Janda Judes

Janda Judes
Keributan


__ADS_3

Dery duduk termenung menatap Ramon yang tertidur pulas setelah makan.


Jika memang benar Ramon adalah darah daging kak Rizal dan Monica, itu bukan masalah, aku tetap menyayangi dia.


Itu kesalahan orang tuanya kan, Ramon juga tidak bisa memilih lahir dari orang tua yang mana.


Dery mencium seluruh wajah Ramon sayang.


"siapapun orang tua kandung mu, Mama tetap menyayangi mu," bisik nya pelan.


.


Hampir tengah malam, saat Rizal dan dua asistennya sampai di rumah sakit yang disebutkan dokter wanita itu.


Rizal ternyata sudah ditunggu oleh dokter itu.


"tuan Rizal? anda yang bernama tuan Rizal?"


Rizal mengangguk, "dimana istri ku dok? apa ada masalah pada kandungannya?"


"istri Anda telah dibawa pergi oleh pria bernama Marco tuan, aku yakin dia mungkin singgah tidak jauh dari sini, istri dan anak dalam kandungan nya baik-baik saja tuan,"


Rizal nampak lega saat mengetahui jika istri dan janin dalam kandungan nya baik-baik saja.


"lalu kenapa dia kemari dok?"


"pria bernama Marco itu sepertinya ingin memastikan apakah istri Anda benar hamil atau tidak, karena tadi istri Anda meminta saya mengatakan pada Marco jika selama kehamilannya ini istri anda tidak bisa melakukan hubungan suami istri," jelas dokter itu.


"dokter, bolehkah kami melihat rekaman cctv dirumah sakit ini?" ucap Joe. Dokter itu mengangguk, lalu meminta seorang perawat membawa Joe untuk mengecek cctv.


Sedangkan Rizal masih begitu terpaku pada kalimat yang dokter ucapkan.


istri ku, dia benar-benar menjaga dirinya agar tidak bisa disentuh oleh Marco.


Terima kasih sayang, kau selalu menjaga kehormatan mu.


"cepat kerahkan sebanyak mungkin anak buah kita, cari Marco dikota ini, aku yakin dia masih disini." titah Rizal.


Zyan mengangguk lalu bergegas memerintahkan para pengawal untuk mencari keberadaan Marco.


Beberapa orangnya mencari di villa-villa yang disewakan dikota kecil ini.


Joe mengikuti perawat yang akan menunjukkan rekaman cctv rumah sakit ini.


Petunjuk sekecil apapun akan sangat berharga bagi mereka.


.


Di villa...


Saat Dery sudah akan terlelap, terdengar keributan di luar villa.


Suara tembakan menggema memecahkan keheningan malam.


"Marco.... keluar kau pengkhianat," suara seorang pria dari luar villa.


Saat membuka pintu dan akan melangkah keluar, Marco mencekal tangannya.


"masuklah, jangan keluar apapun yang terjadi, pria didepan itu Mike dia mencari Ramon."


"Ramon?" mata Dery membulat sempurna.


"aku akan melindungi kalian, masuklah," lanjut Marco lalu dia melangkah keluar villa diikuti beberapa pengawalnya.

__ADS_1


Dery masih belum masuk kedalam kamarnya, dia melihat sekeliling, tidak ada pengawal yang berjaga.


Jika pria itu mencari keberadaan Ramon, maka ini lah kesempatan ku untuk pergi dari sini.


Dery bergegas masuk kedalam kamar, mengemas makanan yang tadi dia minta pada pengawal. Lalu menggendong Ramon yang masih terlelap.


"sayang, ayo kita pergi dari sini," bisik Dery pelan.


Beruntung diluar kamar masih terlihat sepi, Dery berjalan secepat mungkin keluar melalui pintu belakang.


Sedangkan diluar Marco sedang menghadapi kemarahan Mike.


"ada apa kau mengikuti ku sampai kemari Mike?"


"brengs*k" Mike menatap Marco penuh kemarahan. "beraninya kau mengkhianati aku dan Monica,"


"haha..." tawa Marco menggelegar.


"bukankah aku sudah bilang, kita punya tujuan masing-masing Mike, kau dan Monica ingin kekayaan milik Rizal, dan aku ingin istri ku kembali pada ku, lalu apa salahnya setelah Dery aku dapatkan, aku pergi sejauh mungkin?"


"tapi rencana yang kau susun gagal, Rizal sudah menangkap Monica sekarang,"


"itu bukan urusan ku lagi," tegas Marco. "aku sudah membantu kalian sebaik mungkin, tapi kalian terlalu bodoh, kenapa kalian tidak pergi saat tahu rencana itu gagal,"


"beraninya kau!!" Mike mengacungkan senjata tepat didepan kepala Marco.


Dan semua pengawal Marco mengacungkan senjata pada Mike.


