Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 64. Niat Anneke


__ADS_3

Tidak lama kemudian Ixora sudah lebih dulu sampai di dekat mobil miliknya berada, dengan segera dia membuka kunci mobil lalu dia berjalan menuju ke samping kiri mobilnya dan dia membuka pintu mobil lalu dia cepat masuk ke dalam mobil.


Carol pun juga segera menyusul berjalan di samping kanan mobil Ixora lalu segera membuka pintu mobil dan dia duduk di jok kemudi.


Carol memasang sabuk pengamannya sambil menatap Ixora , dia tidak menyangka bisa mendapatkan kesempatan untuk berjumpa dan mengantar Ixora. Sedangkan Ixora tidak memperhatikan nya masih sibuk dengan pikiran nya.


Carol lalu menyalakan mesin mobil Ixora dan selanjutnya menjalankan mobil itu meninggalkan tempat parkir bandara.


Ixora terlihat mengambil hand phone Dealova yang dia taruh di dalam saku baju piyama nya.


“Hmmm untung tidak diminta Papa.” Gumam Ixora dalam hati lalu dia menon aktifkan hand phone Dealova.


“Aku sudah memberi tahu Bang Vincent kalau aku dijemput Papa. Kalau tidak aku off bisa salah paham kalau dia video call dan melihat aku dengan Kak Carol. Dia bisa menanyakan katanya dijemput Papa kok malah sama Kak Carol bisa panjang lebar kalau menjelaskan.” Gumam Ixora lagi yang tentunya masih di dalam hati. Lalu dia menaruh hand phone nya lagi di saku baju piyama.


“Kamu sakit apa Ix?” tanya Carol saat mobil sudah meninggalkan lokasi bandara.


“Jatuh.” Jawab Ixora dengan nada datar dan pandangan lurus ke depan. Pikiran dia masih pada Bang Bule yang sudah semakin jauh jaraknya dengan dirinya.


“Kok bisa jatuh?” tanya Carol sambil sekilas menoleh ke arah tangan kanan Ixora yang memakai penyangga.


“Ditabrak bajiingan.” Jawab Ixora dengan nada tinggi. Dia jadi teringat gara gara kecelakan itu dia jadi dibawa ke mansion dan tidak bisa bertemu dengan Bang Bule.


“Kurang ajar benar orang itu!” umpat Carol tampak ekspresi emosi di wajahnya.


“Siapa orang yang menabrak itu?” tanya Carol kemudian.

__ADS_1


“Ya bajiingan.” Jawab Ixora tanpa menoleh ke arah Carol


“Apa Kak Carol akan menghajar dia?” tanya Ixora selanjutnya


“Jelas, aku akan menghajarnya sampai babak belur sampai patah tulang belulangnya.” Jawab Carol dengan nada emosi


“Besok kalau bajiingan sudah ketemu Kak Carol hajar dia sampai remuk.” Ucap Ixora yang belum mengatakan kalau Carollah yang sudah membuatnya celaka. Dia belum mengatakan karena dia belum ingin penyamaran menjadi Isomah diketahui oleh Carol dan Orang orang kampus lainnya.


“Apa dia melarikan diri?” tanya Carol selanjutnya.


“Iya.” Jawab Ixora singkat


“Kurang ajar benar benar bajiingan!” umpat Carol dengan nada emosi. Padahal dia mengumpat dirinya sendiri.


Ixora hanya tersenyum datar. Mobil terus melaju menuju ke tempat dokter pribadi keluarga William.


“Payah sekali anak buah mu itu, katanya preman si raja jalanan, cuma disuruh melukai seorang perempuan saja kalah.” Ucap Anneke dengan wajah memerah karena marah. Dia tadi yang sudah senang mendapat kabar preman yang disuruh untuk mengawasi dan melukai Ixora sudah berhasil mengejar Ixora akan tetapi berita terkini membuat dia kecewa dan marah.


