Janda Judes

Janda Judes
99 Ramon 2.


__ADS_3

Setelah cukup lama proses pengajuan adopsi atas Ramon, akhirnya Dery mendapat hak adopsinya dengan susah payah.


Meski Dery belum menikah lagi tapi ibu panti dan yayasan yang menaungi panti asuhan dimana Ramon tinggal, mau memberikan kesempatan agar Dery bisa merawat Ramon.


.


Hari penyambutan Ramon....


Siang itu semua orang sedang sibuk dirumah pak Rahmat ayah Dery.


Joe, Zyan dan ketiga sahabat serta dua adik Dery sedang mempersiapkan acara penyambutan untuk Ramon.


Dery, Rizal dan Ramon tiba dirumah tepat waktu, semua orang antusias saat Ramon resmi menjadi anggota keluarga pak Rahmat.


"selamat datang Ramon," seru semua orang saat Ramon batu saja masuk kedalam rumah.


Ramon nampak sangat bahagia, dia memeluk dan berkenalan dengan keluarga dan sahabat Dery.


"terima kasih semuanya," mulut kecil Ramon bergetar merasa terharu, dengan mata berkaca-kaca.


"eiist, anak ganteng gak boleh nangis dong," Rizal berjongkok, mengusap air mata di pipi Ramon.


"bolehkah aku memanggil mu papa," tulus Ramon, semua orang terpana saat Rizal dan Ramon berpelukan, benar-benar seperti ayah dan anak.


"tentu sayang, aku memang papa mu kan, Mama mu ini akan menjadi istri ku, jadi muali sekarang kau harus memanggil ku papa." Rizal menggendong Ramon dengan bangganya. Semua orang tersenyum haru melihat kedekatan Rizal dan Ramon.

__ADS_1


Dery Mengingat saat pertemuan pertama Rizal dengan Ramon dulu, Rizal dibuat sangat cemburu karena Dery sangat perhatian pada pria kecil ini, kini mereka bak ayah dan anak yang saling menyayangi.


Wajah Ikbal berubah kecut saat dia mengetahui jika Dery sudah memaafkan Rizal, bahkan memberinya kesempatan lagi.


Saat semua orang sedang menikmati makanan diruang keluarga, Dery masuk kedalam kamarnya.


Dia teringat kalung milik Ramon yang ibu panti serahkan padanya.


Kalung dengan liontin giok merah, yang di belakangnya bertuliskan nama Ramon.


Kata ibu panti kalung itu ditemukan dikain yang menyelimuti Ramon saat dia baru saja ditemukan, mungkin itu pemberian dari orangtuanya.


"sayang," Rizal berdiri diambang pintu kamar Dery yang terbuka lebar.


"boleh aku masuk?" ucapnya.


"tentu kak, masuklah." lembut Dery, masih sibuk menata pakaian Ramon.


"apa kau bahagia?" Rizal bersandar pada tembok memperhatikan setiap gerakan Dery.


"tentu saja kak, aku sangat bahagia." senyum mengembang di wajah Dery, "kau tau sudah sejak lama aku ingin membawa Ramon pulang kak, dia itu sangat lucu dan menggemaskan,"


"lalu kapan kau akan melengkapi kebahagiaan mu dan Ramon?" menatap Dery dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.


"maksud mu?"

__ADS_1


"Ck, ayolah cinta, jangan pura-pura tidak tahu," Rizal mendekati Dery "apa kau tidak ingin memberikan ayah pada Ramon?" sudah berdiri tepat didepan Dery, jarak mereka bahkan sangat dekat.


"amm it..itu kak, aku lapar, ayo keluar aku sudah sangat lapar," Dery yang gugup mencoba menggeser tubuhnya, tapi sayang tangannya digenggam erat oleh Rizal.


"aku mencintaimu, jangan terlalu lama menyiksa ku cinta,"


Cup...Rizal mencium pipi Dery.


"ayah akan kemari dan melamar mu untuk ku, secepatnya," bisiknya, lalu menarik Dery keluar dari kamar.


Dery tidak menjawab, merasakan wajahnya memanas, entah semerah apa saat ini yang jelas dia bahagia bercampur malu.


Rizal selalu bisa membuatnya menjadi yang teristimewa, membuatnya merasa dicintai.


.


Tanpa mereka sadari diluar kamar Ikbal mendengar apa yang mereka bicarakan.


Lagi-lagi Ikbal harus menerima kenyataan jika Dery memang hanya mencintai Rizal.


Meski sakit, dia ikut bahagia untuk Dery, Rizal akan menjadi lelaki yang tepat untuknya.


Rizal sangat menyayangi dan mencintai Dery, lebih dari apapun.


bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2