
“Aku kira Nona Ixora yang menghubungi aku.” Gumam Richardo sambil tersenyum. Entah apa penyebabnya yang membuat kedua ujung bibirnya terangkat ke atas dan membentuk satu buah senyuman. Entah karena ingat kebaikan hati Ixora atau kecantikan Ixora yang kini disembunyikan nya atau kecemburuan Bang Bule pada diri nya. Richardo pun lalu menggeser tombol hijau.
“Selamat malam, maaf apa ini nomor hand phone Tuan Richardo.” Ada suara seorang perempuan di seberang sana di balik hand phone Richardo.
“Anda siapa?” ucap Richardo malah balik bertanya.
“Saya Nindy, teman Isomah. Saya dan keluarga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan Tuan Richardo.” Ucap Nindy lagi di balik hand phone Richardo. Nindy yang sudah mendapatkan balasan dari Isomah tentang kebenaran nomor hand phone Richardo segera menghubungi Richardo.
“Sama sama Nona Nindy, semoga Ibu nya Nona Nindy segera sehat.” Ucap Richardo agak kikuk sebab dia merasa tidak membantu apa pun buat keluarga Nindy.
“Terima kasih Tuan, semoga Allah Yang Maha Kuasa selalu memberi kelimpahan rejeki pada Tuan, dan tolong ya Tuan bantu juga teman saya Isomah agar masalah nya cepat selesai saya yakin dia tidak plagiat jika sampai naik ke pengadilan kasus nya saya bersedia untuk menjadi saksi.” Ucap Nindy dengan nada serius.
Namun tiba tiba dia teringat akan pengumuman dari Carol Alfredo, putera pemilik kampus Mahardhika.
“Eh.. tapi saya tidak boleh membantu dia karena bisa dikeluarkan dari kampus. Saya kok bingung .” ucap nya lagi dengan nada khawatir.
“Baiklah Nona saya akan membantu Nona Isomah ini saya juga sedang bekerja untuk membantu nya.” Ucap Richardo dengan nada datar.
“Ooo baiklah Tuan maaf saya sudah mengganggu dan sekali lagi terima kasih. “ ucap Nindy lalu dia segera memutus sambungan teleponnya agar tidak mengganggu kerja Richardo.
Richardo pun segera menaruh hand phone nya di atas meja kerja yang berada di kamar nya.
“Padahal yang membantu kamu itu teman kamu itu bukan aku.” Gumam Richardo sambil membuka lap top nya.
__ADS_1
Saat Richardo sedang menekan tombol power tiba tiba hand phone nya berdering lagi.
Dia tersenyum saat melihat di layar hand phone nya tertera nama kontak Nona I sedang melakukan panggilan suara. Richardo pun segera menggeser tombol hijau.
“Selamat malam Nona, apa yang bisa saya bantu.” Ucap Richardo sambil tersenyum meskipun senyuman nya tidak dilihat oleh Ixora sebab Ixora hanya melakukan panggilan suara
“Tolong segera Tuan cari tahu siapa pemilik akun itu dan siapa otak pelaku nya.” Perintah dari Ixora.
“Baik Nona.” Jawab Richardo dengan sopan.
Dan waktu pun terus berlalu, hari hari pun mulai berganti. Richardo masih terus bekerja mencari tahu siapa pemilik akun dan otak di balik fitnah pada Isomah. Sementara itu Isomah masih menunggu berita dari panitia lomba.
Dan di pagi hari di saat Isomah sudah siap siap akan berangkat ke kampus untuk kuliah pagi hari nya. Terdengar suara notifikasi di hand phone nya. Isomah yang sangat menanti nanti berita dari panitia lomba segera meraih hand phone nya.
“Selamat, tim panitia sudah menguji kevalidan surat keterangan yang anda kirim. Dan kami menyatakan sdri Isomah Wagiman tetap sebagai juara pertama dan berhak untuk mewakili lomba tingkat Internasional.”
Setelah selesai membaca pesan dari panitia lomba ada air mata mengalir dari kedua ujung mata nya akan tetapi bibir Isomah tersenyum bahagia.
