
Ixora terus melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Penyangga tangan kanannya sudah dia lepas sejak tadi, sebab mengganggu gerakan tangannya dalam mengendalikan kemudi mobilnya.
Akan tetapi tiba tiba perasaan Ixora tidak nyaman karena dia merasa ada motor yang terus mengikuti dirinya. Pengalaman nya yang pernah diuntit oleh mobil membuat perasaannya peka.
“Sepertinya sejak keluar dari kawasan mansion motor itu mengikuti aku.” Gumam Ixora sambil melihat satu motor di belakang mobil nya lewat kaca spion
“Hm aku harus segera menuju ke jalur yang khusus mobil.” Ucap Ixora sambil menambah laju kecepatan mobilnya
“Tidak lama lagi aku akan memasuki jalur khusus mobil, motor itu tidak bisa mengikuti aku lagi.” Gumamnya lagi
Akan tetapi sesaat kemudian motor yang mengikuti mobil Ixora mendekati dirinya sambil menunjukkan satu pelat nomor polisi, sambil berteriak teriak mengatakan pelat mobil nya jatuh.
“Hah, modus kejahatan yang sudah diketahui banyak orang.” Ucap Ixora sambil terus melajukan mobilnya.
Akan tetapi motor itu terus saja memepet mobil Ixora hingga pada suatu jalan yang sepi mobil Ixora tidak bisa berjalan ke depan dan dengan terpaksa Ixora menghentikan mobilnya.
“Apa sih mau dia!” ucap Ixora penuh emosi
“Keluar buka pintunya!” perintah seorang laki laki pengendara motor tadi yang sudah berdiri di samping pintu mobil Ixora.
“Hmmm kurang ajar mengganggu perjalanan orang saja.” Ucap Ixora lalu mengambil masker dan kaca mata yang ada di dash board mobilnya. Dia waspada akan kasus bius yang sudah pernah menimpanya.
Laki laki pengendara sepeda motor itu masih berdiri di samping pintu mobil Ixora sambil memegang plat nomor polisi. Ixora terlihat ogah ogahan untuk membukakan pintu mobilnya. Namun tidak ada cara lain selain menemui orang itu agar dia bisa meneruskan perjalanan untuk menuju ke bandara.
Ixora lalu memiringkan tubuhnya dan dengan tangan kirinya dia membuka pintu mobil itu dengan saat keras, sekuat tenaga. Terlihat laki laki itu sempoyongan tubuhnya karena tidak menyangka akan mendapat dorongan pintu mobil yang terbuka dengan sangat keras mengenai tubuhnya.
Ixora dengan segera keluar dari mobilnya di saat laki laki itu masih sempoyongan tubuhnya. Dan dengan cepat dia tendang bagian burung dan kedua telor laki laki itu sekaligus. Tampak laki laki itu menjerit kesakitan sambil kedua tangannya memegang bagian tubuhnya yang sudah ditendang oleh Ixora dengan sangat keras.
“Siapa kamu?” tanya Ixora dengan penuh emosi, terlihat laki laki itu tidak menjawab pertanyaan Ixora akan tetapi masih memegangi burung dan kedua telurnya. Dengan ekspresi wajah meringis kesakitan.
__ADS_1
“Mau lagi?” teriak Ixora dan sebelum laki laki itu menjawab, tendangan kaki Ixora sudah menyambar tengkuk laki laki itu dan seketika tubuh laki laki roboh ke tanah.
Tidak lama kemudian.
UWWWIIIIINGGGG UWWWIIING UWINGGGGG
Terdengar suara mobil polisi patroli mendekat. Mungkin polisi sudah melihat kejadian dari pantauan CCTV maka segera mendatangi.
“Nona, apa Nona baik baik saja?” tanya salah satu polisi setelah turun dari mobilnya dan berlari menuju mendekati Ixora yang masih pada posisi siaga. Sedangkan satu polisi yang lainnya berlari mendekati laki laki yang roboh tubuhnya sambil kedua tangannya masih memegangi bagian yang ditendang keras oleh Ixora.
“Saya baik baik saja, tapi tolong segera singkirkan motor yang mengganggu Jalanku itu. Saya tergesa gesa akan menuju ke bandara. Bapak foto pelat mobil saya jika ada urusan kirim surat ke alamat yang di data.” Ucap Ixora sambil menatap Pak Polisi.
“Saya juga ingin tahu siapa orang itu.” Ucap Ixora selanjutnya
“Baik Nona.” Ucap Pak Polisi yang menatap Ixora penuh tanda tanya akan tetapi mulutnya tidak berani bertanya. Mungkin dia bertanya tanya ada keperluan apa tergesa gesa ke bandara sampai sampai hanya memakai baju piyama.
