Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 88. Fitnah


__ADS_3

Bang Bule tersenyum melihat layar hand phone yang sudah dipegangnya. Tertera nama kontak My Baby melakukan panggilan suara , dengan segera Bang Bule menggeser tombol hijau.


“Beb, aku sudah cukur habis bulu bulu wajahku sekarang kamu malah tidak video call.” Suara Bang Bule mengawali pembicaraan dengan Ixora.


“Sampai klimis, sampai sampai sapi sapi pun terpesona he.. he...” Saut karyawan yang mendengar suara Bang Bule. Dan Bang Bule pun menoleh ke arah karyawannya itu dengan tatapan mata yang melotot. Bang Bule lalu dengan langkah kaki lebar nya berjalan agak menjauh dari karyawan nya.


“He.. he... iya Bang, nanti.” Ucap Ixora sambil tertawa kecil.


“Bang, besok sudah pengumuman lomba doain ya.” Ucap Ixora selanjutnya


“Okey Beb pasti aku doakan yang terbaik buat kamu.” Ucap Bang Bule dengan nada serius. Dia memang selalu berdoa agar kekasih hatinya selalu selamat dan bahagia meskipun jauh dari dirinya.


“Terima kasih Bang.” Ucap Ixora lagi sambil tersenyum akan tetapi senyuman nya tidak bisa dilihat oleh Bang Bule sebab mereka melakukan panggilan suara bukan panggilan video.


“Doa orang yang teraniaya akan didengar oleh Yang Kuasa. He.... He... he.. “ ucap Bang Bule selanjutnya sambil tertawa kecil.


“Sabar Bang, maafin Mama ya...” ucap Ixora dengan nada sedih sebab dia sudah mendapat berita dari pelayan mansion Willam , tentang Bang Bule dan Nyonya Jansen yang tidak boleh masuk ke dalam Mansion William. Dia juga mengatakan pada Ixora oleh oleh yang sudah dibawa oleh Nyonya Jansen dikembalikan tidak boleh masuk ke dalam mansion juga. Ixora sangat sedih waktu mendengar kabar itu.


Sejenak mereka berdua terdiam dalam sambungan teleponnya.


Bang Bule lalu mengalihkan pembicaraan dengan menceritakan tentang sapi sapi nya, agar Ixora tidak bersedih hati nya. Mereka berdua pun lalu berbincang bincang ringan untuk melepas rindu. Dan setelah beberapa menit kemudian mereka mengakhiri komunikasi jarak jauh nya lewat panggilan suara.


Ixora pun juga minta doa dari orang tua dan kedua saudaranya dan tentu saja juga kakak iparnya. Juga orang orang dekat nya.


Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam. Dan hari pun mulai berganti. Hari yang ditunggu tunggu Ixora pun telah tiba, hari pengumuman lomba penelitian nya.

__ADS_1


Bolak balik Ixora melihat layar hand phone nya. Mengecek email dan aplikasi chatting nya. Informasi dari Ibu Dosen dan panitia lomba, pengumuman pemenang lomba akan dikirim lewat alamat email dan pesan chat.


Saat Ixora masih gelisah menunggu berita.


TOK.. TOK.. TOK..


Tiba tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar kost nya. Ixora tampak kaget dan kuatir.


“Ini hari Sabtu apa Pak Wagiman disuruh Mama menjemputku.” Gumam Ixora dalam hati. Dia kuatir diajak week end bersama keluarga Alfredo.


“Aku kan sudah bilang ke Mama kalau hari ini aku ada acara dengan Ibu Dosen.” Gumam Ixora dalam hati, Ibu Dosen memang akan mengajak diri nya untuk makan bersama apa pun hasil pengumuman lomba nya. Baik Isomah menang atau kalah. Maksud Ibu Dosen jika menang untuk merayakan kemenangan, jika kalah untuk menghibur Isomah dan memberi semangat pada lomba lomba lain nya.


Ixora pun segera melangkah menuju ke pintu kamarnya. Dengan pelan pelan dia memutar handel pintu dan mendorong pelan daun pintu.