“Aku tetap harus memperjuangkan hak ku. Aku enyahkan orang orang yang menghalangi ku.” Ucap Isomah sambil mengepalkan tangannya dia sudah bertekat untuk terus maju.
“Tuan Richardo kok belum menemukan pelakunya, padahal sebentar lagi pasti panitia akan mengumumkan hasil lomba yang sudah pasti.” Gumam Isomah dalam hati lalu dia sibuk mengetik ngetik di layar hand phone nya untuk memberikan ucapan terima kasih kepada panitia lomba. Dan setelah selesai dia pun segera mengirimkan nya.
“Coba aku hubungi Tuan Richardo. “ gumam Isomah. Lalu Isomah pun sibuk mengusap usap layar hand phone nya untuk mencari nama kontak Richardo. Akan tetapi setelah dia melakukan panggilan suara tidak bisa terhubung, hanya terdengar nada sibuk.
__ADS_1
Berkali kali Isomah mencoba menghubungi lagi nama kontak Richardo, akan tetapi masih juga nada sibuk yang terdengar.
“Nanti saja kalau aku sudah pulang dari kuliah aku hubungi lagi.” Gumam Isomah lalu dia pun segera memasukkan hand phone nya ke dalam tote bag nya dan dia pun segera keluar dari kamar nya untuk berangkat kuliah.
Beberapa menit kemudian Isomah sudah sampai di kampus kedokteran. Suasana kampus masih tetap sama orang orang masih tampak cuek dan mendiamkan dirinya. Saat Isomah masuk ke dalam ruang kuliah dia melihat sosok Nindy yang sudah duduk di salah satu kursi dan sudah siap dengan lap top nya.
“Nin, bagaimana kabar ibu mu ?” tanya Isomah lalu mendudukkan pantatnya di kursi di samping Nindy.
“Hai Is, terimakasih banyak ya sudah membawa Tuan Richardo menjenguk Ibu ku. Sekarang ada perawat yang khusus menjaga Ibu ku jadi aku bisa kuliah. Adik adikku juga dengan senang hati menjaga Ibu ku, katanya ruangan nya enak dingin luas bersih wangi macam tidak berada di rumah sakit, tv juga besar...” ucap Nindy dengan mata berbinar binar. Perbincangan mereka terhenti sebab Dosen mereka sudah masuk ke dalam ruangan.
Isomah dan Nindy pun dengan serius memperhatikan materi yang disampaikan oleh Dosen mereka. Dan waktu terus bergulir hingga mata kuliah berganti mereka berdua tidak memperbincangkan masalah kasus Isomah meskipun di waktu istirahat. Nindy takut ada orang yang melaporkan pada putra pemilik kampus.
Hingga tiba saat nya jadwal kuliah pun berakhir. Isomah berjalan keluar ruangan bersama dengan Nindy. Selanjutnya Nindy berjalan menuju ke tempat parkir sementara Isomah terus berjalan menuju ke halaman untuk keluar. Saat dia masih berjalan..
“Hai... Dik.. Selamat ya.. Ternyata kamu juga ikut kuliah sore ya.” Suara seorang laki laki yang mengikuti langkah kaki Isomah. Dan Isomah pun menoleh.
“Selamat apa Kak? Selamat siang he... he...” ucap Isomah setelah tahu dan mengikuti dirinya adalah Gugun sang seniornya yang penampilannya mirip dirinya dalam versi cowok. Culun, dengan kaca mata tebal, akan tetapi sebaliknya pakaian nya bukan baju kedodoran namun malah kekecilan.
“Heleh pura pura ya kamu, kamu kan juara pertama lomba penelitian itu. Baru saja pengumumannya keluar. Dan sudah fix kamu juaranya. Keputusan juri tidak bisa digugat karena sudah ada bukti otentik tidak kaleng kaleng.” Ucap Gugun dengan panjang lebar dan gaya sedikit kemayu.
“Benarkah Kak?” tanya Isomah dan Gugun pun mengangguk dengan mantap.
“Lihat saja di website panitia lomba dan sebentar lagi juga diumumkan di media kampus kita.” Ucap Gugun selanjutnya. Isomah yang mendengar tampak bahagia akan tetapi juga ada sebersit rasa was was.
__ADS_1