Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 92. Penolakan Carol


__ADS_3

Saat sampai di depan gedung pusat Carol segera masuk. Pegawai yang ada di sana langsung menyapa dan memberi hormat. Carol terus melangkah menuju ke ruang legal official.


Carol langsung memutar handel pintu dan mendorong daun pintu. Sesaat Carol menoleh menuju ke tempat kursi pemohon perlindungan. Dan betapa kagetnya dia saat melihat sosok Isomah yang duduk di sana di samping satu perempuan.


“Hah? Kenapa ada gembel itu bukannya dia mahasiswa kedokteran?” gumam Carol dalam hati . Dan dia terus melangkah menuju ke tempat pegawai nya.


Sedangkan Isomah yang melihat kedatangan Carol hanya menundukkan kepala nya. Sementara Ibu Dosen Retno tampak bibir nya tersenyum dan mata nya berbinar karena harapan akan selamat nampak ada karena pengacara terkenal akan membantunya. Pandangan mata Ibu Dosen Retno selalu mengikuti langkah kaki Carol.


“Kamu sebutkan mahasiswa mana yang bermasalah tadi?” tanya Carol pada pegawai nya sambil berjalan menuju ke meja nya. Dan tampak ada pegawai lainya yang juga berjalan menuju ke meja nya sambil membawa setumpuk berkas.


“Mahasiswa fakultas vokasi.” Jawab pegawai yang tadi menelepon Carol.


“Mana orang nya?” tanya Carol lagi dengan suara keras sambil duduk di kursi kerja nya.


“Itu Tuan bersama Ibu Dosen Retno. Data mereka yang soft copy sudah saya kirim di alamat email dan nomor chat Tuan. Itu yang berkas asli sudah disiapkan di meja.” Ucap pegawai sambil menatap Carol yang duduk di kursi kerja nya. Ekspresi wajah Carol terlihat sangat kaku dan dingin.


“Kami juga sedang mempelajari materi nyw Tuan.” Ucap pegawai itu lagi.


“Ahli digital forensik sudah kami kirim juga data dan materi kasus mereka.” Ucap pegawai itu selanjutnya.


Namun tiba tiba Carol menggebrak meja di depan nya.


BRAAAAKK!!!!!


Semua terlihat melonjak kaget termasuk Isomah dan Ibu Dosen. Ibu Dosen pun langsung memegang dada nya karena jantung nya berdetak lebih kencang.


“Hentikan!” teriak Carol selanjutnya.

__ADS_1


“Dia gembel tidak tahu diuntung. Sudah menantang aku sekarang datang minta perlindungan.” Ucap Carol dengan nada tinggi


“Cuih! Tidak tahu malu.” Ucap Carol lagi lalu dia menoleh ke samping dan meludah ke lantai. Semua yang melihat tampak kaget dan takut dengan kemarahan Carol.


“Aku secara pribadi tidak akan memberikan bantuan dan secara lembaga sebagai pimpinan legal official kampus aku tidak menyetujui pemberian perlindungan pada kasus dia.” Ucap Carol selanjutnya dia lalu bangkit berdiri.


“Tuan, tolong kami, maafkan Isomah jika dia pernah punya kesalahan pada Tuan.” Ucap Ibu Dosen sambil mendongak kepala nya menatap Carol yang sudah mulai melangkah. Ekspresi wajah dan nada suara Ibu Dosen penuh dengan permohonan.


“Tidak ada maaf!” ucap Carol dengan nada tinggi dan terus melangkah.


“Kalau kalian semua tetap membantu nya, aku pecat kalian semua.” Ancam Carol lagi dan tampak semua pegawai mengangguk.


“Dan termasuk Anda, Ibu Dosen. “ ucap Carol dengan pelan sambil menatap tajam ke arah Ibu Dosen. Dan Carol pun terus melangkah meninggalkan ruangan itu.


Ibu Dosen dan Isomah terlihat sangat kaget. Tidak terasa air mata kedua perempuan itu meleleh membasahi pipi mereka. Mereka sangat sedih karena selama ini mereka berdua berjuang dan bekerja bersama namun tiba tiba salah satu dari mereka diancam dan tidak boleh membantu. Ahhh begitu sangat berkuasa kah anak pemilik kampus. Begitulah gumam hati Ibu Dosen.


“Bu, ini berkas saya kembalikan.” Ucap pegawai itu sambil mengulurkan tangan nya menyerahkan berkas kasus Isomah.


