
Dengan hati hati Nyonya William menggeser tombol hijau.
“Hallo.” Suara Nyonya William dengan pelan dia tampak bingung karena harus membatalkan lagi acara mempertemukan Carol dengan Ixora.
“Bagaimana Nyonya apa malam nanti jadi acara dinner romantis buat Carol dan Ixora?” Tanya Nyonya Alfredo yang di sampingnya duduk anak laki laki nya si Carol Alfredo yang sedang menunggu kepastian acara yang selalu ditunggu tunggu namun selalu batal juga.
Sementara itu, Nyonya William tidak bisa menjawab sebab dia tidak enak hati karena selalu membatalkan rencana yang sudah dibuatnya. Nyonya William hanya bisa menelan saliva nya dan masih memegang hand phone nya yang masih terhubung dengan Nyonya Alfredo lewat panggilan suara. Dealova dan Tuan William hanya bisa menatap wajah Nyonya William yang tampak masih menegang.
“Bagaimana Nyonya? Apa Nyonya mendengar suara saya?” tanya Nyonya Alfredo lagi.
“Hmmm maaf Nyonya, Ixora ada tugas mendadak dari kampus nya..” jawab Nyonya William dengan hati hati
“Nyonya maaf kampus Ixora di mana? Kalau hanya di Singapore biar kita saja yang berkunjung ke sana, jadi tidak mengganggu waktu Ixora harus perjalanan pulang ke Indonesia. “ ucap Nyonya Alfredo memberi usul sebab dia pun sedih jika acara batal Carol selalu pergi dari mansion Alfredo dia khawatir Carol pergi ke club malam. Nyonya Alfredo tidak tahu jika Carol pergi ke rumah Anneke.
“Oooh tugas kampus Ixora saat ini sedang study banding entah ke negara atau kota mana. Coba nanti saya tanya Ixora.” Ucap Nyonya William mencari cari alasan.
“Saya tutup dulu ya Nyonya Alfredo cantik, nanti saya hubungi lagi saya informasi kan di mana Ixora study banding nya.” Ucap Nyonya William sambil tersenyum berusaha agar tidak terlalu nervous dalam berbicara. Nyonya William selanjutnya lalu segera memutus sambungan teleponnya.
“Pa gimana nih?” tanya Nyonya William selanjutnya sambil menatap ke arah suaminya.
“Mama kan yang buat acara ya sudah Mama yang atur saja. Aku mau tidur.” Ucap Tuan William lalu dia bangkit berdiri dan segera berjalan menuju ke kamarnya.
“Gimana nich Deal?” tanya Nyonya William kini menatap wajah Dealova
__ADS_1
“Ya udah sebut aja Singapore atau terserah Mama sebut kota mana yang ingin dikunjungi. Kalau Nyonya Alfredo nekat ngajak ke sana , ya kita aja yang ke tempat itu sama mereka , nanti kalau sudah sampai sana, terus bilang aja Kak Ixora sedang dalam perjalanan ke Indonesia kan nanti kita semua balik lagi ke Indonesia he... he...” ucap Dealova dengan santai lalu tertawa kecil.
Nyonya William tampak menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil memijit mijit pelipisnya. Lalu tiba tiba dia bangkit berdiri dan melangkah pergi dengan meninggalkan hand phone nya tetap di atas meja.
“Ma, kok hand phone nya ditinggal!” teriak Dealova sambil pandangan matanya menatap punggung Sang Mama yang semakin menjauh dari tempat duduknya.
“Kamu nanti yang jawab kalau Nyonya Alfredo menghubungi lagi.” Suara Nyonya William sambil terus melangkah menyusul suaminya ke dalam kamar nya. Ach dari pada pusing mikirin jawaban untuk Nyonya Alfredo mending mengajak goyang goyang enak sang suami sambil nunggu jam makan malam tiba. Begitu niat Nyonya William.
Sementara itu di belahan bumi lain nya di benua Eropa. Bang Bule marah marah dan uring uringan sendiri setelah mendapat kiriman foto dari Ixora. Dia pun lalu mengirim pesan chat pada Eveline yang isi pesannya agar Eveline menggantikan posisi Richardo untuk melatih Ixora yang menyamar menjadi Isomah.
