Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 141. Tanpa Alat Pengaman


__ADS_3

Ixora menoleh ke arah tangannya yang masih memegang telapak tangan Carol. Dia merasakan ada gerakan lemah di jari jari Carol, yang sejak tadi hanya diam dan dingin tidak ada tanda tanda merespon dengan kedatangan dan ucapan nya.


“Nyonya jari jari Kak Carol bergerak.” Ucap Ixora sambil menoleh lagi menatap Nyonya Alfredo.


“Benarkah?” tanya Nyonya Alfredo penuh harap, dia pun segera memegang telapak tangan Carol.


“Berarti dia sudah bisa merespon syaraf syaraf jari jari tangannya.” Ucap Nyonya Alfredo dengan nada suara bahagia dan air mata yang masih saja terus mengalir dari kedua ujung mata nya.


“Carol apa kamu mendengar suara Ixora, Nak..” ucap Nyonya Alfredo sambil mengusap usap telapak tangan Carol, dia pun ingin merasakan gerakan jari jari tangan nya Carol.


“Cepat bangun Nak.. apa kamu tidak ingin mengantar Ixora ke luar negeri.” Ucap Nyonya Alfredo penuh semangat dan juga memberi semangat pada Carol anak laki laki satu satu nya dan juga anak kandung satu satunya.


Ixora terlihat menoleh menatap Ibu Dosen Retno. Ibu Dosen Retno yang berdiri di dekat nya hanya bisa mengusap usap punggung Ixora sebagai kode agar sabar.


“Nyonya semoga Kak Carol cepat sembuh, maaf saya harus kembali ke kampus.” ucap Ixora selanjutnya.


“Tunggu sebentar Ixora, siapa tahu Carol akan membuka matanya dan melihat dirimu.” Ucap Nyonya Alfredo yang air mata nya terus meleleh tetapi tangannya terulur untuk menghapus air mata Carol yang juga masih menetes dari kedua ujung mata Carol. Dan Nyonya Alfredo berharap Carol akan membuka mata nya.


“Carol, Ixora pamit padamu dia akan ke luar negeri untuk melanjutkan lomba penelitiannya.” Ucap Nyonya Alfredo sambil mengusap usap telapak tangan Carol.


Dan...


“Ix, benar jari jari nya bergerak.. coba kamu menjabat tangannya.” Ucap Nyonya Alfredo dengan senyum lebar di bibirnya.


Ixora menoleh menatap Ibu Dosen Retno, dan Ibu Dosen Retno menganggukkan kepalanya. Ixora pun lalu menjabat tangan Carol.


“Aku pamit Kak, cepat sembuh ya..” ucap Ixora dan ada gerakan jari jari tangan Carol dengan lemah.


Akhirnya Ixora, Ibu Dosen Retno dan sang pengawal pun pamit untuk meninggalkan ruang rawat Carol. Nyonya Alfredo tampak sangat bahagia dan memohon Ixora untuk datang lagi menjenguk Carol.


Mereka bertiga terus melangkah menuju ke lift yang akan membawa mereka bertiga ke lantai dasar tempat mobil terparkir.

__ADS_1


“Kita harus lihat situasi dan kondisi Ix, untuk menyampaikan suatu hal yang penting.” Ucap Ibu Dosen Retno yang paham jika Ixora sedikit kecewa jika Ibu Dosen Retno belum jadi mengatakan tentang pembatalan perjodohan.


“Iya Bu, tunggu Kak Carol sehat dan Nyonya Alfredo juga sudah baik stamina nya, saya juga khawatir Nyonya Alfredo malah ikut sakit.” Ucap Ixora.. Dan mereka bertiga pun segera masuk ke dalam lift.


Sementara itu di tempat lain. Di kampus kedokteran Anneke mendapat pesan chat dari Reyvan , yang isi nya Anneke diajak untuk belajar bersama secepatnya. Mereka berdua pun akhirnya saling membutuhkan dan saling kecanduan. Apalagi Anneke yang memang memiliki tingkat hasrat begituan yang sangat tinggi. Sedangkan Reyvan yang baru pertama kali alias perjaka ting ting begituan dengan Anneke yang sudah ahli bin lihai membuat Reyvan mabok kepayang ingin lagi lagi dan lagi terus.


Anneke segera melangkah menuju ke mobil nya dan segera memacu mobil nya, menuju ke kost Beny tempat mereka biasa melakukan enak enak mantap mantap.


Tidak lama kemudian mobil sudah sampai di depan rumah kost Beny. Anneke kini sudah tidak peduli jika orang orang di sekitar kost Beny tahu hubungan dia dengan Reyvan. Dia beralasan ada bisnis dengan Reyvan dan Beny.


Anneke terus melangkah menuju ke kamar Beny. Dan dengan cepat pula dia membuka pintu kamar Beny. Saat pintu di buka tampak Reyvan sudah tiduran di kasur busa tebal dan luas, yang dibelikan oleh Anneke. Beny pun dengan senang hati menerima.


Anneke segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar kost Beny.


