
“Ambilkan aku air mineral dan obat penurun tensiku.” Perintah Tuan William dengan suara lemah. Sang Sekretaris pun segera melaksanakan perintah Tuan William. Setelah minum obat nya Tuan William dibawa oleh beberapa karyawan menuju ke kamar pribadinya yang berada di dalam ruang kerja itu. Dan selanjutnya Sang Sekretaris dan satu karyawan lainnya menjaga Tuan William.
Setelah beberapa menit kemudian tampak Tuan William masih menahan rasa sakit pada tengkuk dan kepala nya. Berkali kali dia memijit mijit pelipis nya dan juga tengkuknya.
“Tuan, kami bawa Tuan ke rumah sakit saja ya.” Ucap sang sekretaris yang mengkhawatirkan keadaan kesehatan Tuan William. Tuan William hanya diam saja mulutnya tidak mengatakan sepatah kata pun. Sang Sekretaris yang berjenis kelamin laki laki itu lalu segera menelepon sopir agar bersiap siap untuk mengantar Tuan William ke rumah sakit.
“Aku tidak bisa jalan, kepala ku rasa nya berputar putar. Ah entah lah apa bumi nya yang rasa nya berputar.” Gumam Tuan William masih memijat lihat pelipisnya.
“Bumi nya memang berputar Tuan, tapi saya tidak merasakan.” Ucap sang sekretaris sambil menaruh lagi hand phone nya ke dalam saku blazer nya.
“Mari kita gotong Tuan menuju lift.” Ucap Sang Sekretaris itu selanjutnya lalu mendekati tubuh Tuan William yang masih terbaring di tempat tidur. Sambil mengajak karyawan yang juga menjaga Tuan William di dalam kamar pribadi itu.
Akan tetapi saat dua orang itu mencoba menggotong tubuh Tuan William, mereka berdua merasakan tubuh Tuan William yang tinggi besar itu sangat berat bagi mereka berdua.
“Cepat kamu panggil yang lainnya untuk membantu.” Perintah sang sekretaris pada karyawan yang menemani.
“Apa kalian belum makan?” tanya Tuan William dengan nada lemah.
Beberapa waktu kemudian datang lagi dua orang pengawal Tuan William. Mereka pun akhirnya berhasil menggotong tubuh Tuan William. Semua karyawan William Group tampak kaget dan khawatir melihat Tuan William digotong dan dibawa ke rumah sakit.
Beberapa menit kemudian mobil yang membawa Tuan William sudah memasuki halaman rumah sakit. Setelah melewati segala proses dan prosedur, akhirnya Tuan William sudah mendapatkan penanganan dari Dokter, kini Tuan William sudah terbaring di tempat tidur di ruang perawatan. Dan beliau sudah tampak tenang tidak merasakan kesakitan lagi.
Se saat kemudian pintu ruang rawat itu terbuka dan muncul sosok Nyonya William berjalan tergopoh gopoh dan wajah nya tampak sembab karena di sepanjang perjalanan dari Mansion William menuju rumah sakit dia menangis setelah mendapat kabar suaminya masuk rumah sakit. Di belakang nya berjalan Dokter pribadi keluarga William.
“Pa.... Papa kenapa?” tanya Nyonya William dengan nada khawatir sambil terus melangkah mendekati tempat pembaringan Tuan William suami nya.
Nyonya William tadi sudah ditelepon oleh Sang Sekretaris lalu diantar oleh sopir keluarga William.
“Papa mikir apa Pa?” Tanya Nyonya William lagi yang kini dia sudah duduk di kursi di samping tempat pembaringan Tuan William. Sementara Dokter pribadi keluarga William tampak mencatat perkembangan kesehatan Tuan William.
“Ixora Ma.. tolong panggil Ixora ke sini. Aku akan bicara penting pada diri nya.” Ucap Tuan William dengan suara yang masih lemah.
“Apa Tuan Alfredo menarik saham nya Pa?” tanya Nyonya William. Dia tidak terpikirkan masalah paspor Isomah yang tidak bisa dibuat. Tuan William hanya menggelengkan kepala nya.