"kau berada di wilayah ku Mike, tidak sepantasnya kau mengancam ku." santai Marco. "turunkan senjata mu,"


Merasa terdesak dan kalah jumlah Mike akhirnya menyerah, dia semua pengawalnya menurunkan senjatanya.


"apa mau mu sekarang?" Marco melirik Mike sekilas.


Marco menyunggingkan bibir, "kau pikir semudah itu?" Marco melempar koper didepan kaki Mike, "ambil ini, lalu pergilah sejauh mungkin, lupakan Monica dan jangan ganggu kebahagiaan ku dengan istri ku," tegas Marco.


Duuarr... Duar.. Duarr...


suara tembakan beruntun terdengar memekakkan telinga.


Pengawal Marco berhasil dilumpuhkan oleh tim Rizal.


Kini Marco dan Mike sudah tidak lagi bisa berkutik.


Rizal berjalan mendekati Mike dan Marco yang sudah dibekuk oleh Joe dan Zyan.


"dimana istri ku," suara Rizal begitu mencekam, Joe dan Zyan bahkan sampai merinding mendengar suara Rizal.


Marco hanya diam tidak berniat menjawab pertanyaan mantan sahabatnya ini.


"kalian, cari istri ku didalam," perintah Rizal pada pengawalnya.


Rizal sendiri sudah berjalan masuk kedalam villa, mengecek satu persatu ruangan yang ada, tapi tidak menemukan Dery disana.


"ma..maaf tuan, kami tidak menemukan nona," pengawal itu menunduk dalam.


"Marco...." teriak Rizal. Amarahnya sudah berkobar.


Bugh.. Bugh.. Bugh..


Pukulan bertubi-tubi Rizal layangkan pada Marco yang tidak berdaya karena tubuhnya dipegang kuat oleh Joe.


jadi Dery berhasil kabur dari sini, bagus lah, aku akan mencari mu nanti setelah aku bisa lepas dari mereka, sayang. Marco.

__ADS_1


"sepertinya istri mu terlalu membenci mu tuan, hingga dia memilih kabur saat mengetahui kedatangan mu," Marco sengaja memancing emosi Rizal lagi.


"diam kau brengs*k, atau kupecahkan kepala mu,"


"lakukan saja, jika kau ingin Dery semakin membenci mu,"


Deg


"kau pikir aku bodoh? kenapa Dery harus membenci ku karena aku menghabisi baj***n seperti diri mu,"


"kau memang bodoh," ejek Marco.


"mereka juga," melirik Joe dan Zyan. "kalau kalian pintar, kalian pasti tahu siapa Ramon sebenarnya."


Semua orang tampak bingung dengan kalimat Marco baru saja, tidak mengerti apa maksudnya.


"apa kalian bingung?" Marco benar-benar tidak memiliki rasa takut.


"jangan berbelit-belit, apa maksud mu,"


"darah Arandra Putra juga mengalir ditubuh kecil anak itu tuan," Marco tersenyum smirk. "apa kau lupa seberapa sering Monica menghangatkan ranjang mu dulu?"


"apa kau pikir ku akan percaya begitu saja?" teriak Rizal.


"percaya atau tidak itu bukan urusan ku, yang pasti Dery sudah tahu semuanya." ekspresi Rizal tidak bisa ditebak saat ini, tapi Marco tahu Rizal sedang menimbang kalimatnya.


"tanya kan saja semuanya pada Monica,"


.


Dery masih terus berlari menggendong tubuh Ramon, meski lelah Dery tidak ingin berhenti.


Karena jika mereka berhasil menangkap dirinya dan Ramon, bisa dipastikan tidak akan lagi ada kesempatan untuk kabur.


Karena Dery terus berlari, dan membuat tubuh Ramon terguncang di gendongannya, Ramon terbangun.


"Mama.." lirih nya.


"yaa sayang," Dery masih terengah-engah.


"kita dimana ma?"


"kita harus pergi sayang, Mama tidak ingin ada yang menyakiti mu,"


"dimana Om Marco ma, kenapa dia tidak menolong kita?"


Dery berhenti sejenak menatap putranya.


Lalu menggeleng.


"ma, Om Marco baik pada ku, dia menolong ku dari Tante dan Om jahat itu. Kenapa Om Marco tidak menolong kita lagi? dimana dia ma?"


"dia..dia sedang menghadang penjahat itu sayang, kita harus pergi dari sini."


Saat akan melangkah lagi, suara tembakan beruntun membuatnya bergetar.


Marco, apa kau baik-baik saja disana, aku memang tidak ingin bersama mu, tapi kau telah menyelamatkan Ramon anak ku.


Ada rasa bersalah dihati Dery, bagaimana pun juga Marco yang menyelamatkan Ramon dari Mike.


***Bersambung....


jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote ya 😘❤❤🙏🙏***

__ADS_1


__ADS_2