
Sementara itu di sebuah taman di batas kota ada sepasang kekasih yang tengah bahagia. Orang orang yang ada di taman itu melihat dengan heran pasangan yang mereka anggap langka, seorang Kakek dengan tubuh tinggi besar meskipun punggung sudah sedikit membungkuk dengan seorang gadis yang jelek.
Ixora membentangkan tangannya lebar lebar dan sedikit mengarah ke atas. Dia menghirup udara segar taman dengan dalam dalam. Rasanya puas menikmati segarnya taman setelah perjalanan dengan vespa tua yang diganggu oleh orang stres kurang kerjaan.
Bang Bule dari belakang memeluk pinggang ramping Ixora yang ditutupi oleh pakaian kedodoran. Dan tidak sampai di situ dia pun mencium mesra puncak kepala Ixora yang tidak lagi harum baunya. Sebab sudah terkontaminasi dengan aroma helm yang dia bawakan untuk Ixora. Akan tetapi Bang Bule tidak mempedulikan itu, baginya aroma rambut Ixora tetap membuat nyaman dan damai hatinya.
“Senang kamu Beb?” tanya Bang Bule masih memeluk perut ramping Ixora dari belakang.
“Banget Bang, tidak menyangka kita bisa berdua begini.” Jawab Ixora sambil tersenyum lebar.
“Pelcaya Beb, pasti ada jalan untuk kita bisa beldua...” ucap Bang Bule lalu kembali mencium dengan mesra puncak kepala Ixora.
“Bang, rambutku bau apek ya?” tanya Ixora tidak percaya diri dan kini tangannya mengusap puncak kepalanya sendiri.
“Apa pun alomanya tetap sedap bagiku he.... he.... he....” ucap Bang Bule sambil tertawa terkekeh kekeh layaknya tawa orang tua. Karena alat perubah suara masih terpasang pada lidahnya. Hingga banyak orang menoleh pada mereka berdua karena mendengar suara tawa seorang Kakek Kakek yang sedang bahagia karena dimabuk cinta.
“Bang kita duduk di sana yuk... yang agak jauh dari orang orang, dan lepas alat perubah suara aku ingin dengar suara asli.” Ucap lirih Ixora yang kini sudah membalikkan badannya. Kini mereka berdua berdiri dengan saling berhadapan. Telapak tangan kekar Bang Bule menangkup kedua pipi mulus Ixora yang dilapisi make down yang membuat pipinya tampak kasar dan kusam. Bang Bule pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua pun lalu berjalan menuju ke tempat duduk yang ada di taman batas kota yang agak jauh dari keramaian pengunjung lainnya.
Mereka berdua duduk ngobrol melepas rindu hingga lupa akan alasan mereka berdua untuk belajar membuat obat obatan tradisional.
__ADS_1
Sedangkan di mansion Alfredo. Anneke duduk di ruang tamu dengan tidak sabar. Dan beberapa menit kemudian terdengar suara langkah kaki dari belakang menuju ke ruang tamu. Jantung Anneke semakin berdebar debar seiring semakin mendekatnya langkah kaki itu.
Dan tidak lama kemudian muncul sosok perempuan setengah baya yang terlihat tampil cantik dan anggun. Dia lah Nyonya Alfredo.
“Selamat siang Nyonya...” ucap Anneke sambil tersenyum dengan nada yang sangat sopan dan ramah. Dan dia pun bangkit berdiri lalu mengulurkan tangannya saat Nyonya Alfredo sudah berada di dekatnya.
“Selamat siang Nona, maaf ada perlu apa ya mencari saya?” tanya Nyonya Alfredo dengan jujur sebab dia memang tidak tahu.
“Maaf Nyonya kenalkan saya Anneke, kekasih Kak Carol.” Ucap Anneke sambil mengulurkan tangannya yang belum diterima oleh Nyonya Alfredo.
“Oooo, saya Nyonya Alfredo orang tua Carol.” Ucap Nyonya Alfredo sambil menerima jabat tangan Anneke. Lalu mereka berdua duduk di sofa ruang tamu.