“Jemput Pak Wagiman sekarang dan suruh dia menjemput Ixora. Cepat!” perintah Tuan William sambil menatap Sang Sekretaris yang sejak tadi menemani Tuan William. Sang Sekretaris pun dengan segera melangkah keluar dari ruang rawat Tuan William untuk melaksanakan perintah nya.
Sementara itu Ixora yang masih berpenampilan sebagai Isomah, dia masih di dalam ruang kuliah nya di fakultas kedokteran. Perasaan hati nya tidak enak. Dia duduk dengan gelisah, dia juga tidak bisa berkonsentrasi penuh mendengarkan penjelasan materi dari Dosen.
Dan tidak lama kemudian.
__ADS_1
TOK... TOK.. TOK...
Suara ketukan di pintu ruang kuliah. Bapak Dosen pun melangkah menuju ke pintu dan selanjutnya menarik daun pintu dengan pelan pelan. Saat pintu sudah terbuka muncul tiga sosok manusia di balik pintu. Sosok yang tidak asing lagi buat Ixora. Karyawan kampus, Pak Wagiman dan Sekretaris pribadi Tuan William.
“Maaf Pak izin untuk menjemput mahasiswa Isomah, diharapkan mahasiswa Isomah untuk meninggalkan ruang kuliah sekarang juga.” Ucap Karyawan kampus yang mengantar Pak Wagiman dan Sekretaris Tuan William.
“Isomah silahkan tinggalkan ruang kuliah sekarang.” Suara Pak Dosen sambil menatap Isomah.
Isomah pun segera memberesi alat alat belajar nya , dengan segera dia masukkan semua ke dalam tote bag nya. Semua Mahasiswa di dalam ruangan itu termasuk Nindy, sangat penasaran apa yang telah terjadi pada Isomah, akan tetapi tidak ada waktu dan kesempatan untuk bertanya pada Isomah. Isomah segera bangkit dan melangkah meninggalkan ruang kuliah yang tidak lupa telah pamit terlebih dahulu pada Bapak Dosen.
Karyawan kampus segera melangkah menuju ke ruang kerjanya.
“Pak kita disuruh menjemput Nona Ixora kenapa malah menjemput anak pak Wagiman.” Ucap sang sekretaris yang berjalan di samping Pak Wagiman
“Sudah ayo sekarang menemui Tuan William.” Ucap Pak Wagiman
“By the way aku tidak menyangka anak pak Wagiman kuliah di kedokteran. Apa dia akan merawat Tuan William?” tanya sang sekretaris sambil menoleh sekilas ke Isomah yang berjalan di belakang mereka berdua.
Mereka bertiga terus berjalan meninggalkan gedung kampus fakultas kedokteran.
Saat mereka bertiga sudah sampai di dekat mobil Tuan William yang dibawa oleh Sang Sekretaris. Tiba tiba masuk sebuah mobil ke dalam halaman kampus fakultas kedokteran itu. Mobil itu tidak lain adalah mobil Carol, yang mana Carol akan menjemput Anneke.
Carol pun menurunkan jendela kaca mobil nya dan menoleh ke arah mereka.
“Ada apa dengan gembel itu? Apa dia kenal dengan keluarga Tuan William atau keluarga karyawan Tuan William.” Gumam Carol dalam hati lalu dia menghentikan mobilnya namun tidak berniat untuk turun. Sementara itu Sekretaris Tuan William, Isomah dan Pak Wagiman segera masuk ke dalam mobil.
Mobil Tuan William pun pelan pelan ber jalan meninggalkan halaman kampus fakultas kedokteran.
“Ada masalah apa Pak?” tanya Isomah yang duduk di jok belakang kemudi.
“Tidak tahu Nak. Ikut sang sekretaris saja.” Jawab Pak Wagiman sambil menoleh ke arah Isomah lalu sekilas menatap Sang Sekretaris yang sedang serius mengemudikan mobil Tuan William.
“Mana Nona Ixora? Aku nanti bisa bisa dimarahi oleh Tuan William. “ gumam Sang Sekretaris yang tidak tahu jika Isomah adalah Ixora
“Sudah ikuti saja saya, bawa kami ke Tuan William. “ ucap Pak Wagiman yang mendengarkan gumaman Sang Sekretaris.
