
Hari-hari berlalu begitu cepat, kebahagiaan dalam rumah keluarga Arandra semakin hari semakin kental terasa.
Kehamilan Dery sudah memasuki bulan ke tujuh, membuat sang suami semakin posesif menjaganya.
Tapi kebahagiaan itu masih terasa kurang saat mereka belum juga mampu menembus pertahanan The BlackDelta untuk menyelamatkan ibu dan adik Rizal.
Yah...
Semua usaha sudah mereka lakukan, dari cara halus hingga kasar, tapi agaknya takdir belum berpihak pada mereka.
Rizal semakin terlihat dingin pada Rendy sejak tiga bulan yang lalu.
Entah masalah apa yang membuat Rendy dan Rizal seolah saling sangat membenci.
Malam menjelang....
Setelah selesai makan malam, semua orang berkumpul diruang keluarga, kecuali Bu Ratih dan Tuan Rahadi yang memilih beristirahat dalam kamar.
Rizal yang terus saja bermanja-manja dengan Dery mendapat cibiran dari Daniel.
"Dasar bucin, tidak tahu tempat." gerutu Daniel dengan suara keras.
"Dasar jomblo," balas Rizal, "sirik? bilang bos," Rizal semakin gencar menciumi perut istrinya yang sudah sudah membesar.
"Cih..." Daniel melotot menatap sang kakak.
"apa kau lupa berapa pria jomblo diruangan ini," Daniel bisa merasakan hawa dingin disekelilingnya.
Dia melirik Jack, Joe, Zyan dan juga Rendy yang terlihat kesal dengan tingkah Rizal.
"Ck..." Rizal mengangkat kepalanya dari pangkuan sang istri lalu menatap nyalang pada kelima pria jomblo didepannya.
"carilah kekasih agar kalian bisa merasakan apa itu cinta, jangan cuma bisa mengusik ku saja," selorohnya tanpa rasa bersalah.
Sedetik kemudian empat bantal melayang tepat mengenai tubuh Rizal.
"jangan sombong tuan," ucap mereka bersamaan.
"hei! apa kalian sudah bosan hidup," sentak Rizal.
__ADS_1
"sudah lah kak, kenapa kalian itu suka sekali bertengkar," Dery memutar bola mata jengah, melihat pertikaian antara enam orang pria kejam yang kekanakan ini.
"Permisi tuan, nona, ada tamu," ucap seorang pengawal.
"biarkan dia masuk," sahut Dery. Pengawal itu menunduk sopan lalu keluar dari ruangan itu.
Tidak lama masuk seorang gadis manis dengan pakaian sederhana dan tersenyum ramah.
"selamat malam nona, tuan,"
"Fia.." pekik Dery langsung bangkit dari duduknya, menghampiri asisten pribadinya di cafe.
"aku sungguh merindukan mu Fi," Dery memeluk hangat Fia.
"aku juga sangat merindukan nona, sudah sangat lama nona tidak datang ke cafe lagi,"
"yah, kau tahu lah tuan muda kejam itu tidak pernah mengijinkan aku keluar dari rumah ini walau hanya sebentar," gerutu Dery dengan kesal.
"Sayang...." sahut Rizal dengan lirikan mautnya.
"aku yang hamil kenapa kamu yang baperan sih," seloroh Dery gemas.
"Fia, duduklah," dia mengangguk lalu duduk disamping Dery.
"Ekhem... berkedip lah kalian berdua" Rizal melemparkan bantal pada Rendy dan juga Daniel.
Yang terkena lemparan hanya melirik kesal pada Rizal, lalu pura-pura sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.
Dery terus mengobrol dengan Fia, selain membahas masalah di cafe, mereka juga membicarakan hal-hal khusus wanita.
Tentu saja keenam pria itu tidak akan mengerti.
"Fi, kau menginap saja disini ya," pinta Dery.
"ta..tapi nona.."
"tidak ada penolakan, Zyan akan menunjukkan dimana kamar mu, aku masuk kamar dulu ya," mendengar perintah nona mudanya, Zyan mengangguk, sedangkan Fia hanya bisa menurut apa kemauan bosnya.
Setelah Dery dan Rizal mulai menaiki tangga, Zyan juga mengantarkan Fia menuju kamar tamu.
__ADS_1
Daniel dan Rendy menatap punggung gadis manis yang ramah itu.
Aku baru tahu kakak ipar memiliki orang kepercayaan semanis dia. Batin Daniel.
Manis... gumam Rendy, dengan senyum tipis diwajahnya.
_________🍁🍁🍁🍁_________
Ditempat lain...
Seorang wanita berambut pendek sedang duduk disebuah ruangan, fokusnya hanya pada laptop dihadapannya.
"apa kau sudah berhasil Jenny?" tanya seorang pria tampan yang sedang menikmati minumannya.
"ck...tidak bisakah kau sedikit bersabar, ini sangat sulit," wanita itu melirik tajam pada pria kepercayaan pimpinan tim yang baru tiga bulan ini ia bergabung.
"cepat selesaikan setelah itu kita harus pergi," wanita itu bangkit dari duduknya, menatap tajam pada pria tampan yang masih santai menikmati minuman.
"aku memang baru disini, tapi jangan memerintah ku seenaknya jika kau saja tidak mampu menyelesaikan tugas sebaik diriku." bisik wanita itu tepat di telinga pria itu.
Membuat pria itu bergidik, dia tahu benar wanita yang dia hadapi ini bukan orang sembarangan.
Beberapa kali dia melihat wanita ini mengalahkan musuhnya hanya dalam sekali pukulan.
Dan semua tugasnya selesai dengan rapi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
Itulah sebabnya pimpinan timnya memilih wanita ini untuk menjadi salah satu orang pilihan untuk menjaga keamanan tim mereka.
"kita berangkat sekarang, itu selesaikan nanti," pria itu bangkit dari duduknya, berjalan cepat keluar dari markas mereka.
Wanita sialan jika bukan karena bos, aku tidak Sudi bekerja dengannya.
Sedikit lagi!
Senyum smirk tercetak diwajah wanita itu, tatapan penuh kemarahan terlihat jelas dalam matanya.
bersambung....
like
__ADS_1
komen
jangan lupa ya gaes 😘😘