“Apa benar benar tidak bisa menolong kami?” tanya Ibu Dosen masih belum mau menerima berkas itu.


Pegawai itu menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


“Kami takut kehilangan pekerjaan. Apalagi jika surat dikeluarkan dari pekerjaan alasan nya karena tidak tunduk pada perintah atasan. Kami akan kesulitan untuk mencari pekerjaan lagi.” Ucap pegawai itu dan terus menyerahkan berkas kasus Isomah. Isomah pun lalu yang menerima berkas berkas itu.


“Bu, biar saja usahakan untuk menyelesaikan kasus saya seorang diri. Saya tidak ingin Ibu Retno kehilangan pekerjaan karena saya.” Ucap Isomah setelah menerima berkas itu.


Pegawai pegawai yang mendengar terlihat menatap Isomah dan dari ekspresi wajahnya mereka tampak meremehkan mana mungkin orang macam Isomah bisa menyelesaikan kasus hukum yang menimpanya, paling juga pasrah dan menyerah dengan nasib.

__ADS_1


“Is, ini sulit kamu harus mencari ahli digital forensik harus membayar mahal, belum pengacaranya mahal Is.” Ucap Ibu Dosen sambil menatap Isomah.


“Akan saya coba Bu, selama masih ada waktu saya akan berusaha dan berjuang.” Ucap Isomah sambil berusaha untuk tersenyum sambi menatap Ibu Dosen.


“Terima kasih karena Ibu Retno sudah banyak membantu saya.” Ucap Isomah lagi. Ibu Dosen Retno tidak bisa bersuara lagi hanya air mata yang terus meleleh. Beliau pesimis Isomah bisa menyelesaikan kasus nya, beliau juga sangat kecewa perjuangan yang lama dan kemenangan hanya sementara dan hilang sia sia begitu saja karena fitnah orang dan pihak kampus yang harusnya membantu dan melindungi diri nya malah melepas dan cuci tangan.


“Isomah sudah membuat kesalahan apa pada putera pemilik kampus?” tanya Ibu Dosen dalam hati.


“Bu saya mohon diri, saya akan melanjutkan untuk mengurus kasus saya ini.” Ucap Isomah lalu dia bangkit berdiri dan selanjutnya pamit pada semua pegawai yang ada di dalam ruangan itu.


Sedangkan Ibu Dosen Retno yang masih kecewa dan bingung sampai sampai dia pun tidak sanggup untuk bangkit dari tempat duduknya. Tubuhnya terasa berat dan lemas.


Isomah terus melangkah meninggalkan gedung pusat. Berkas dia taruh ke dalam tote bag nya.


“Aku harus kemana ya?” gumam Isomah dalam hati yang jujur dia pun sebenarnya juga bingung karena belum pernah berurusan dengan hukum.


“Apa mencari lembaga bantuan hukum untuk masyarakat.” Gumam Isomah dalam hati.


Isomah lalu menghentikan langkah kaki nya. Dia mengambil hand phone dari tote bag nya. Dia lalu mengusap usap layar hand phone nya untuk mencari cari informasi tentang lembaga bantuan hukum.


Sesaat dia melihat di layar hand phone nya banyak informasi tentang lembaga bantuan hukum dari hasil pencarian nya lewat aplikasi di hand phone nya.


“Aku coba menuju ke salah satu dulu.” Gumam Isomah lalu dia mengusap usap layar hand phone nya untuk memesan ojek on line.


Akan tetapi saat dia masih sibuk mengusap usap layar hand phone nya ada mobil yang melewati dirinya. Dan sesaat kemudian mobil itu berhenti tidak jauh dari tempat berdirinya Isomah.


Isomah yang masih berdiri dan sibuk dengan rencana nya untuk segera pergi menuju ke salah satu kantor lembaga bantuan hukum untuk masyarakat, tidak begitu menghiraukan mobil yang berhenti di dekatnya. Tatapan mata dan jari jarinya masih fokus pada layar hand phone nya.

__ADS_1


Sedang orang yang mengemudikan mobil itu membuka pintu mobil nya lalu keluar dan turun dari mobil. Dia menutup pintu mobil agak keras. Hingga membuyarkan konsentrasi Isomah. Isomah lantas menoleh ke arah mobil yang berhenti di dekat nya itu.


__ADS_2