa bulan saja sudah mengeluh.” Ucap Vadeo selanjutnya mengingatkan perjuangan untuk mendapatkan Alexa juga sangat berat.
Mereka berdua pun akhirnya mengakhiri panggilan suara lewat hand phone nya. Bang Bule lalu terlihat sibuk mengetik ngetik untuk mengirim pesan teks di aplikasi chatting pada Ixora. Akan tetapi hanya centang satu.
“Hmmm aku tidak akan katakan pada Vadeo kalau aku sampai menyamar menjadi Kakek Penjual Obat, bisa tertawa sampai terpipis pipis dia kalau tahu.” Gumam Bang Bule lalu menaruh hand phone nya di meja. Bang Bule pun lalu berjalan menuju ke tempat tidurnya dan dia membaringkan tubuhnya.
“Kalau Ixora benar benar dijodohkan dengan Carol, apa aku ajak kabur saja Ixora.” Gumam Bang Bule dalam hati
“Tapi bagaimana dengan cita cita Ixora ?” tanya Bang Bule pada dirinya sendiri.
“Apa aku ajak Ixora ke Belanda, Mama pasti akan sangat bahagia keinginannya aku agar segera menikah bisa terlaksana. Ixora bisa kuliah di sana, tetapi bagaimana dengan cita cita Ixora yang ingin ahli juga dalam pengobatan tradisional, di negara Barat susah mendapatkan ilmu itu. Pasti Ixora tidak setuju ke Belanda.” Gumam Bang Bule yang tampak berpikir keras.
Saat Bang Bule masih berpikir keras, terdengar suara dering di hand phone nya. Se saat dia bangkit berdiri dan berjalan mengambil hand phone nya. Saat di lihat di layar hand phone nya terlihat kontak nama Mamanya yang sedang menghubungi dirinya.
“Hmmm benar ada ikatan batin antara anak dan ibunya.” Gumam Bang Bule lalu segera menggeser tombol hijau.
“Hallo Mam, apa kabar? Mama sehat kan?” suara Bang Bule setelah menggeser tombol hijau. Mamanya Bang Bule juga fasih dalam berbahasa Indonesia sebab dia dulu lama hidup di Indonesia. (Di samping itu othor nya yang tidak bisa bahasa Belanda hi.. hi..).
“Mama yang harus tanya bagaimana kabarmu, apa kamu sudah mendapatkan calon isteri? Kalau belum segera pulang ke Belanda Mama akan carikan isteri buat kamu. Kalau sudah punya segera pulang juga, kenalkan pada Mama.” Suara Nyonya Jansen yang semakin menambah pusing kepala Bang Bule.
“Mama pesankan tiket buat kepulanganmu.” Ucap Nyonya Jansen lagi
__ADS_1
Bang Bule tangan kanannya memegang hand phone, sedang tangan kirinya memijit mijit pelipisnya yang mendadak terasa nyut nyutan.
“Vin.. apa kamu masih di situ, apa kamu dengar suara Mamamu ini?”