“Mana mungkin Ixora baru belajar memegang senjata langsung tepat sasaran. Pasti Richardo berdiri di belakangnya lalu tangan Ricardo memegangi tangan Ixora. Pasti mereka berdua berdiri sangat dekat seluruh tangan Richardo menempel di seluruh tangan Ixora.” Ucap Bang Bule sambil mengepalkan tangan nya.
“Kepala Richardo pasti juga menempel di kepala Ixora.” Ucap Bang Bule lagi membayangkan bagaimana Ixora berlatih menembak didampingi oleh Richardo
Saat Bang Bule masih marah marah dan pikiran negatif merasuki otak nya Tiba tiba hand phone di dalam saku celana kargonya berdering. Dengan segera Bang Bule mengambil hand phone nya.
Saat Bang Bule melihat layar hand phone nya ada nama kontak Richardo sedang melakukan panggilan suara. Bang Bule segera menggeser tombol hijau.
“Hei.. mulai sekarang jauhi Ixora ku! Kalau kamu masih berdua dua di ruang rahasia itu aku bom ruang itu!” Suara Bang Bule dengan keras dan nada tinggi.
“Bang bukan nya itu ruang penuh sejarah.” Ucap Richardo yang nada suara nya tampak heran dengan ucapan Bang Bule.
“Kamu sudah mengotori ruangan itu.” Saut Bang Bule dengan nada kesal.
__ADS_1
“Pasti otak Bang Bule yang kotor he.. he...” ucap Richardo sambil tertawa kecil.
“Bang jujur saja aku juga terpesona pada Nona Ixora tapi aku masih menghargai Bang Bule sebagai kekasih hati Nona Ixora dan juga Bang Bule sebagai suhu kami, sesepuh kami, tetua kami.” Ucap Richardo selanjutnya dengan nada serius.
“Apa kamu bilang? Aku sudah tua? Kurang ajar kamu!” Saut Bang Bule dengan nada tinggi, dia sangat sensitif jika dikatakan tua semenjak jatuh cinta dengan Ixora yang usia nya delapan tahun lebih muda dari dirinya.
“Bang jangan marah marah. Gini Bang, langsung pada pokok permasalahan Bang. Aku kurang setuju jika Nona Eveline hanya berdua dengan Nona Ixora di ruang rahasia itu, bahaya Bang...” ucap Richardo selanjutnya
“Apa Eveline menyimpang?” tanya Bang Bule dengan nada kaget dan kepo, mata nya pun terbelalak karena begitu kaget.
“Bukan begitu Bang, apa Bang Bule tidak tahu jika Eveline menyukai Bang Bule...” jawab Richardo dan balik bertanya
“Mana aku tahu yang aku tahu aku mencintai Ixora ku.” Ucap Bang Bule
“Itulah Bang, apa Bang Bule tidak khawatir pada Nona Ixora jika Nona Eveline cemburu dan iri pada Nona Ixora, lalu berbuat tidak baik pada Nona Ixora. Di samping itu Nyonya Alexandria sudah membayar mahal untuk program pelatihan Nona Ixora juga perlindungan buat Nona Ixora. Aku yang harus mempertanggung jawabkan Bang.” Ucap Richardo dengan nada serius.
“Ya sudah Eveline yang melatih Ixora dan kamu yang mengawasi Eveline saat melatih Ixora. Ingat kamu jangan menyentuh Ixora!” ucap Bang Bule dengan nada serius dan penuh penekanan.
“Kalau begitu keputusan Bang Bule, tolong Bang Bule juga sampaikan itu pada Nyonya Alexandria. “ ucap Richardo lagi
“Iya nanti aku katakan pada Alexa.” Ucap Bang Bule dengan nada serius namun kini suaranya sudah melemah.
“Sudah, sapi sapi ku ngambek kalau aku bicara keras keras.” Ucap Bang Bule kemudian, lalu dia segera memutus sambungan telepon nya , sebab dia melihat beberapa karyawan yang bertugas mengecek produksi susu terlihat panik. Ach pasti sapi sapi nya minta therapi laktasi lagi karena Bang Bule marah marah apalagi pakai meninju pada dinding segala .
__ADS_1