“Rey, janji kamu belum kamu tepati loh...” ucap Anneke dan terus menghambur menuju kasur busa tebal itu.


“Aku kan sudah kasih informasi ke kamu tentang Ixora, dia pacarnya Bang Bule yang sekarang sudah pergi ke Belanda.” Ucap Reyvan dengan santai.


“Terserah kamu.. “ ucap Reyvan sambil menarik tubuh Anneke agar ikut berbaring seperti diri nya.


“Ayo An.. adik kecil ku selalu berdiri jika lihat kamu..” ucap Reyvan yang suara nya sudah mulai parau dan jari jemari tangannya sudah mulai merambah ke pinggang Anneke mencari cari celah di antar blues dan bawahan Anneke agar bisa menyentuh tubuh Anneke yang sudah menggoda dirinya.


“Waktuku ga lama aku harus segera pulang.” Ucap Reyvan sambil terus menjelajah tubuh Anneke


“Sabar .. Aku pun juga sudah rindu dengan adik kecilmu yang ternyata bisa besar dan memuaskan..” ucap Anneke yang jari jari nya juga sudah menuju ke arah adik kecil Reyvan. Mereka berdua pun lalu saling menjamah dan menjelajah pada bagian bagian tubuh kesukaannya, pakaian mereka pun sudah terburai di lantai. Dan hingga pada saatnya Reyvan sudah tidak kuat lagi ingin menempatkan adik kecil nya pada tempat kesukaannya, demikian juga Anneke sudah ingin dikunjungi oleh adik kecil Reyvan yang bisa memberi kenikmatan lebih.


Namun sesaat Anneke pun ingat pesan dari Mami nya, dia lalu menjauh dari Reyvan dan Anneke pun meraih tas nya dia akan mengambil sesuatu. Tangan Anneke mengambil satu dos kecil dari tas nya.


Dan tiba tiba mata Anneke melotot saat isi di dalam box kardus itu sudah kosong.


“Habis.” Ucap Anneke sambil melempar box kardus kecil itu.

__ADS_1


“Sudah ga usah pakai, kata nya lebih enak an.” ucap Reyvan sambil menarik tubuh Anneke agar mendekat lagi.


“Iya sih, tapi aku takut hamil..” ucap Anneke sambil menyibakkan rambut nya yang menutupi wajah nya.


“Itu urusan nanti.” Ucap Reyvan sambil mencium bibir Anneke agar Anneke kembali melanjutkan hasratnya.


“Benar juga, satu kali ga pakai paling juga ga hamil.” Gumam Anneke dalam hati lalu dia pun melemparkan tas nya. Dan selanjutnya menerkam adik kecil Reyvan yang masih berdiri tegak menantang Anneke.


Mereka berdua pun melanjutkan hasrat yang sedikit tertunda karena Anneke sedang mencari cari alat pengaman untuk adil kecil Reyvan.


Mereka menikmati adegan mantap mantapnya tanpa alat pengamannya dan karena merasakan sensasi yang lebih enak mereka pun melakukan berulang kali.


Kita tinggalkan dua anak manusia yang sedang menumpahkan gelora nafsu membara nya.


Di lain tempat, di ruang an misterius yang kini sudah tidak misterius sebab sudah terlihat isi di dalam ruangan dan penghuni ruangannya.


Laki laki paruh baya yang bertubuh tambun itu duduk di kursi kerjanya. Di depan nya di kursi yang agak jauh dari nya duduk seorang laki laki yang juga berjaket hitam, anak buah lain nya selain tiga laki laki gatal gatal yang sudah tertangkap.


Laki laki itu melaporkan jika temannya tiga laki laki yang gatal gatal tidak ada di rumah nya.


“Apa kamu sudah menghubungi telepon mereka?” tanya laki laki bersuara berat dan bertubuh tambun itu.


“Katanya sedang rawat inap di ruko belakang kantor polisi. Tadi saya hubungi hanya ada nada sambung tetapi tidak diangkat.” Jawab laki laki yang juga anak buah nya itu.


“Kalau telepon Pece tidak bisa dihubungi.” Ucap laki laki itu lagi yang memberi keterangan pada Bos nya jika temannya Pece sebutan untuk laki laki yang memiliki hobby memakai kaca mata hitam jika hand phone nya tidak aktif . Dan memang benar jika hand phone Pece si laki laki yang hobby memakai kaca mata hitam sudah disita oleh Pak Polisi.


“Apa mereka sudah ditangkap Polisi?” gumam laki laki bertubuh tambun itu.


“Seperti nya, lha mereka menginap di belakang kantor polisi mungkin mereka sudah ditanggap.” Ucap laki laki anak buah laki laki bertubuh tambun dan bersuara berat itu.


“Aku harus segera melarikan diri, sebelum mereka bertiga buka mulut.” Ucap laki laki bertubuh tambun itu sambil meraih hand phone nya

__ADS_1


“Aku harus mencari bantuan kolega di luar negeri.” Ucap nya lagi sambil mengusap usap layar hand phone nya.


__ADS_2