
“Pergi ke mana dia malam malam begini.” Gumam Nyonya Alfredo lalu dia melangkah meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju ke kamar nya lagi untuk melaporkan pada Tuan Alfredo, sang suami.
Beberapa saat kemudian Nyonya Alfredo sudah berada di depan pintu kamar nya. Nyonya Alfredo segera memutar handel pintu dan dengan cepat dia mendorong daun pintu.
“Mana anak itu?” tanya Tuan Alfredo saat melihat sang istri sudah masuk lagi ke dalam kamar seorang diri.
“Tidak ada di dalam kamar nya, kata pelayan dia pergi keluar Mansion.” Jawab Nyonya Alfredo
“Anak tidak mau diuntung!” ucap Tuan Alfredo dengan penuh emosi.
Sementara itu di lain tempat. Carol yang berkali kali kecewa, karena acara week end keluarga Alfredo dengan keluarga William yang selalu gagal. Dia menumpahkan kekecewaan nya itu dengan berweek end ria dengan Anneke.
Carol yang merasa onderdil nya sudah aman tidak bisa menghamili perempuan, maka dia dengan santai celap celup tanpa ada rasa kuatir. Dan tentu saja itu membuat Anneke bahagia tidak terkira. Setiap pagi hari Anneke selalu mengetes air seni nya dengan test pack. Dia selalu berharap hasil nya garis dua akan tetapi harapannya sia sia belaka.
Seperti pada malam ini, setelah mendengar kabar acara week end batal lagi. Carol langsung melajukan mobil nya menuju ke rumah Anneke.
Carol yang sudah dianggap sebagai menantu sesungguhnya oleh orang tua Anneke. Dia sudah dipercaya membawa kunci duplikat pintu rumah Anneke.
Tanpa pakai mengetuk ngetuk pintu atau menekan bel tamu. Carol langsung membuka kunci pintu rumah orang tua Anneke. Setelah membuka pintu rumah Carol langsung berjalan menuju ke kamar Anneke.
“Sayang, aku sudah menunggu mu. Aku yakin kamu pasti akan menghabiskan week end bersamaku lagi.” Ucap Anneke yang berbaring di tempat tidur saat melihat Carol masuk ke dalam kamar nya.
“Kamu pasti sudah kecanduan dengan segala yang ada pada diriku juga segala sentuhan ku dan hmmmmm ..” ucap Anneke sambil menatap dengan penuh gairah pada Carol yang sedang berjalan menuju ke arah nya.
“Nanti kita perbanyak durasi nya ya...” ucap Anneke lagi yang sangat berharap kegiatannya nanti bisa membuat nya hamil.
__ADS_1
Carol hanya diam dia saja lalu dia segera meloncat ke atas tempat tidur.
“Ach seperti nya suami ku sudah tidak sabar.” Ucap Anneke sambil langsung memeluk tubuh Carol.
Akan tetapi belum juga Carol menyentuh tubuh Anneke terdengar suara dering di hand phone Carol yang berada di dalam saku bajunya.
Carol segera mengambil hand phone nya dari saku baju nya. Saat dia melihat di layar hand phone nya tertera nama Sang Papa sedang melakukan panggilan suara.
“Kamu di mana sekarang?” tanya Tuan Alfredo saat Carol sudah menggeser tombol hijau.
“Pulang sekarang juga!” perintah Tuan Alfredo sebelum Carol berucap
“Kamu itu tidak berusaha untuk mendapatkan hati Ixora, malah melarikan diri dari masalah.” Ucap Tuan Alfredo selanjutnya
“Pa, bagaimana aku bisa mendapatkan hati Ixora. Bertemu saja tidak pernah bisa. Aku sudah kirim chat ke dia juga tidak pernah dibalas. Aku telepon juga tidak pernah diangkat.” Ucap Carol tidak mau disalahkan oleh Papa nya.
“Hati hati ya kamu, aku tidak mau punya cucu selain dari rahim Puteri Tuan William.” Ucap Tuan Alfredo memberi peringatan pada anak laki lakinya.