Mobil terus melaju menuju ke rumah sakit. Saat mobil memasuk halaman rumah sakit perasaan Isomah alias Ixora semakin gelisah.
“Siapa yang sakit?” tanya Isomah dengan nada khawatir. Namun tidak ada jawaban.
__ADS_1
“Katakan!” teriak Isomah lagi karena dua orang di depan nya hanya diam saja.
“Tuan William Neng.” Ucap sang sekretaris
“Papa, Papa sakit apa?” tanya Ixora yang masih berpenampilan sebagai Isomah. Sang sekretaris langsung kaget dengan suara yang berada di belakangnya sampai sampai mengerem mobil dengan mendadak, untung tidak ada kendaraan di belakangan nya.
“Kok sepertinya suara Nona Ixora." gumam Sang sekretaris sambil kembali menjalankan mobilnya
Setelah mobil terparkir. Mereka bertiga segera keluar dari mobil dan berjalan menuju ke ruang rawat Tuan William. Setelah sampai di dekat ruang yang dituju Ixora yang masih berpenampilan sebagai Isomah segera berjalan cepat dan langsung membuka pintu yang tidak terkunci itu.
“Papa....” Suara Ixora sambil berlari ke tempat pembaringan Tuan William.
“Ix..” Suara Tuan William dan Nyonya William secara bersamaan.
“Ix, bagaimana kalau paspor Isomah tidak bisa dibuat Nak?” tanya Tuan William langsung pada pokok permasalahan yang menjadi beban pikirannya.
“Apa Andri tidak bisa mengusahakan Pa?” tanya Ixora dengan nada khawatir. Tuan William menjawab dengan menggelengkan kepalanya lemah.
“Kalau begitu aku buka saja jati diriku. Aku urus ke panitia lomba kalau perlu aku datangi sekretariat nya.” Ucap Ixora dengan nada serius
“Bagaimana kalau mereka tidak percaya dan publik menuduh kita yang meniadakan Isomah?” ucap Tuan William sambil memijit mijit kepalanya lagi yang tiba tiba terasa sakit lagi.
Nyonya William tampak panik lalu dia membantu memijit mijit pundak suaminya.
“Pa, kita pakai segala bukti dan lewat jalur hukum. Kita buat konferensi pers.” Usul Ixora sambil ikut memijit mijit lengan Papa nya.
“Aku nanti juga ikut konferensi pers ya...” ucap Nyonya William sambil menatap Ixora.
“Pa, kita usahakan. Jika aku gagal dan dibatalkan juara nya aku tidak apa apa, yang penting kita sudah usahakan lewat jalur yang benar.” Ucap Ixora selanjutnya dan mengabaikan ucapan sang Mama
“Entah apa pun nanti keputusan panitia lomba aku terima. Aku tidak juara dan tidak mewakili di tingkat Internasional tidak apa apa yang penting Papa sehat.” Ucap Ixora selanjutnya sambil mengusap usap tangan Sang Papa dengan lembut.
Tuan William yang mendengar ucapan Ixora sangat terharu hati nya. Tidak terasa di kedua ujung mata Tuan William pun menetes air mata.
“Ix, terima kasih Sayang..” ucap Tuan William selanjutnya sambil kedua tangan nya terulur untuk memeluk tubuh Ixora. Ixora pun segera memeluk tubuh Sang Papa yang masih terbaring itu.
Nyonya William yang melihat suami dan anak nya saling peluk dia pun ikut memeluk tubuh kedua nya..
“Papa, yang penting sehat dulu Pa, besok kita urus semua nya. Kita bukan penipu, itu aku lakukan demi keselamatan ku. Dan kini aku sudah siap untuk tampil menjadi Ixora William.” Ucap Ixora dengan penuh keyakinan. Tuan William pun tersenyum sambil menepuk nepuk pundak Puteri nya memberikan dukungan.
__ADS_1
“Berarti sudah bisa dong sering ketemu an dengan Carol.” Saut Nyonya William yang sudah melepas pelukannya pada anak dan suaminya, sambil tersenyum senang.