
Hari pun berganti
Di ruko belakang kantor polisi. Ketiga laki laki yang masih gatal gatal itu berada di dalam kamar secara terpisah dan di kunci dari luar. Di dalam kamar sudah tersedia makanan dan air minum. Pak Polisi sudah memperhitungkan mereka tidak kelaparan.
Pak Polisi yang kini sudah memakai baju seragam dinasnya menaiki anak tangga ruko dan diikuti oleh anggota Tim nya.
Polisi polisi itu lalu membuka ke tiga kamar yang dihuni oleh tawanan nya. Si Pece laki laki yang memiliki hobby memakai kaca mata hitam itu tidak kaget saat di luar kamar ada beberapa polisi. Akan tetapi dua laki laki yang masih gatal gatal itu tampak sangat kaget saat di luar kamar ada beberapa polisi.
“Bapak kan yang jual obat kok sekarang jadi polisi?” tanya kedua laki laki itu sambil menggaruk garuk bagian tubuh nya.
“Ha? Kamu akhir nya ikut juga, tapi kok tangan mu diborgol.” Ucap laki laki yang satu telapak tangannya sudah sembuh . Dia pun kini mulai khawatir ada yang tidak beres alias dia masuk jebakan.
“Mana Bu Dokter Pak?” tanya dua laki laki kemudian dengan nada dan ekspresi wajah kuatir. Keringat dingin mulai keluar dari seluruh tubuh nya.
“Ayo kalian bertiga pindah ke kantor Polisi sekarang!” perintah bapak polisi ketua tim yang kemarin menyamar menjadi penjual obat.
“Hah? Bukan nya kami dalam acara rawat inap sakit kami ini.” Teriak dua laki laki itu mencoba agar tetap berada di tempat ruko itu dan mendapat pengobatan.
“Kalian pencuri dan penganiaya berencana, kalian bertiga kami tangkap.” Ucap polisi yang lain nya.
“Pak tidak apa apa ditangkap tapi diobati ya..” ucap laki laki yang telapak tangan satu nya sudah sembuh itu. Pak Polisi menganggukan kepala nya. Kedua laki laki itu pun menuruti perintah pak polisi. Dan si pece pun akhir nya juga mengikuti.
Mereka semua lalu berjalan menuruni anak tangga.
Di depan ruko sudah ada mobil polisi yang belakang nya bukaan ada bangku tempat duduk untuk orang yang ditangkap.
“Cepat naik!” perintah salah satu bapak polisi.
Mereka bertiga naik ke atas mobil dan duduk di bangku belakang sambil kepala tertunduk yang dua orang tidak diborgol tangan nya mereka masih bisa menggaruk garuk bagian tubuh nya yang gatal. Sedangkan si Pece laki laki yang memiliki hobby memakai kaca mata tangan nya masih di borgol tapi kini di borgol di depan agar masih bisa menggaruk garuk bagian tubuh nya yang gatal. Meskipun tidak bisa menggaruk garuk bagian tangan nya. Sehingga dia minta tolong pada kedua temannya jika kedua tangan nya merasa gatal gatal.
Mobil pun segera berjalan menuju ke kantor polisi yang tidak jauh letak nya dari ruko itu. Saat mobil sudah sampai di kantor polisi, mereka bertiga dibawa ke suatu ruangan untuk dimintai keterangan.
__ADS_1
“Kalian bertiga melakukan pencurian dan penganiayaan atas kemauan kalian bertiga atau ada yang menyuruh kalian?” tanya seorang polisi yang duduk di depan komputer nya sambil melihat tiga buah kartu identitas ketiga laki laki itu yang sudah berada di tangan pihak kepolisian.
“Atas kemauan kami Pak.” Jawab si Pece laki laki yang memiliki hobby memakai kaca mata hitam.
“Benar? kalau kalian bohong kalian akan ditambah hukuman nya!” ucap Pak Polisi ketua tim yang juga ada di ruangan itu sambil menatap tajam mereka satu per satu.
