
“Benal apa boleh aku juga melawat Isomah?” tanya Bang Bule sambil tersenyum menatap Nyonya William, dia sangat berharap untuk mendapatkan izin agar bisa merawat Ixora.
“Merawat Kek.” Saut Dealova mengkoreksi ucapan Kakek Penjual Obat.
“Iya iya... itu..” ucap Bang Bule yang tahu dia tidak bisa melafalkan ejaan huruf R dengan benar.
“Itu apa?” tanya Dealova sambil tersenyum menatap Kakek Penjual Obat akan tetapi senyumnya tidak terlihat karena tertutup masker.
“Hust tidak boleh menggoda orang tua.” Saut Nyonya William yang tidak mau Kakek penolong anaknya digoda oleh Dealova.
“Kakek boleh merawat Isomah agar tangannya cepat sembuh mungkin Kakek punya obat dan ramuan ramuan.” Ucap Nyonya William selanjutnya dengan nada serius.
“Iya.. iya...” ucap Bang Bule sambil mengangguk angguk senang nya bukan kepalang.
“Tapi Kakek tidak boleh membersihkan tubuh Isomah. Kakek boleh menjaga Isomah kalau Kakaknya dan aku sedang keluar ada keperluan.” Ucap Nyonya William lagi.
“Apa boleh aku minta nomor hand phone Kakek.” Ucap Nyonya William kemudian.
Ucapan kalimat permintaan terakhir Nyonya William itu membuat keringat Bang Bule keluar dari tubuhnya secara mendadak. Sebab nomor handphone Bang Bule hanya satu dan itu sudah dikenal oleh keluarga William apalagi profil fotonya jelas jelas menampilkan sosok dirinya yang asli.
“Hmmm anu Nyah.. Aku tidak hapal nomol hang phong ku.. dan sekalang sedang mati, batele habis.” Ucap Bang Bule berdalih.
“Kalo begitu aku pamit dulu mau ngecas hang phong dulu ya.. Nanti aku ke sini lagi.” ucap Bang Bule terburu buru kawatir kalau hand phone nya berdering atau ada notifikasi masuk yang didengar oleh orang orang yang berada di dalam kamar itu. Bang Bule pun lalu segera membalikkan badannya dan melangkah dengan cepat keluar dari kamar rawat Ixora.
“Ah.. Dasar Kakek Kakek.. “ gumam Nyonya William yang tidak menaruh curiga sedikitpun. Termasuk yang lainnya. Pak Wagiman dan Alexandria yang tadi menemui Dokter untuk mendengarkan keterangan dan nasehatnya juga sudah turut berada di dekat Nyonya William.
“Untung ada Kakek Penjual Obat yang melihat aku jatuh Ma..” ucap Ixora bohong putih agar Sang Mama terus berbaik baik pada Kakek Penjual Obat. Ixora tadi juga sempat kawatir saat Nyonya William meminta nomor hand phone Kakek Penjual Obat.
__ADS_1
“Iya kita berhutang budi pada Kakek itu.” Ucap Nyonya William sambil tersenyum menatap Ixora.
Mereka pun akhirnya berbagi tugas untuk merawat dan menjaga Ixora alias Isomah.
Setelah sore hari Alexandria, Dealova dan Pak Wagiman kembali ke mansion sedangkan Nyonya William akan bertugas menjaga Ixora hingga esok pagi dan bergantian dengan Alexandria.
Sementara itu, Tuan William yang baru pulang dari William Group tampak kaget saat melihat suasana mansion tampak sepi. Tidak seperti biasanya Sang Isteri yang menyambutnya dia pulang. Kini menantunya, Vadeo yang menyambut dirinya.
“Selamat sore Pa.” Sapa Vadeo sambil bangkit berdiri dari sofa di ruang tengah. Saat Tuan William berjalan memasuki ruang tengah.
“Sore, mana yang lain kok kamu sendirian duduk di sini.” Ucap Tuan William lalu menaruh tas kerja di sofa dan beliau melonggarkan dasi dan mendudukkan pantatnya di sofa.
“Minum teh nya dulu Pa, mumpung hangatnya pas.” Ucap Vadeo yang tadi dia membuatkan teh buat Papa mertuanya. Tuan William pun segera menyesap teh dari cangkir.
“Sudah katakan di mana yang lain, apa mereka sedang jalan jalan ke mall.” Ucap Tuan William sambil menaruh lagi cangkir teh nya ke atas meja.
“Mereka ke rumah sakit, Ixora jatuh.” Ucap Vadeo selanjutnya.
“Hah? Bagai mana bisa?” tanya Tuan William tampak kaget
“Terus kenapa kamu malah enak enak duduk ngeteh di sini?” tanya Tuan William lagi sambil menatap tajam wajah Vadeo.
“Kata Alexa mereka melihat kondisi Ixora lebih dulu, agar penyamaran nya tidak diketahui oleh orang orang kampus. Mama, Alexa dan Dealova ke sana juga menyamar.” Jawab Vadeo dengan nada serius.
“Mama menyamar menjadi isteri Pak Wagiman.” Ucap Vadeo selanjutnya
“Hah, kurang ajar! Mama selingkuh?” ucap Tuan William dengan wajah memerah
__ADS_1
“Pa, Mama hanya menyamar, pura pura saja karena yang dikenal oleh kampus orang tua Isomah adalah Pak Wagiman.” Ucap Vadeo memberi penjelasan agar Papa Mertuanya memahami.
“Apa mereka pakai gandeng gandeng tangan?” tanya Tuan William yang terbakar api cemburunya.
Tuan William segera mengambil hand phone yang ada di saku jas nya. Dia lalu menghubungi Isteri nya selain untuk menanyakan keadaan Ixora dia juga akan memberi pesan agar tidak dekat dekat dengan Pak Wagiman.
Tuan William tampak tenang setelah mendapat kabar kalau kondisi Ixora tidak parah dan Pak Wagiman sudah kembali ke mansion sedangkan isterinya masih menjaga Ixora.
“Aku juga ingin melihat anakku yang sedang sakit. Aku harus menyamar menjadi apa?” gumam Tuan William sambil menatap wajah Vadeo. Dan Vadeo hanya mengangkat kedua bahunya.
Saat Tuan William masih memikirkan harus menyamar menjadi siapa. Hand phone nya berdering. Tuan William segera meraih hand phone nya yang tadi sudah dimasukkan lagi pada saku jas nya. Dia mengira Sang Isteri menelepon balik akan tetapi saat di lihat ternyata Tuan Alfredo yang menghubunginya.
“Hallo.” Sapa Tuan William saat sudah menggeser tombol hijau.
“Bagaimana Tuan, apa sudah membicarakan dengan Nyonya William masalah rencana pernikahan Ixora yang dipercepat?” tanya Tuan Alfredo.
“Maaf Tuan Alfredo kami belum bisa membahas masalah itu. Saat ini Ixora sedang sakit. Kami masih fokus memikirkan kesembuhan Ixora.” Ucap Tuan William.
“Oooh maaf. Maafkan saya Tuan William.” Ucap Tuan Alfredo.
“Jika diizinkan kami akan menjenguk Ixora.” Ucap Tuan Alfredo kemudian
“Terima kasih. Tetapi Ixora sedang tidak boleh dijenguk agar bisa istirahat dan cepat sembuh. Dia juga sedang di luar negeri.” Jawab Tuan William
“Kalau boleh tahu dia sakit apa?” tanya Tuan Alfredo selanjutnya
“Kecapekan.” Jawab Tuan William asal menjawab. Karena dia pun belum tahu persis penyebab Ixora jatuh.
__ADS_1