“Dia sangat kuat.” Ucap ketua preman suruhan Anneke.


“Anak buah mu yang payah. Ixora William itu seorang perempuan muda belia yang lemah lembut dan tidak berdaya .” Saut Anneke karena dia sudah mendengar berita tentang kasus penculikan Ixora. Dan dia tidak tahu Ixora yang sekarang.


“Nona sekarang kirim uang buat tutup mulut dan urusan ke kantor polisi.” Ucap ketua preman yang meminta kiriman uang dari Anneke.


“Uang apa lagi? Aku sudah bayar banyak ke kamu katanya untuk operasional, uang bensin, uang rokok, uang makan, ...” saut Anneke dengan nada tinggi

__ADS_1


“Kalau Nona tidak transfer dia akan mengatakan kalau Nona yang menyuruh.” Ancam ketua preman itu


“Sialan kamu!” umpat Anneke


“Berapa kamu minta?” tanya Anneke kemudian


“Tidak banyak Nona, sepuluh juta saja.” Jawab ketua preman itu.


“Payah kerja tidak benar tetapi minta bayar terus.” Ucap Anneke dengan emosi lalu dia memutus sambungan teleponnya. Dan mau tak mau dia harus mengirim uang pada preman suruhannya dari pada dia ketahuan sebagai otak usaha penganiayaan pada Ixora.


“Hmmm Ixora berarti berada di dalam mansion. Biar saja aku bayar preman preman itu. Tidak apa kali ini gagal masih ada banyak waktu.” Gumam Anneke sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa tempat dia duduk.


“Okey okey bener begitu. Aku kirim sekarang uang sepuluh juta untuk tutup mulut, dan untuk mengawasi mansion Willam lagi, ada kesempatan lagi biar segera mengeksekusi.” Ucap Anneke lagi lalu dia terlihat mengusap usap layar hand phone nya untuk mentransfer uang kepada ketua preman suruhan nya dan mengirim pesan perintah berikutnya untuk tetap memantau mengawasi mansion Willam dan segera bertindak saat ada kesempatan.


“Hmmm tidak akan aku biarkan Ixora mengalahkan pesona dan kecantikanku.” Ucap Anneke selanjutnya


“Sedikit besetan di wajahnya akan membuat kecantikannya memudar ha.. ha... ha...” ucapnya lagi sambil tertawa senang.


“Hmmm dan tidak lama lagi aku akan menikah dengan Tuan Muda Carol Alfredo, aku akan melakukan program hamil lengkap agar aku segera mendapatkan Carol Junior yang bisa aku gunakan untuk mengikat keluarga Alfredo.” Anneke tersenyum membayangkan waktu yang sudah ditentukan oleh Carol untuk menikahinya tinggal menghitung jam saja.


“Aku telepon Kak Carol sekarang untuk mengajaknya belanja kebutuhan pernikahan.” Ucap Anneke selanjutnya lalu dia terlihat mengusap usap layar hand phone nya untuk menghubungi Carol untuk menanyakan persiapan pernikahan nya.


Berkali kali Anneke mencoba menghubungi nomor hand phone Carol akan tetapi gagal terhubung.


“Hmmm dia sedang sibuk apa, bukannya hari ini sudah satu minggu waktu yang dikatakan. Apa dia sedang sibuk mencari orang yang akan menikahkan.” Gumam Anneke lalu dia menaruh hand phone nya sebab sudah berkali kali menghubungi selalu gagal.

__ADS_1


“Hmmm aku sudah tidak sabar rasanya...” ucapnya sambil tersenyum


“Apa aku datangi saja ke kantor dia. Benar benar bila perlu aku datangi dia ke mansion Alfredo, Nyonya Alfredo pun sudah baik kepada ku.” Ucap Anneke lalu dia bangkit berdiri untuk bersolek terlebih dahulu sebelum pergi menuju ke kantor pengacara Carol.


__ADS_2