“Papa tenang saja, aku tidak sebodoh Papa.” Ucap Carol meluncur begitu saja kalimatnya.
“Anak kurang ajar, sudah membodoh bodohkan orang tua. Bagiku Caroline terlahir bukan karena kebodohanku tetapi kelihaianku.” Ucap Tuan Alfredo
“Sekarang pulang kamu, kalau tidak aku coret kamu sebagai pewaris Alfredo aku berikan semua pada Caroline.” Ancam Tuan Alfredo.
Carol yang tidak mau kehilangan warisan Sang Papa pun, dengan segera bangkit dari tempat tidur dan melangkah meninggalkan Anneke tanpa peluk dan cium. Dan tentu saja Anneke sangat kecewa dan kesal.
__ADS_1
“Sial benar hari ini. Puteri Tuan William itu, apa sih hebat nya sampai sampai Tuan Alfredo hanya ingin cucu dari rahim nya.” Ucap Anneke dengan bersungut sungut
“Disembunyikan di mana Ixora itu, mata mata ku selalu gagal mencari nya bahkan sekarang Kak Carol menyuruh aku menarik mereka semakin aku tidak bisa mendapatkan Ixora.” Ucap Anneke lagi
“Dan kenapa aku juga tidak hamil hamil, padahal aku sudah minum obat penyubur dan suntik hormon.” Ucap Anneke selanjutnya sambil mengusap usap perutnya.
Sementara itu di belahan bumi lain. Bang Bule masih berada di lokasi peternakan. Bang Bule sedikit bahagia hati nya sebab saat dia stalking media sosial Carol sudah tidak ada potongan baru yang menggambarkan pertemuan dengan keluarga William apalagi Ixora. Sedangkan Ixora juga sudah memberikan kabar pada dirinya kalau sedang sibuk mengikuti lomba penelitian antar kampus.
“Tuan sapi di blok sana juga berhenti laktasi nya, seperti minta pijatan tangan Tuan.” Ucap salah satu karyawan peternakan yang baru saja bertugas mengecek produksi susu
“Hah? Kenapa tidak kamu saja yang memberikan terapi?” ucap Bang Bule yang sedang melakukan terapi laktasi pada salah satu sapi nya.
“Sudah saya coba Tuan, tetapi tetap gagal.” Ucap sang karyawan sambil tersenyum sebab sekarang Bang Bule sudah ahli dalam melakukan terapi laktasi pada sapi sapi perah nya.
“Mungkin dia iri pada temannya dan minta sentuhan dari tangan Tuan Vincent. Buktinya sapi sapi yang saya terapi gagal bila diterapi sama Tuan jadi berhasil.” Ucap sang karyawan lagi dan bibir nya masih tersenyum.
“Kenapa jadi banyak sapi yang minta diterapi. Bukannya aku hanya berteriak dua kali.” Ucap Bang Bule lalu dia bangkit berdiri karena sudah selesai proses terapi nya pada salah satu sapi dan dia sudah memasangkan lagi mesin perah pada tubuh sapi yang sudah dia terapi.
“Itulah Tuan seperti yang saya bilang tadi dia ingin mendapat sentuhan dari tangan Tuan ha... ha... ha...” ucap Sang karyawan yang sekarang tertawa mulut nya.
Saat Bang Bule akan berjalan menuju ke sapi yang lain yang harus diterapi. Tiba tiba hand phone nya berdering dengan nada dering khusus. Nada dering yang selalu dinanti nanti.
“Kekasih ku menghubungi aku. Apa sapi sapi itu nanti akan cemburu?” ucap Bang Bule sambil menoleh ke arah karyawan itu.
“Kamu lanjutkan!” perintah Bang Bule pada karyawan nya. Lalu Bang Bule Vincent segera mengambil hand phone di saku celana cargonya.
__ADS_1
Sedangkan karyawan itu lalu mengganti kan posisi Bang Bule untuk melakukan terapi laktasi pada sapi yang lain nya yang mogok tidak mau berproduksi.