Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 109. Pagar Makan Tanaman?


__ADS_3

Isomah terus menuruni anak tangga di belakang Richardo tidak ada suara mereka berdua, hanya langkah kaki mereka yang terdengar dan menimbulkan gema suara.


Sesaat kemudian, tampak kaki Richardo sudah menginjakkan lantai ruang bawah tanah itu. Dia menoleh dan mendongak menatap Isomah yang masih berjalan di anak tangga. Richardo tersenyum akan tetapi senyuman nya hanya samar samar terlihat sebab pantulan sinar lampu dari atas sudah semakin sedikit yang sampai ke bawah.


Richardo menunggu Isomah sampai di lantai bawah tanah. Saat kaki Isomah sudah menginjakkan lantai bawah tanah. Richardo melanjutkan langkahnya. Isomah yang jantungnya berdebar debar tidak enak juga mengikuti langkah kaki Richardo. Aneh nya kini suara langkah kaki mereka berdua pun sudah tidak terdengar lagi. Tidak ada lagi gema suara nya.


Sesaat kemudian Richardo mendekati sebuah dinding yang sudah dia hafal meskipun kondisi ruangan gelap. Dan tiba tiba .


BYAR


Ruangan kini terang benderang. Richardo tadi menekan saklar yang ada di dinding ruang bawah tanah itu. Bibir Richardo tersenyum menatap Isomah, sedangkan Isomah pandangan matanya mengitari seluruh ruangan yang baru kali ini dia datangi. Sebuah ruangan yang sangat luas. Di ujung dinding agak jauh ada alat untuk sasaran tembak yang sering dia lihat yang bergambar lingkaran lingkaran. Dan juga ada manekin manekin alias orang orangan yang juga digunakan untuk latihan sasaran tembak.


“Mari Nona.” Ucap Richardo lalu melangkahkan kaki nya. Isomah pun mengikuti langkah kaki Richardo.


“Tempat latihan di sini, jadi aman tidak akan ada peluru nyasar pada binatang atau masyarakat umum.” Ucap Richardo sambil melangkah dan sekilas menoleh ke arah belakang pada Isomah yang berjalan di belakang nya


“Ruangan ini kedap suara ya, tetapi kenapa di tangga tadi tidak?” tanya Isomah karena penasaran dengan ruang rahasia di rumah Bang Bule ini.


“Benar Nona. Ini dulu adalah ruang rahasia untuk bersembunyi orang orang pribumi. Dan memang dibuat begitu jadi saat ada bahaya datang mengancam sudah diketahui karena suara dari anak tangga tadi.” Ucap Richardo sambil terus melangkah.


“Apa di sini juga untuk tempat mengeksekusi musuh musuh?” tanya Isomah yang mendadak bulu kuduk nya berdiri meremang. Telapak tangan kanan Isomah pun mengusap usap lengan kirinya yang mendadak merasa dingin padahal dia sudah memakai baju lengan panjang.


“Hmmmm.” Gumam Richardo sambil menoleh sesaat dan terus melangkah.

__ADS_1


“Tuan Vadeo juga berlatih nya di sini Nona. Tapi kalau Nyonya Alexandria saya tidak tahu, saat Nyonya Alexandria bermain main di sini menemani Tuan Vadeo, dia sudah sangat lihai selalu tepat sasaran tembakan nya.” Ucap Richardo selanjutnya agar Isomah tidak takut sebab dia melihat bahasa tubuh Isomah.


Richardo pun lalu membuka salah satu lemari yang tertempel pada dinding. Terlihat di dalam lemari itu ada banyak senjata api.


“Ini seperti nya cocok untuk Nona.” Ucap Richardo sambil mengambil satu buah senjata api yang ukurannya kecil. Kemudian dia juga mengambil lagi satu buah senjata api


Richardo pun segera menutup lemari itu dan membalikkan tubuhnya. Dia lalu mengulurkan tangannya memberikan satu buah senjata api yang berukuran kecil kepada Isomah. Dengan gemetar Isomah menerima senjata api itu. Karena seumur umur baru kali dia memegang senjata api sungguhan.


