
Tiga orang laki laki yang memakai jaket hitam hitam itu terus saja melangkah mengendap endap menuju ke pintu gedung misterius itu. Petugas penjaga pintu gerbang sudah dia tipu dan kemudian dia bius, lalu ditidurkan di tempat pos jaga nya.
Mereka bertiga akan mengambil barang curiannya yang masih disimpan oleh Bos nya.
“Kita ambil beberapa dan Bos kita kasih satu saja.” Ucap salah satu laki laki sambil berjalan mengendap endap dan berjingkat jingkat agar tidak menimbulkan suara meskipun mereka semua kini hanya bertelanjjang kaki saja alias tidak memakai sepatu atau pun sandal agar langkah nya tidak bersuara.
“Iya, aku juga curiga kita tidak akan dikasih kalau tidak mengambil sendiri.” Saut yang satunya lagi.
“Iya paling biar Bos, kuat dan awet muda sendiri. Curang kita yang capek capek dan penuh dengan resiko tidak akan diberi hasil nya.” Tambah yang lainnya.
“Untung aku bawa kunci ruang itu.” Ucap laki laki yang berjalan paling depan.
Mereka bertiga pun terus masuk ke dalam gedung itu, kini mereka bertiga sudah berada di dekat pintu gedung. Hanya satu orang yang berdiri di depan pintu dan dua orang lain nya berdiri agak jauh sambil berjaga jaga mengawasi, meskipun penjaga pintu gerbang sudah mereka bius.
Sesaat kemudian pintu gedung itu sudah terbuka, satu orang masuk ke dalam dan dua orang lainnya turut serta mengikuti dengan terus dalam mode waspada.
Mereka bertiga terus melangkah menuju ke ruangan misterius tempat Bos mereka menyimpan barang yang mereka curi kemarin. Mereka bertiga pun ingin kuat dan awet muda.
Dengan pelan pelan salah satu dari mereka membuka kunci pintu ruang misterius itu. Dan sesaat kemudian pintu terbuka tampak gelap isi di dalam ruangan itu.
Mereka bertiga pun mulai masuk ke dalam ruangan itu secara bergilir satu per satu. Dan yang terakhir menutup pintu ruang an misterius dengan pelan pelan. Ruang dibiarkan gelap Mereka tidak menyala kan lampu di dalam ruangan itu. Salah satu dari mereka memakai senter yang remang remang nyala nya untuk membantu agar ada cahaya menuju ke lemari.
“Kamu tahu tempat di mana Bos menyimpan nya?” tanya salah satu dari mereka yang berjalan mengikuti laki laki yang membawa senter.
“Tahu pasti di lemari itu. Kamu jangan berisik.” Jawab laki laki yang berjalan paling depan dan tangannya membawa senter kecil yang cahaya nya hanya remang remang.
“Apa kamu bawa kunci nya?” tanya nya lagi salah satu dari mereka.
“Sudah dibilang jangan berisik masih saja cerewet.” Jawab laki laki yang membawa senter dengan nada kesal.
__ADS_1
“Tinggal jawab iya atau tidak saja malah kamu juga berisik dan cerewet.” Ucap laki laki yang bertanya tadi. Namun tiba tiba kepalanya dijitak oleh teman satunya yang tidak membawa senter yang sejak tadi hanya diam saja berjalan mengikuti di bagian paling belakang.
Sesaat kemudian orang yang membawa senter itu sudah berada di depan lemari di pojok ruangan.
Laki laki yang membawa senter itu lalu membuka lemari dengan kunci duplikat yang dia bawa. Dan tidak lama kemudian pintu lemari itu terbuka. Laki laki itu menyoroti isi di dalam lemari dengan senter kecil nya.
“Ha... Ha... benar ada di sini.” Ucap nya sambil tertawa lirih.
“Cepat ambil, sini aku bantu bawa. Kita tinggalkan satu saja untuk Bos.” Ucap salah satu laki laki yang berada di belakang laki laki yang membawa senter itu.
“Iya.” Jawab laki laki yang membawa senter sambil tangan kanannya mengambil satu tabung reaksi dan tangan kiri nya masih memegang senter sambil menyoroti isi di dalam lemari.
Dan tiba tiba....
BYAR..
KOMPYANG .. TARRR
Tabung reaksi yang sedang diambil oleh laki laki yang membawa senter itu jatuh dan pecah, serbuk serbuk putih isi di dalam tabung reaksi itu pun jatuh berceceran tersebar di lantai.