Anneke pun bercerita dengan renyah dan ramah tentang awal pertemuannya dengan Carol, karena Carol yang mengurusi kasus yang sedang menimpanya. Dan lalu mereka berdua dekat dan menjadi pasangan kekasih.
“Ooo ya Nyonya, ini saya membawakan masakan saya. Saya memiliki hobby memasak dan ini hasil masakan saya. Maaf jika sudah dingin. Sebab tadi perjalanan saya terganggu oleh motor tua di jalan raya yang mogok, dan saya harus membantu agar motor tua itu bisa sampai di bengkel.” Ucap Anneke dengan kebohongan tingkat dewa, memutar balikkan fakta.
“Haduh tidak menyangka ada gadis cantik jaman now yang bisa memasak dan baik hati mau menolong sesama, orang yang tidak dikenal. di jalanan.” Ucap Nyonya Alfredo memuji Anneke karena tidak tahu kalau hanya kebohongan belaka yang sudah diucapkannya.
“Orang yang tidak dikenal saja ditolong, apalagi orang yang dikenalnya, dan apalagi dengan keluarga...” ucapnya lagi dengan penuh kekaguman.
“Begitulah sifat saya Nyonya, sudah bawaan sejak bayi.” Ucap Anneke dengan nada serius. Akan tetapi di dalam hati dia tersenyum licik. Nyonya Alfredo menanggapi dengan senyuman dan mengangguk anggukkan kepala. Lalu beliau membuka kotak makan yang dibawa oleh Anneke untuk dirinya.
__ADS_1
“Hmmmm sudah dingin saja aromanya sangat sedap.” Ucap Nyonya Alfredo sambil mengendus aroma makanan di dalam kotak makan eksklusif itu.
“Ini tempatnya juga sangat bagus, aku mau pesan kotak makan ini akan tetapi sudah sold.” Ucap Nyonya Alfredo selanjutnya sambil mengamati kotak makan itu.
“Itu makanan dan kotaknya buat Nyonya. Mami saya masih punya banyak Nyonya...” ucap Anneke sambil tersenyum senang karena merasa Nyonya Alfredo sudah masuk ke dalam perangkapnya.
“Benarkah?” tanya Nyonya Alfredo dengan mata berbinar binar. Dan Anneke mengangguk dengan mantap sambil tersenyum.
“Terima kasih Nona.” Ucap Nyonya Alfredo sambil tersenyum senang.
“Baiklah kalau begitu, saya suruh pelayan untuk menghangatkan makanan ini. Nanti bisa kita hidangkan saat makan siang nanti. Nanti Nona ikut makan siang di sini ya..” ucap Nyonya Alfredo kemudian.
“Terima kasih Nyonya, apa boleh saya menemui Kak Carol sekarang.” Ucap Anneke dengan senyum kemenangan.
“Silahkan, sekarang Anneke bisa menyusul Carol ke kolam renang, sambil menunggu makan siang nanti.” Ucap Nyonya Alfredo yang kini hanya memanggil nama Anneke saja tanpa sebutan Nona agar lebih akrab.
“Itu kolam renang ada di lokasi belakang, Anneke biar di antar pelayan ke sana. Carol pasti senang.” Ucap Nyonya Alfredo selanjutnya sambil bangkit berdiri.
Nyonya Alfredo memang tahu jika akhir akhir ini Carol dekat dengan banyak gadis cantik akan tetapi Carol tidak memperkenalkan pada orang tuanya. Dan baru Anneke yang datang memperkenalkan diri sebagai kekasih Carol. Nyonya Alfredo mengira benar Anneke adalah kekasih Carol karena dia pun belum diberitahu Tuan Alfredo tentang perjodohan Carol dengan Ixora. Karena Tuan Alfredo merasa waktunya masih lama menunggu Ixora selesai kuliah lebih dulu.
Anneke pun turut bangkit berdiri dan berjalan di belakang Nyonya Alfredo.
__ADS_1
“Ahhh aku nanti pura pura terpeleset ke dalam kolam renang saja, bukannya tubuhku akan terlihat lebih sexy saat baju sexy ku basah kuyup, Kak Carol pasti tergoda he.. he... he...” gumam Anneke sambil tersenyum penuh dengan kelicikan.