“Kita terpaksa menggunakan alat seperti ini untuk melindungi diri bukan untuk kejahatan justru kita basmi kejahatan. Seperti visi dalam ilmu bela diri yang Bang Bule ajarkan.” Ucap Richardo dengan nada serius sambil menatap tajam ke wajah Isomah yang tampak kawatir dan takut takut. Isomah pun menganggukkan kepalanya.


Richardo lalu terlihat mengajari Isomah untuk mengenali senjata api nya itu, mulai dari nama nama bagian bagiannya, cara kerjanya, cara membuka dan mengisi peluru, juga cara memegang nya dan lain sebagainya.


Dan kini tiba saatnya Richardo mengajari cara menggunakan senjata api itu.


“Nona coba buka kaca mata Nona, agar pandangan mata Nona tidak terganggu oleh kaca mata palsu Nona. Jika nanti Nona sudah bisa, bisa melakukan latihan dengan memakai kaca mata. “ ucap Richardo sambil melangkah menuju ke tempat untuk latihan tembak.


“Mulai sekarang Tuan?” Tanya Isomah yang juga berdiri tidak jauh dari Richardo.


“Ooo iya Nona.” Jawab Richardo yang kaget ternyata dia sudah melamun sesaat dan Isomah pemilik mata indah sudah berdiri tepat di posisi latihan tembak dan menghadap pada papan sasaran tembak yang bergambar lingkaran lingkaran.


Isomah pun terlihat mengulurkan tangan kanan nya yang sudah memegang senjata api. Tote bag kantong doraemon nya dia cangklong di tangan kirinya. Dia pun lalu menekan pelatuk senjata api yang dia pegang itu.


Dan....

__ADS_1


“Haaaaa!” teriak Isomah dengan ekspresi kaget. Dia tidak menyangka dengan tekanan jari yang lemah saja satu peluru sudah meluncur terbang tanpa suara tembakan dari senjata api yang dia pegang. Dan peluru itu tidak mengenai papan sasaran tembak sedikit pun akan tetapi mengenai dinding tembok beton yang sudah ada pelindung nya.


“Ha.... Ha... Tidak nyangkut sedikit pun di papan target.” Ucap Isomah sambil menertawakan diri nya sendiri.


“Apa Kak Alexa bisa tepat di tengah tengah lingkaran itu?” tanya Isomah selanjutnya.


“Iya Nona, Nyonya Alexandria bisa tepat di tengah. Saat latihan menggunakan manekin juga bisa tepat pada organ yang dituju.” Ucap Richardo sambil berjalan mendekati Isomah dan berdiri di samping kanan Isomah.


“Perhatikan posisi tangan Nona.” Ucap Richardo selanjutnya. Tampak Isomah pun mencoba mengulurkan tangannya lagi masih dengan memegang senjata api yang dia arahkan pada papan tembak.


“Begini?” tanya Isomah selanjutnya masih dengan tangan lurus mengarah pada papan sasaran tembak.


“Maaf Nona, kurang tepat.” Jawab Richardo sambil melihat posisi tangan Isomah.


“Begini?” tanya Isomah lagi


“Izinkan saya membetulkan posisi tangan Nona.” Ucap Richardo selanjutnya dan Isomah pun menganggukkan kepalanya. Richardo lalu terlihat memegang lengan Isomah meskipun dia tidak memegang langsung kulit mulus Isomah yang terlalu di oleh pakaian yang dikenakan oleh Isomah, tetap saja jantung Richardo berdebar debar dengan kencang.


DUG... DUG... DUG... DUG...


Suara detak jantung Richardo yang sangat keras hingga terdengar di telinga Isomah karena posisi mereka yang begitu dekat. Akan tetapi Isomah tidak begitu memedulikan dia konsentrasi pada suara mulut Richardo yang memberikan arahan tentang posisi tangannya.


“Sudah Nona tekan pelatuk ringan saja.” Ucap Richardo setelah melepas tangannya. Dia lalu melangkah sedikit ke belakang Isomah lalu kedua tangan Richardo memegang dada nya sendiri yang masih berdetak detak dengan kencang jantung nya.

__ADS_1


“Kuatkah aku menjaga nya agar tidak terjadi pagar makan tanaman.” Gumam Richardo masih mengelus elus dada nya sendiri.


Dan tiba tiba..


__ADS_2