
Empat hari berlalu,
setelah Dery sadar dari komanya,
Meski masih tidak menyangka akan apa yang telah terjadi pada dirinya, tapi Dery selalu bersyukur karena dia dikelilingi orang-orang yang menyayangi nya.
Hari ini dokter Ilham sudah mengijinkan nya pulang karena dia sudah jauh lebih baik,
hmm tidak,
yang benar adalah karena Dery memaksa ingin pulang,
terus saja merengek pada Rizal agar dia segera pulang, sudah sangat merindukan kasur dirumah katanya.
"apa kakak tahu, hari ini aku sangat bahagia" memeluk lengan Rizal, matanya berbinar.
"kenapa? apa karena kau akan berkencan dengan Ikbal?" Rizal tidak seantusias Dery.
"kakak menyebalkan, siapa yang bilang aku mau kencan sama Ikbal?" melepaskan lengan Rizal.
"kemarin Ikbal mengatakan itu pada ku, setelah kamu pulang dari sini, dia akan mengajak mu kencan, nona," menyandarkan kepala pundak Dery.
"apa kau bahagia karena itu?" melirik Dery dengan sebelah matanya.
"ckk, ayolah kak , jangan dengarkan omong kosong kudanil itu, dia memang sengaja mengatakan itu, karena selama ini kakak melarang dia mendekati aku kan, mungkin dia kesal," mengacak-acak rambut Rizal gemas. "kalau kakak marah terus aku jambak nih,"
"sudah berani kurang ajar kau ya?" berdiri berkacak pinggang.
Dery hanya terkikik melihat Rizal bertingkah menggemaskan.
"ampun bos aku hanya bercanda," sengaja menampilkan wajah imutnya agar Rizal tidak lagi marah "jangan marah lagi ya,"
"baiklah sekarang ayo kita pulang," menarik kursi roda "ayo duduk, aku tidak ingin kau kelelahan,"
"...." belum mengatakan apapun Rizal sudah mengancam.
"jika menolak, aku akan menggendong mu sampai ke mobil,"
"aarghh tidak, aku akan duduk saja," Dery melompat turun dari tempat tidur.
Sepanjang koridor rumah sakit, para perawat dan dokter menunduk sopan saat Dery dan Rizal melewati mereka.
__ADS_1
Sampai mereka berpapasan dengan dokter Ilham di tempat parkir.
"selamat siang nona," Ilham menunduk sopan, mengerlingkan sebelah matanya.
"beraninya kau genit pada Dery didepan ku," menarik Ilham menjauh dari Dery.
"apanya yang genit aku hanya menyapa kalian, kenapa tuan kesal sekali." terus tersenyum menatap Dery.
"nona benar-benar cantik ya tuan, seandainya aku yang kenal lebih dulu, sudah pasti nona akan jadi istri ku hahaha" tawanya pecah melihat wajah Rizal yang merah.
"mau kau kemanakan Lea, jika kau ingin memperistri Dery, dasar mata keranjang,"
"aku hanya bercanda tuan, kau sungguh pemarah," mengedikkan bahu cuek.
Rizal meninggalkan Ilham tanpa mau membalas ledekannya.
"kalian ngomongin apa sih kak?" Dery menatap wajah Rizal yang memerah.
"tidak ada," membuka pintu mobil untuk Dery.
"hmm..." manggut-manggut
"tapi kenapa wajah kakak merah?" mendekati wajah Rizal hingga hanya berjarak lima centi saja.
"kak, heii kenapa malah ngelamun sih," sudah membenarkan posisi duduknya. "kakak terpesona sama aku ya??"
"ti...tidak aku hanya terkejut saja,"
Melihat Rizal yang gugup, membuat Dery tersenyum.
"jika sedang gugup begitu, kamu terlihat menggemaskan. aahh aku ingin mencubit pipi mu kak," gumam Dery.
"kau bicara sesuatu nona?" melirik bibir Dery yang komat-kamit.
"emm tidak..." mengedikkan bahu. "kak aku lapar,"
"kita cari restoran ya dekat sini saja ya," mengurangi kecepatan mobilnya.
"kak itu ada tukang soto, kita makan disitu saja." menunjuk gerobak soto dipinggir jalan.
"soto? kamu yakin mau makan disitu?" ragu-ragu
__ADS_1
"kakak tidak pernah makan di pinggir jalan ya, makanya kita coba, kakak pasti suka," membujuk Rizal.
"baiklah tapi kita makan didalam mobil saja ya," memarkirkan mobilnya dekat dengan penjual soto yang ditunjuk Dery.
"oke.." senyum Dery mengembang.
"pak pesan dua, tolong bawakan ke mobil saya." Rizal menunjuk mobilnya. Bapak penjual hanya mengangguk sopan.
Rizal kembali duduk didalam mobil. "kamu suka makan di pinggir jalan seperti ini der?"
"iya," mengangguk cepat.
"kakak tahu, selain makanan pinggir jalan itu murah dan enak, dengan kita membeli dagangan mereka, secara tidak langsung kita membantu mereka untuk menghidupi keluarganya.
Anggaplah begini, keuntungan mereka hanya 500rupiah setiap mangkuknya, tapi dengan kita membeli dagangannya, kita bisa membuat dia senangkan.
Beda halnya jika kita memberi uang 500rupiah padanya, dia pasti akan marah, dan merasa tersinggung.
Apa yang dia jual mungkin tidak membuat dia menjadi kaya, tapi bisa membantu dia dan keluarganya hidup. Membantu orang tidak harus banyak dan berlebihankan?"
Mendengar Dery berkata seperti itu membuat Rizal merasa malu,
selama ini dia terlalu semena-mena pada orang lain. Satu kesalahan kecil saja,
Rizal dengan mudahnya memecat karyawan dikantornya, tanpa memikirkan bagaimana keluarga mereka bisa hidup jika tulang punggungnya tidak lagi bekerja.
"kak ayo makan, jangan melamun terus" Dery menyenggol Rizal.
"ehh iya..."
"tunggu jangan terlalu banyak makan sambal nona, kau belum pulih benar." menghentikan Dery saat menuang banyak sambal kedalam mangkuknya.
"baiklah sedikit lagi," memanyunkan bibirnya.
"hmm ternyata enak," gumamnya saat baru mencicipi kuah sotonya.
Dery hanya tersenyum melihat Rizal yang lahap menyantap sotonya hingga habis.
Setelah membayar mereka melanjutkan perjalanan, Rizal memang berencana akan mengantar Dery pulang kerumah orang tuanya. Dia sendiri akan segera mengurus Marco yang sudah terlalu lama dia biarkan.
Ada rasa tidak tega dihati Rizal, tapi mengingat apa yang sudah Marco lakukan pada Dery membuatnya sangat marah.
__ADS_1
bersambung.....