“Ini Bunda antar kamu makanan. Aku lihat kok kamu belum keluar kamar sejak tadi.” Ucap Bunda Naura sambil menyerahkan kotak makan.


“Kamu sudah berusaha untuk mengerjakan yang terbaik, dan sudah berdoa. Kini saat nya pasrah. Makan ya agar tidak sakit.” Ucap Bunda Naura sambil tersenyum menatap Isomah.


“Baik Bun, terima kasih .” ucap Isomah sambil menerima kotak makan dari Bunda Naura.


Akan tetapi tiba tiba terdengar banyak notifikasi masuk ke hand phone Ixora. Ixora yang sejak tadi menunggu berita pun segera melangkah masuk menuju ke dalam kamarnya. Bunda Naura yang juga ingin mengetahui hasil lomba pun juga masih berdiri di depan pintu.


Ixora segera mengambil hand phone nya yang berada di atas meja belajarnya, dia lalu mengusap usap layar hand phone nya. Dan selanjutnya dia membuka pesan pesan yang masuk. Ada yang dari panitia lomba dan dari Ibu Dosen juga dari beberapa dosen nya.


Terlihat ada air mata mengalir dari kedua ujung mata Ixora akan tetapi bibirnya tersenyum bahagia.

__ADS_1


“Bagai mana Is?” tanya Bunda Naura sambil menatap Ixora.


“Terima kasih doa nya Bun. Alhamdulillah menang , dan juara pertama. “ jawab Ixora sambil tersenyum dan menatap Bunda Naura dengan sorot mata yang berbinar binar. Bunda Naura pun tampak tersenyum lalu melangkah masuk mendekati Isomah dan selanjutnya mereka berdua saling berpelukan untuk menumpahkan kebahagiaan nya.


Selanjutnya Ixora pun memberikan kabar gembira itu pada keluarganya dan Bang Bule tentunya. Acara makan bersama Ibu Dosen pun terlaksana dengan lancar.


Waktu pun terus berlalu, malam hari nya pun tiba. Saat Ixora masih rebahan di tempat tidur nya sambil mengusap usap layar hand phone nya.


Tampak ekspresi wajah nya mendadak menegang saat melihat akun media sosial kampus Mahardhika. Banyak komentar negatif di media kampus yang memposting berita tentang juara lomba penelitian obat tradisional. Gara gara ada satu akun follower yang menghembuskan komentar kalau penelitian Isomah adalah plagiat.


Isomah pun segera menghubungi Ibu Dosen untuk memberitahukan tentang hal itu pada Ibu Dosen.


“Sabar Is, aku juga sudah melihatnya, ini aku sudah menyuruh admin untuk menon aktifkan komentar agar tidak semakin banyak dan kacau.” Ucap Ibu Dosen berusaha untuk menenangkan Isomah.


“Bu, tapi itu kenapa ada bukti screen shot di journal kampus ada penelitian yang judulnya sama dengan penelitian saya Bu, tapi nama peneliti nya beda.” Ucap Isomah dengan nada khawatir.


“Iya Is, aku juga sedang bongkar bongkar lemari buku, mencari journal kampus yang discreen shot itu.” Jawab Ibu Dosen yang juga terdengar suara nya khawatir.


“Kalau besok tidak hari Minggu saya ke perpustakaan untuk mencari bukti itu Bu. Tapi besok perpustakaan tutup.” Ucap Ixora masih dengan nada dan ekspresi wajah kuatir dan gelisah.


“Sabar Is, aku yakin belum pernah ada penelitian seperti penelitianmu itu. Mana mungkin aku meloloskan penelitian mu ikut lomba kalau pernah ada yang sama.” Ucap Ibu Dosen masih berusaha memberi ketenangan pada Isomah. Namun sebenarnya Ibu Dosen pun juga khawatir sebab dia juga akan disalahkan dan mendapatkan sanksi berat jika memang pernah ada penelitian yang sama.


Ixora pun lalu memutus sambungan teleponnya dengan Ibu Dosen. Dan semalaman Isomah tidak bisa tidur. Dia melihat lagi akun media sosial kampusnya memang komentar sudah dimatikan oleh admin.


“Siapa pemilik akun itu.” Gumam Ixora dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2