Janda Judes

Janda Judes
100 Kalung Ramon.


__ADS_3

Dua Minggu berlalu....


Kebahagiaan dirumah pak Rahmat kian lengkap dengan kehadiran Ramon kecil disana.


Ibu sudah tidak lagi bekerja, Dery memaksa ibu untuk tinggal dirumah dan membantunya menjaga Ramon saat dia harus mengecek cafe.


Hari ini Dery berencana mengajak Ramon untuk jalan-jalan ke mall,


sebenarnya Dery mengajak semuanya, tapi mereka memilih istirahat dirumah saja,


membiarkan ibu dan anak itu menghabiskan waktu berdua.


Dimall....


Ramon sangat antusias bermain diarena permainan, Dery dengan telalaten dan sabar mengikuti segala keinginan putranya.


Waktu menunjukkan pukul lima sore, dan Ramon sudah lelah bermain,


Dery memutuskan untuk mampir ke resto mall untuk makan, karena keasyikan bermain mereka sampai melupakan waktu makan siang.


Mereka memilih duduk di sofa lebar dekat dengan jendela,


"Ramon mau makan apa sayang?"


"mau nasi goreng sama ayam goreng aja ma, " Ramon menunjuk gambar dibuku menu,


"baiklah, mau es krim?" Dery menunjukkan gambar es krim yang nampak lezat.


"apa boleh?"


"tentu saja sayang, apapun yang Ramon mau akan Mama penuhi," Ramon berdiri memeluk sayang Dery.


"terima kasih Mama," ucapnya lembut.


Hingga selesai makan Ramon terus saja mengoceh membuat senyum Dery mengembang.


Terlebih Ramon terang-terangan meminta Rizal untuk menjadi ayahnya, dia ingin tinggal bersama Mama dan Papa nya.


Saat mereka akan pulang tidak sengaja Ramon yang digandeng Dery ditabrak seseorang hingga Ramon terjatuh.


"sayang apa kamu terluka," panik Dery. Ramon hanya menggeleng.

__ADS_1


wanita yang menabrak Ramon duduk dan meminta maaf pada Dery dan Ramon.


"maaf saya tidak sengaja, apa putra Anda terluka?" ucapnya lembut.


"tidak apa, anak saya baik-baik saja, kalau begitu saya pergi dulu," Dery menunduk lalu berlalu pergi menggendong Ramon.


"tu..tunggu nona, kalung Anda jatuh," wanita itu menghentikan langkah Dery, sebelum benar-benar menyerahkan kalung itu pada Dery, dia menatap lekat kalung itu.


kalung ini? tidak ada yang memiliki kalung ini selain dia. Tunggu apa dia...


"maaf nona, boleh saya ambil kalung putra saya," suara Dery mengagetkan wanita itu.


"ahh ini maaf saya melamun, sepertinya saya pernah melihat kalung ini," senyumnya ramah, menatap tajam pada Ramon.


"kalung ini milik putra ku, pemberian sang ayah sejak bayi. mungkin anda salah, kalung seperti ini pasti banyak yang memiliki." lanjut Dery "kalau begitu saya permisi," berjalan pergi.


Wanita itu terus menatap kepergian Dery dan Ramon, Dia ingat betul kalung itu milik seseorang.


aku harus kesana, aku ingin tau apa dia masih tinggal di sana atau tidak. Wanita itu, dia juga orang yang selama ini menghambat jalan ku. Kenapa kebetulan sekali bisa bertemu disini.


.


Ramon sudah terlelap sepanjang perjalanan, Dery menggendong Ramon masuk kedalam rumah diikuti supir taksi yang membawakan barang belanjaan Dery.


"sini biar aku yang bawa Ramon kekamar," Rizal menarik Ramon dalam gendongannya.


"terima kasih," ucap Dery, lalu duduk di sofa, meski lelah dia bahagia.


"kenapa pergi tidak mengabari ku sayang," Rizal sudah menjatuhkan diri duduk disamping Dery.


"kakak pasti sibuk, aku tidak ingin mengganggu pekerjaan mu,"


"sesibuk apapun aku, pasti akan ada waktu untuk mu," Rizal menyandarkan kepala Dery pada pundaknya. "kau lelah kan?"


" yaa, lelah sidikit. kak, lihat ini." Dery menunjukkan kalung milik Ramon pada Rizal. "kalung seperti ini pasti banyak yang punya kan?" lanjutnya.


"entahlah, tapi batu giok ini sepertinya langka, kenapa?" Rizal mengusap rambut Dery, mencium aroma shampo yang masih melekat.


"tadi kalung ini jatuh, dan ditemukan oleh seorang wanita dimall, dia bilang pernah melihat kalung yang seperti ini," jelasnya.


"ini kalung siapa?"

__ADS_1


"ini milik Ramon kak, ibu panti yang menyerahkan ini pada ku," Dery terus saja menatap kalung itu dengan teliti. "apa ini mahal,"


"kenapa memikirkan hal tidak penting sayang," Rizal terus menciumi pucuk kepala Dery, tidak peduli pada Zyan yang sudah mendengus kesal dari tadi.


"sekarang ayo kita susun rencana pernikahan kita," bisiknya.


"kak, jangan seperti ini," menepuk paha Rizal dengan keras, "apa kau tidak lihat disini ada Zyan dan Dena." merasa kesal karena Rizal terus menciumi kepalanya.


"iisshh, sakit sayang," ringis Rizal.


"Dena, lebih baik kita keluar dari sini, karena mereka akan terus mengotori mata suci kita," Zyan menarik Dena keluar rumah.


"Yap betul itu kak, merasa dunia milik berdua yang lain mah cuma numpang lewat," gerutu Dena ikut mendengus mengikuti langkah lebar Zyan.


"heii jomblo cepatlah mencari pasangan jangan terus iri pada ku," teriak Rizal pada Zyan.


"terserah kau saja tuan," balas Zyan.


"jangan terus menggoda Zyan dan Joe kak," mencubit perut Rizal hingga dia mengaduh.


"jangan berisik ayah dan ibu pasti sedang istirahat kan,"


"ayah, ibu dan Dika sedang pergi, sebenarnya Dena juga harusnya ikut, tapi dia sedang banyak tugas katanya." bisik Rizal, membuat Dery merinding.


Tidak lama Zyan masuk,


"tuan kita harus kembali sekarang, ada hal penting yang harus diselesaikan," ucapnya.


"Ck, apa tidak bisa besok saja," Rizal menghentakkan kaki kesal.


"pulang lah kak ini juga sudah malam kan," bujuk Dery.


"baiklah aku akan pulang," pasrah Rizal.


"hati-hati dijalan ya,"


melambaikan tangan, saat Rizal sudah masuk kedalam mobil.


aku mencintaimu kak, batinnya.


bersambung......

__ADS_1


__ADS_2