
Saat jam kuliah sudah selesai Ixora pun mengajak Nindy untuk keluar ruangan secara bersama sama. Nindy pun tampak ekspresi wajah nya tidak lagi bersedih. Bunga mawar pun sebagian diberikan Ixora pada Nindy. Mereka berdua terus berjalan dengan bibir tersenyum.
Akan tetapi sesaat pandangan mata mereka berdua tertuju pada satu sosok laki laki yang duduk di bangku yang berada di luar ruang kuliah, bangku yang biasa dipakai mahasiswa untuk menunggu jam kuliah. Laki laki itu duduk seorang diri dengan tertunduk sambil sesekali jari jari tangannya mengusap air mata yang mengalir dari matanya yang tertutup kaca mata tebal nya.
“Kak Gugun..” ucap Ixora dan Nindy secara bersamaan dan menoleh untuk saling pandang.
Mereka berdua pun terus melangkah menuju ke bangku tempat duduk Gugun.
“Hiks.. hiks... hati ku patah sepatah patah nya...” ucap Gugun sambil terisak isak.
“Kak, cinta tidak harus memiliki..” ucap Nindy yang paham sejak awal jika Gugun jatuh hati dengan Isomah sejak pandangan pertama.
“Kamu bisa bilang begitu karena kamu tidak mengalami.” Ucap Gugun sambil mengibaskan tangan Nindy yang menepuk nepuk pundaknya.
“Aku juga mengalami Kak, aku jatuh hati dengan laki laki tetapi aku sadar diri akan keadaanku maka biar saja aku tetap mencintai meskipun aku sadar tidak bisa memiliki. Anggap saja kita bagai mencintai artis idola kita, begitu sih kalau aku.” Ucap Nindy yang membuat Ixora terharu, Ixora menebak nebak mungkin Nindy jatuh hati pada Richardo yang dia anggap sebagai dewa penolong nya.
“Kak Gugun, kita tetap berteman. Ini bunga mawar buat Kak Gugun.” Ucap Ixora sambil memberikan bunga bunga mawar yang dia pegang kepada Gugun. Sambil terisak isak Gugun menerima mawar mawar pemberian dari Ixora itu.
Waktu pun terus berlalu. Sementara itu sejak hadirnya Ixora William di kampus, Anneke masih saja bersikap sombong dia tidak memperbaiki kelakuannya akan tetapi pakaiannya semakin bertambah sexy, mungkin itu adalah kelebihan yang bisa ditunjukkan keberaniannya memamerkan tubuh sexy nya.
Di siang hari setelah jam kuliah selesai, wajah Anneke tampak kusut sebab pamor nya benar benar kalah saing dengan Ixora. Media kampus terus memuat berita tentang profil dan aktivitas Ixora.
Anneke bertambah sakit kepala karena Carol sakit dan dia pun tidak diizinkan untuk menjenguk Carol.
Anneke terus melangjah keluar dari kampus, masih dengan gaya jalan nya yang melenggang lenggok. Dia langsung menuju ke tempat mobil nya terparkir.
__ADS_1
“Gila semua media sekarang membahas dia.” Gumam Anneke saat melihat banyak poster berisi promosi media kampus yang akan menayangkan wawancara nya dengan Ixora.
“Mana follower ku pada kabur lagi..” gumam Anneke lagi
“Puyeng. Mana Kak Carol sakit dan aku tidak boleh lihat kondisi dia.” Ucap Anneke sambil membuka pintu mobil nya.
Anneke menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir dengan cepat. Dia pun dengan segera melajukan mobil nya keluar dari halaman kampus fakultas kedokteran.
“Aku kenapa jadi haus banget.” Ucap Anneke sambil mengambil botol minum nya.
“Air minum habis lagi.” Ucap nya saat botol air minumnya sudah tidak ada isi nya. Dengan kasar dia menaruh botol kosong nya itu pada tempat nya, karena kasar hingga botol itu terjatuh di lantai mobil.
