
Anneke langsung tancap gas. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meskipun masih di.lokasi halaman mansion Alfredo.
CIIIIIIIIIIITTTTTTTT
Dia mengerem dengan mendadak di depan pintu gerbang yang belum dibuka. Anneke dengan cepat menurunkan kaca jendela mobil nya.
“Heiii cepat dibuka pintunya!” teriak Anneke sambil melonggokkan kepalanya dan pandangan mata tertuju pada pos penjaga pintu.
Dan sesaat kemudian pintu gerbang terbuka. Bapak petugas penjaga pintu gerbang masih mengusap usap dadanya, karena dia begitu sangat kaget mendengar suara rem mobil yang berhenti mendadak ditambah dengan teriakan Anneke. Belum lagi umpatan dan sumpah serapah Anneke saat melewati pintu gerbang.
Setelah mengumpat sepuasnya Anneke menutup kaca jendela mobil nya dan kembali tancap gas. Petugas penjaga pintu gerbang mansion hanya geleng geleng kepala sambil masih mengusap usap dadanya yang jantungnya masih berdetak lebih kencang dan kini mulutnya berucap.
“Sabar.... sabaaaaar.”
Sementara itu di lain tempat, mobil Ixora yang sudah memasuki halaman mansion Willam dengan kalem kalem saja. Bahkan Carol sejak pulang dari rumah praktek Dokter Pribadi keluarga William menjalankan laju mobilnya dengan kecepatan pelan pelan rasanya dia ingin berlama lama satu mobil dengan Ixora.
“Kamu mau turun di mana dan mobil ditaruh mana?” tanya Carol sambil sekilas menoleh ke arah Ixora tidak lupa dengan senyuman manis di bibirnya.
“Langsung ke dekat pintu utama Mansion saja Kak dan mobil taruh sana nanti biar sopir yang membawanya ke garasi... ooh iya bukannya sopir harus mengantar Kak Carol.” Jawab Ixora sambil melepas masker dan kaca matanya.
“Hmmm semakin bertambah usianya semakin mirip dengan Alexandria. Aku semakin suka.” Gumam Carol yang sekilas menoleh lagi ke arah samping untuk melihat Ixora yang melepas masker dan kaca mata.
__ADS_1
“Terima kasih ya Kak sudah mengantarku ke Pak Dokter dan mengantar ku pulang.” Ucap Ixora sambil menoleh menatap Carol akan tetapi tidak ada senyum an di bibirnya. Hati Ixora masih merasakan kesedihan, kekecewaan dan ketakutan. Sedih karena ditinggal pergi Bang Bule secara tiba tiba. Kecewa karena usahanya ke bandara untuk menemui Bang Bule dan Nyonya Jansen gagal dan Takut akan dimarahi oleh Sang Mama.
“Tidak perlu mengucapkan terima kasih. Itu sudah tugasku.” Ucap Carol sambil tersenyum menatap Ixora. Carol kini benar benar terpesona dengan wajah cantik Ixora yang natural tanpa make up.
“Hmm benar semakin lama semakin mirip dengan Alexandria.” Gumam Carol dalam hati. Akan tetapi tiba tiba dia melihat ekspresi wajah Ixora yang terlihat kaget.
“Ehmmm maksud aku, tugasku sebagai orang yang sudah kenal baik dengan kamu, bukannya keluarga kita sudah saling kenal lama.” Ucap Carol selanjut nya. Ixora pun lalu segera membuka pintu mobil dan berjalan turun menuju pintu utama Mansion.
Melihat Ixora yang sudah membuka pintu mobil, Carol pun juga turut segera membuka pintu mobil dan juga segera melangkah mengikuti langkah kaki Ixora.
Saat Ixora dan Carol menaiki anak tangga teras. Pintu utama Mansion sudah terbuka lebar dan ada sosok Nyonya William bersama Dealova yang berdiri di depan pintu.
“Iya Nyonya tanpa disengaja, saya sedang pulang dari Singapore melihat Tuan William sedang berjalan dengan seorang gadis memakai baju piyama.” Jawab Carol sambil tersenyum menoleh ke arah Ixora.
“Ooooh syukurlah.” Ucap Nyonya William sambil tersenyum lebar tampak sekali bahagia nya.
“Hmmm ini yang dinamakan jodoh.” Gumam Nyonya William dalam hati.
“Ma, Kak Ixora sudah pulang dengan Kak Carol dan dalam keadaan selamat. Aku sudah boleh makan ya...” bisik Dealova di telinga Nyonya William. Dealova cepat cepat mengambil kesempatan di saat hati sang Mama nya bahagia.
“Iya sana sana...” ucap Nyonya William sambil mengibaskan tangan pada Dealova dan Dealova pun segera berlari menuju ke dapur untuk memesan makanan pada Sang pelayan.
__ADS_1
“Oooh ayo kalian masuk.” Ucap Nyonya William selanjutnya karena melihat Carol dan Ixora masih berdiri di depan nya. Carol berdiri dengan senyum an menghiasi wajahnya sedangkan Ixora masih terlihat wajahnya bermuram durja.
Nyonya William pun melangkah menuju ke ruang tamu dan Carol mengikuti langkah kaki Nyonya William. Sedangkan Ixora setelah menutup pintu utama Mansion.
“Ma, aku ke kamar ya..” izin Ixora pada Sang Mama
“Iya iya, mandi sana.. dan suruh pelayan buatkan minum untuk tamu.” ucap Sang Mama lalu dia segera mendudukkan pantatnya ke sofa.
“Bagaimana kabar Papa dan Mamamu? Maaf kami kemarin tidak bisa datang memenuhi undangan minum teh. Mendadak ada masalah keluarga yang harus segera diselesaikan.” Ucap Nyonya William mengawali pembicaraan nya dengan Carol. Mereka lalu berbicara mengenai kabar keluarga.
“Maafkan Ixora jika tidak bisa menemani kamu duduk di sini selain karena dia masih sakit. Dia juga sedang sedih Bule nya itu sudah pergi ke negara nya.” Ucap Nyonya William selanjutnya setelah selesai pembicaraan kabar tentang keluarga .
“Ha? Saya tidak salah dengar Nyonya?” ucap Carol tampak kaget dan spontan menatap wajah Nyonya William dengan serius.
“Tidak, apa Ixora tidak bercerita kepada kamu?” jawab Nyonya William dan selanjutnya balik bertanya.
“Tidak Nyonya. Ixora lebih banyak diam.” Jawab Carol dengan nada serius dan di dalam hati nya dia bahagia karena rival beratnya untuk mendapatkan hati Ixora sudah pergi.
“Iya biar saja, nanti lama lama dia juga akan lupa dengan Bule itu. Dan rencana kita akan berjalan mulus. Yang penting Ixora jangan tahu lebih dahulu agar dia tidak lari dan agar semua berjalan secara natural bukan karena paksaan.” Ucap Nyonya William sambil menatap wajah Carol.
Saat Nyonya William dan Carol masih membicarakan masalah perjodohan. Ada satu pasang telinga yang mendengar pembicaraan mereka. Pemilik satu pasang telinga itu masih berdiri mematung, ingin mendengarkan kelanjutan nya agar lebih jelas.
__ADS_1