Ixora segera masuk ke dalam mobilnya. Bibirnya sedikit meringis akibat dia merasakan tangan kanannya terasa ngilu dan nyeri.
Ixora lalu melajukan mobilnya setelah pak polisi sudah menyingkirkan motor yang menghalangi mobil Ixora. Ixora terlihat melihat waktu yang terus bertambah angkanya.
“Semoga terkejar.” Ucap Ixora sambil menambah laju kecepatan mobilnya. Dia benar benar mengabaikan rasa sakit di tangan kanannya.
Mobil Ixora terus melaju dengan kecepatan penuh.
Tidak lama kemudian mobil Ixora sudah memasuki halaman bandara, dia segera melajukan mobilnya menuju ke tempat parkir yang paling dekat dengan terminal keberangkatan penumpang untuk tujuan ke luar negeri.
Sementara itu Bang Bule dan Nyonya Jansen sudah berada di dalam pesawat. Mereka berdua tinggal menunggu informasi pesawat akan take off.
Bang Bule masih terus memegangi hand phone nya sambil berharap Ixora menghubunginya mengatakan dia datang ke bandara. Jika itu terjadi dia akan turun dari pesawat.
__ADS_1
“Vin, matikan hand phone mu. Apa kamu tidak mendengar pesawat sudah akan take off.” Ucap Nyonya Jansen sambil menatap anak laki lakinya.
“Ixora minta ditunggu Ma..” ucap Bang Bule dengan nada sedih namun penuh harapan Ixora akan datang.
“Tapi pesawat tidak bisa menunggu satu orang saja.” Ucap Nyonya Jansen lalu mengambil hand phone Bang Bule dan mematikan nya. Sementara itu Bang Bule menoleh ke arah luar jendela dia berharap matanya menangkap sosok Ixora.
“Bye bye Beb...” ucap Bang Bule karena tidak melihat sosok Ixora dan pesawat sudah tinggal landas dengan sempurna. Dua butir air jatuh dari ujung mata Bang Bule saat dia mengedipkan matanya.
Sedangkan Ixora setelah keluar dari mobilnya langsung berlari sambil mencoba menghubungi Bang Bule lewat hand phone Dealova akan tetapi hand phone Bang Bule sudah tidak aktif lagi.
Ixora terus berlari menerobos orang orang yang berjalan. Dia melihat layar monitor pengumuman pesawat yang ditumpangi Bang Bule sudah boarding.
Ixora menanyakan pada petugas bandara.
“Itu Non, pesawat sudah mulai take off. Baru saja tadi ada pengumuman pesawat yang Nona tanyakan siap take off.” Jawab petugas bandara.
Ixora langsung berlari meninggalkan tempat itu dia berlari menuju ke halaman yang agak luas agar bisa melihat pesawat yang ditumpangi Bang Bule.
Banyak orang melihatnya mungkin mengira dia orang gila yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa. Beberapa orang malah merekam Ixora, untung Ixora masih memakai masker dan kaca mata hitam nya jadi orang tidak mengenal dirinya yang sebagai puteri Tuan William.
“Baaaaang... aku sudah datang kenapa tidak ditunggu!” teriak Ixora dengan sangat keras sambil mendongak ke atas. Air mata Ixora sudah meleleh membasahi wajah cantiknya yang tertutup masker dan kaca mata.
“Nona tolong minggir, berbahaya nanti ditabrak mobil.” Teriak petugas bandara
Ixora pun segera berjalan minggir sementara pesawat yang ditumpangi oleh Bang Bule terus membumbung tinggi.
Ixora lalu berjalan minggir, dia akan kembali menuju ke mobilnya dan segera menuju ke rumah Pak Dokter untuk mengecekkan tangannya.
“Aku harus berikan bukti pada Bang Vincent kalau aku sudah sampai ke bandara. Siapa tahu dia nanti di Singapore membuka hand phone dan kembali.” Ucap Ixora yang membatalkan untuk menuju ke mobilnya. Dia lalu melakukan foto selfie dengan latar belakang yang menunjukkan lokasi bandara. Lalu dia kirim foto itu ke kontak nama Bang Bule.
__ADS_1
Ixora lalu berjalan menuju ke terminal kedatangan, berharap Bang Bule akan kembali setelah melihat foto dirinya masih di bandara.
“Paling dua jam lagi dia transit dan dia pasti akan membuka hand phone nya saat transit. Aku tunggu kabar dia di ruang tunggu kedatangan penumpang saja.” Gumam Ixora yang sudah tahu jadwal penerbangan Bang Bule transit di Singapore. Dia akan menunggu di sana sekalian istirahat tidak apa apa menunggu selama empat jam jika Bang Bule balik lagi. Daripada kembali ke mansion pasti sudah tidak bisa lagi keluar.