“Apa yang kalian lakukan?!” suara berat seorang laki laki yang sangat familiar di telinga mereka bertiga.
Mereka bertiga pun menoleh ke arah suara itu. Dan dilihatnya satu sosok laki laki setengah baya bertubuh tambun dengan perut yang buncit memakai baju piyama bergaris garis. Berdiri di dekat saklar lampu.
Ketiga laki laki kaget nya menjadi tiga kali. Tadi kaget tiba tiba lampu menyala lalu kaget tiba tiba ada Bos nya, yang tidak lain adalah Tuan Misterius dan kaget ketiga adalah pintu ruangan tetap tertutup dan mereka bertiga tidak mendengar ada suara pintu terbuka.
“Tuan kenapa tiba tiba ada di dalam ruangan ini?” tanya salah satu di antara mereka.
“Kalian belum menjawab pertanyaanku!” bentak suara berat laki laki bertubuh tambun itu.
__ADS_1
“Kami hanya memastikan barang barang masih aman.” Ucap laki laki yang membawa kunci dan senter sambil tangan masih bergetar karena takut.
“Kalian malah membuat barang itu jatuh berantakan untung hanya satu yang jatuh dan pecah. “ Teriak laki laki bertubuh tambun itu dengan mata melotot melihat serbuk putih yang berceceran tersebar di lantai.
“Bersihkan sekarang, dan kumpulkan! itu yang buat untuk kalian. Kalian bagi untuk bertiga. Bagi yang adil!” Perintah laki laki bertumbuh tambun itu lalu dia mengambil tiga lembar kertas hvs di atas meja kerja nya dan dia berikan pada salah satu anak buah nya itu, untuk tempat serbuk putih putih mereka bertiga
Ketiga laki laki yang berjaket hitam itu pun lalu segera jongkok dan berebut untuk mengumpulkan serbuk putih yang sudah tumpah berhamburan di lantai, mereka berebut agar mendapatkan serbuk lebih banyak dari yang lainnya. Sedangkan laki laki yang bertumbuh tambun itu duduk di kursi nya untuk mengawasi ketiga anak buah nya yang sedang sibuk berebut.
“Jangan lupa kaca kaca itu juga dibersihkan!” perintah laki laki bertumbuh tambun itu.
“Baik Tuan.” Jawab mereka serempak bersamaan dan sesaat mata mereka menatap ada karpet terhampar di bawah kursi kerja Bos nya itu dan juga ada satu buah bantal.
“Bos menjaga dengan tidur di lantai.” Gumam mereka dalam hati sambil terus bekerja.
Akan tetapi tiba tiba.
Salah satu dari mereka mulai menggaruk garuk tangannya. Dan sesaat kemudian kedua temannya juga mulai menggaruk garuk tangannya.
“Kok gatal ya tanganku.” Gumam salah satu dari mereka. Dan tidak lama kemudian dia juga menggaruk garuk telapak kaki nya.
“Iya, kaki juga mulai gatal.” Ucap yang lainnya dan karena saking tidak kuat nya dia pun tidak lagi jongkok akan tetapi dia duduk nglesot, mendudukkan pantatnya di lantai sambil menggaruk garuk telapak kaki nya dan tangannya secara berulang ulang. Dua teman lainnya pun juga mengikuti cara duduknya.
Sang Bos tambun pun mengernyitkan dahinya melihat ketiga anak buahnya duduk di lantai sambil garuk garuk kaki dan tangan mereka. Kelakuannya mereka bertiga mirip monyet yang sedang garuk garuk. Lama lama mereka pun juga menggaruk garuk pantat nya mungkin karena mereka duduk di lantai hingga serbuk pun sampai masuk ke pantat lewat pori pori kain celana nya atau efek serbuk sudah masuk ke dalam tubuh dan mengikuti aliran darah.
“Tuan apa lantai ruang ini tidak pernah di pel dengan benar?” tanya salah satu dari mereka sambil masih menggaruk garut bagian tubuh nya yang gatal.
“Tidak tahu kalian tanya saja pada petugas cleaning service.” Jawab Laki laki bertubuh tambun yang masih duduk di kursi.
“Itu upah nya kalian mau mengambil tanpa seizin aku. Kamu kira aku bodoh tidak menjaga barang yang sangat berguna untuk membuat aku awet muda meskipun sudah tua ha... Ha... Ha...” suara dan tawa Bos tambun yang senang karena mengira anak buah nya gatal gatal bukan efek dari penelitian Ixora tapi efek kontaminasi dengan debu lantai.
__ADS_1