
Mereka bertiga duduk mengitari sofa ruang keluarga rumah Dery.
Dery sibuk menonton tv, sedangkan Rizal dan Ikbal masih sibuk dengan saling melempar tatapan tajam.
Tidak lama ponsel Ikbal berdering, setelah menutup sambungan telepon wajah Ikbal nampak kesal.
"kenapa bal?"
"Mama nyuruh pulang," dengan bibir manyun Ikbal menggerutu.
"dasar anak Mama," gumam Rizal tapi masih bisa terdengar jelas oleh Dery dan Ikbal.
"diam kau, dasar om-om," Rizal hanya melotot menatap Ikbal.
"iishhh kalian berhentilah bertengkar," Dery membanting remot tv, kesal melihat perdebatan Ikbal dan Rizal "kamu pulang aja bal, istirahat dulu,"
"yaudah deh aku balik dulu, kamu jangan deket-deket sama dia ya, nanti dikira kamu sugar baby nya dia lagi," Dery melotot mendengar kata sugar baby
"pergi sana, dasar bocah gemblung," melempar Ikbal dengan bantal sofa. Rizal tak kalah kesalnya mendengar kalimat Ikbal.
Setelah kepergian Ikbal, suasana kembali hening, canggung rasanya hanya berdua bersama Rizal.
Sekuat apapun Dery menentang hatinya tetap saja dia mencintai Rizal.
"kau tidak ingin pulang tuan?" Dery memulai percakapan.
__ADS_1
"apa kau tidak ingin berlama-lama dengan ku nona? apa kau tidak merindukan ku?" tatapan mata Rizal membuat Dery menjadi gugup.
"amm itu ak..aku hanya tidak ingin nanti jadi gosip jika kita hanya berdua dirumah," sengaja mengalihkan pandangan.
"justru itu yang aku mau, syukur-syukur digrebek sama warga sekalian biar kita dinikahkan," santai Rizal menyandarkan kepalanya di sofa.
"apa kamu bilang?," ucap Dery mencoba menahan suaranya. Dery berjalan mendekati Rizal "sebaiknya kamu pulang deh," menarik tangan Rizal, tapi saat kulitnya menyentuh lengan Rizal Dery bisa merasakan jika tubuh Rizal panas.
eh kok panas, apa kak Rizal sedang demam?
"kamu sakit?" lembut Dery menempelkan punggung tangannya dileher Rizal.
"tidak, mungkin hanya lelah saja," Rizal mencoba mengelak.
"tidak apanya, badan kamu panas banget," wajah Dery berubah panik, "ayo bangun istirahat dikamar ku," menarik Rizal masuk kedalam kamarnya, Rizal hanya menurut mengikuti langkah Dery.
"aku buatkan minuman hangat dulu, kamu istirahat saja," bergegas menuju dapur membuat air jahe untuk Rizal, lalu menyiapkan alat untuk mengompres.
Saat Dery masuk kedalam kamarnya, Rizal terlihat sudah akan terlelap. "kak, minum obat dulu ya," lembutnya.
Dery memanggil ku kak lagi, akhirnya.
Mata Rizal tampak berbinar, meski wajahnya sedikit pucat.
"maaf ya, kamu sakit pasti karena semalaman tidak tidur dan menunggu diluar," Dery mulai mengompres kening Rizal. "kakak, tidur saja agar lekas membaik," lanjutnya. Rizal hanya mengangguk, menatap Dery dengan penuh cinta.
__ADS_1
lihat, meski dia bilang dia membenciku tapi tatapan mata dan perhatiannya menunjukkan jika dia masih sangat mencintai ku,
Rizal mulai terlelap dengan terus menggenggam tangan Dery.
Dery menatap wajah Rizal, senyum samar tercetak di wajah Dery, meski dia marah, tapi dia merindukan pria ini, pria yang berhasil mengambil hatinya.
Ceklek...
"Kaka....ups maaf," Dena tiba-tiba masuk ke kamarnya, melihat Dery sedang memandangi wajah Rizal.
Pelan-pelan Dery menarik tangannya, berjalan keluar menyusul Dena yang baru saja pulang sekolah.
"ciee.... cieee kakak, udah baikan nih sama kak Rizal," Dena duduk dimeja makan menggoda kakaknya.
"apa sih dek, itu tuan Rizal demam makanya aku kompres, terus aku suruh istirahat, bukan berarti aku sudah maafin dia kan," ketus Dery.
"isshh kakak ini, udah ah jangan marah terus, kakak kalau memang cinta sama kak Rizal yaudah sih jangan malu buat kasih kesempatan lagi," melirik Dery, "nanti nyesel lho kalau kak Rizal benar-benar pergi, kakak cinta kan sama kak Rizal, ngaku aja deh keliatan tuh dari mata kakak," lanjut Dena.
"Dena kamu itu masih kecil tau-tauan cinta dari mana? sekolah dulu yang bener," Dery mengacak rambut Dena kesal.
"kakak ihh ngeyel banget,"
Dery masih terdiam di meja makan, apa yang diucapkan Dena benar-benar mengusik hatinya. Dena memang benar Dery masih sangat mencintai Rizal, tapi selama ini tertutup ego yang besar.
sepertinya aku memang harus memaafkan Rizal, bagaimana pun aku masih mencintainya kan. Aku harus berdamai dengan hati, jangan sampai aku akan menyesal dikemudian hari.
__ADS_1
bersambung......