Mobil Anneke terus melaju, saat sudah mendekati mini market kampus, Anneke menepikan mobil nya dan tidak lama kemudian dia menghentikan mobil nya. Dengan cepat dia turun dari mobil nya dan segera masuk ke dalam mini market itu.
Saat Anneke sudah mengambil dua botol minuman dingin yang akan digunakan untuk mendinginkan kerongkongan, tubuh dan otaknya. Tiba tiba dia menatap satu orang pemuda yang masuk ke dalam mini market kampus itu.
“Aku coba dekati dia, siapa tahu mau diajak bekerja sama.” Gumam Anneke dalam hati lalu dia berjalan mendekati Reyvan yang berada di depan kasir untuk membeli rokok.
Anneke pun segera melangkah menuju ke kasir dan segera membayar dua botol minumannya. Sebab Reyvan setelah membeli rokok dan membayar langsung keluar meninggalkan mini market.
Anneke setelah membayar minumannya langsung keluar dari mini market untuk mengejar Reyvan.
“Hei.. Hei.. “ teriak Anneke sambil mengejar Reyvan yang berjalan kaki terus meninggalkan lokasi mini market.
“Hei.. Hei.. yang baru saja beli rokok!” teriak Anneke yang kesulitan mengejar Reyvan karena dia memakai high heel dan rok mini ketat.
__ADS_1
Reyvan pun menoleh ke belakang ke arah suara yang mengatakan baru saja beli rokok.
“Hmm dia kan primadona kampus yang terkenal sexy dan pacarnya putra pemilik kampus. Ngapain panggil panggil aku.” Gumam Reyvan saat melihat sosok sexy Anneke.
“Berhenti aku ada perlu penting.” Ucap Anneke sambil terus melangkah. Dan Reyvan pun berhenti.
“Kenalkan aku Anneke.” Ucap Anneke sambil mengulurkan tangannya saat berada di depan Reyvan.
“Reyvan.” Ucap Reyvan sambil menjabat tangan Anneke.
“Nama yang keren sekeren orang nya.” Ucap Anneke sambil senyum menggoda dan belum juga melepas tangan Reyvan.
“Aku pernah lihat kamu, sepertinya kamu teman SMA Ixora kan?” ucap Anneke sambil mengeringkan mata nya.
“Apa kamu mau bekerja sama dengan ku untuk melakukan hal yang sama seperti dulu.” Ucap Anneke selanjutnya yang kini sudah melepas jabatan tangannya.
“Maaf aku sudah tidak berani, lihat ini. Aku selalu dalam pengawasan.” Ucap Reyvan sambil menunjukkan gelang pengawasannya.
“Tidak harus kamu yang mengeksekusi aku hanya butuh informasi informasi saja dari kamu." Ucap Anneke dengan nada serius
“Aku sanggup bayar berapa saja, termasuk jika kamu butuh sesuatu itu.. “ ucap Anneke sambil mendorongkan dada nya dan membasahi bibir nya dengan lidah nya dan gerakan menggoda.
Reyvan yang selama ini mendapat hukuman kebiri sementara tiba tiba adik kecil nya beraksi saat melihat bahasa tubuh Anneke.
“Sial, aku mencoba therapi adik kecil ku dengan melihat video video tidak ngaruh kenapa baru di depan orang ini, dia bereaksi. Berarti efek suntik kebiri itu sudah habis. Apa aku sanggupi saja kerja sama nya demi masa depan adik kecil ku. Toh bukan aku sendiri nanti yang mengeksekusi. Aku hanya memberi informasi.” Gumam Reyvan dalam hati sambil berpikir pikir.
__ADS_1
“Okey, kamu berikan nomor hand phone mu nanti aku hubungi kamu. Kita cari tempat yang aman.” Ucap Reyvan selanjutnya.
“Sip.” Ucap Anneke sambil tersenyum puas, dia paham jika Reyvan sudah tergoda dengan bahasa tubuh nya. Anneke segera mengambil hand phone nya dari dalam tas nya. Reyvan pun meraih hand phone dari saku celana belakang nya. Mereka berdua lalu bertukar nomor hand phone.