“Benar Pak.” Jawab si Pece.
“Pak, kalau kami berkata jujur apa kami diberi obat?” tanya satu laki laki yang satu telapak tangannya sudah sembuh.
“Jelas, hukuman juga lebih ringan.” Jawab Pak Polisi
“Hmm anu Pak, apa kami juga akan dilindungi kami takut?” tanya laki laki yang satu telapak tangannya sudah sembuh itu lagi.
“Jangan takut untuk memberi keterangan yang membantu kepolisian, kami akan melindungi.” Jawab Pak Polisi dengan nada serius.
“Ada yang menyuruh Pak.” Jawab dua laki laki itu, sedang si Pece hanya diam saja.
“Katakan siapa yang menyuruh kamu?” tanya Pak Polisi selanjutnya
Laki laki yang satu telapak tangannya sudah sembuh itu pun lalu menyampaikan siapa yang menyuruh dan di mana tempat tinggal nya.
“Okey terima kasih.” Ucap pak polisi itu lalu mengakhiri meminta keterangan nya dan akan dilanjut besok..
“Pak, minta obat ya.” Ucap laki laki yang satu telapak tangannya sudah sembuh itu.
“Iya nanti Bu Dokter akan memberi.” Ucap Pak Polisi yang nanti akan memintakan obat pada Ixora sebab tawanan sudah memberi keterangan.
Dan setelah nya polisi itu menyuruh anak buah nya membawa ke tiga orang itu ke tempat tahanan sementara. Dan juga memerintahkan teman nya untuk menuju gedung misterius tempat tinggal orang yang menyuruh ke tiga laki laki itu.
Tampak di halaman kantor Polisi, satu mobil polisi sudah siap meluncur menuju ke gedung misterius.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mobil itu sudah berada di depan gedung misterius. Pak Polisi turun dan berjalan menuju ke pos penjaga.
“Tuan Bos sudah pergi sejak kemarin Pak Polisi” Jawab petugas penjaga pintu itu.
“Pergi kemana?” tanya salah satu polisi
“Maaf saya tidak tahu.” Jawab petugas penjaga pintu.
“Kami akan melihat ke dalam.” Ucap Pak Polisi untuk menunaikan tugas nya. Petugas penjaga pintu gerbang pun mengizinkan polisi polisi itu masuk untuk mengecek seluruh isi ruangan.
Dan benar...
Laki laki bertubuh tambun sudah tidak ada di dalam gedung misterius itu. Semua ruangan sudah digeledah akan tetapi tidak ada laki laki bertubuh tambun itu. Kemungkinan sudah melarikan diri.
Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari....
Dan waktu pun terus berlalu. Hingga tiba saatnya Ixora sudah siap akan berangkat ke luar negeri, yang akhirnya Philipina adalah negara yang menjadi Tuan Rumah tempat acara lomba penelitian tingkat internasional itu. Pemilihan Negara yang menjadi Tuan rumah adalah keputusan mutlak dari panitia lomba.
“Kok ke Philipina sih Ix? Aku kira ke China atau ke Jepang kan dua negara itu yang terkenal pengobatan alami nya.” Ucap Nyonya William yang sudah siap akan mengantar Ixora dan kini sedang duduk di sofa bersama Ixora. Mereka berdua sedang menunggu Tuan William.
“Ga tahu Ma, panitia yang menentukan tempat nya.” Jawab Ixora sambil mengusap usap layar hand phone nya, dia sedang chatting an dengan Bang Bule Sayangku.
“Aku tuh sudah rencana kalau di Cina atau Jepang mo jelong jelong cari cangkir nenek buyut yang hilang satu itu. Siapa tahu jalan kali ini ketemu.” Ucap Nyonya William yang masih saja ingin mendapatkan cangkir peninggalan nenek buyut yang hilang satu.
Dan sesaat kemudian terdengar suara langkah kaki
“Kamu sudah siap Sayang?” tanya Tuan William yang sudah berada di dekat mereka berdua.
....
bersambung
__ADS_1