Janda Judes

Janda Judes
Kontraksi Palsu


__ADS_3

Marco ....


Teriakan Daniel membuat Marco dan Dery menoleh. Kilatan kemarahan terlihat jelas dimata Daniel, dengan langkah cepat Daniel menarik Marco menjauh dari kakak iparnya.


"Berani sekali kau datang kemari, haahhh," sentak Daniel.


Bug


Satu pukulan mendarat diperut Marco, membuat Marco limbung dan hampir terjatuh.


"kau ingin menculik kakak ipar ku lagi, apa kau sudah bosan hidup!" bukannya melawan Marco justru menerima setiap pukulan yang dilayangkan Daniel secara membabi buta.


"Daniel stop... Daniel!" Teriakan Dery sama sekali tidak dihiraukannya oleh Daniel.


Sampai tangan kekar Rizal menghentikan gerakan tangan Daniel yang siap mendarat di pipi Marco.


"berhenti Dan, kau bisa membuat Marco kehilangan nyawa," dengan suara tegas Rizal menjauhkan adiknya dari Marco


"dia memang pantas mati kan?" Daniel mengibaskan tangan Rizal dengan kasar. Marah, Daniel sudah dikuasai amarah.


"tidak," tegas Rizal. "dia juga berhak diberi kesempatan kedua," sambungnya.


Rizal meraih tangan Marco membantunya berdiri.


"apa kau baik?" tanya Rizal, Marco hanya mengangguk samar.


"Daniel, apa yang kamu lakukan bisa membuat istri ku shock dan itu tidak baik untuk baby ku," Rizal menatap Daniel tajam.


"tapi kak...." belum selesai Daniel bicara teriakan Ramon mengalihkan perhatian mereka.


"Uncle Marco..." Ramon berlari lalu memeluk Marco yang duduk di kursi.


"hei boy, bagaimana kabar mu, hmm," sapa Marco lembut. Mereka saling berpelukan hangat.


"aku merindukan mu boy,"


"aku merindukan uncle, kemana saja uncle, kenapa baru datang sekarang?" tanya Ramon polos. "eh! uncle terluka?" Ramon mengusap lebam diwajah Marco akibat pukulan Daniel.


"tidak sayang, ini karena jatuh," bohong Marco.

__ADS_1


Melihat kedekatan Marco dan Ramon membuat Daniel mematung, dia tidak tahu kenapa putranya bisa selengket itu dengan pria ini.


Rizal hanya tersenyum melihat kebingungan adiknya.


iishhh


Dery mendesis sambil meremas sandaran kursi, merasakan pergerakan yang tidak biasa diperutnya.


"sa...sayang.." lirih Dery mencoba memanggil suaminya yang masih sibuk menatap tajam pada Daniel.


"sa... sayang..." ulangnya, tapi mereka masih saja tidak mendengar panggilan Dery.


"Rizal Arandra...." teriak Dery saking kesalnya. Membuat Rizal, Daniel, Marco dan Ramon terlonjak kaget.


Rizal menatap istrinya yang memegangi perut dengan ekspresi wajah yang terlihat tegang.


"ada apa sayang?" Rizal mendekati istrinya, mengusap lembut perut Dery.


"perut ku..." lirih Dery. Tanpa pikir panjang Rizal langsung mengangkat Dery dan berjalan secepat mungkin menuju mobilnya, diikuti oleh Marco Ramon dan Daniel dari belakang.


Kepanikan dan tegang terlihat jelas diwajah merek semua. Terutama Daniel pastinya, mengingat kalimat sang kakak yang mengatakan bahkan kelakuannya bisa membuat sang istri shock membuat Daniel diliputi rasa bersalah.


"tidak biar aku saja," sahut Daniel, tanpa mau dibantah.


Akhirnya mobil diambil alih oleh Daniel, Marco memangku Ramon di samping Daniel sedangkan Rizal memeluk istrinya yang masih meringis kesakitan.


"sabar ya sayang..." Rizal terus mengusap perut sang istri sambil mengecup kepalanya.


Dery hanya mengangguk, merasai perutnya yang terus saja kontraksi.


"apa dia akan lahir sekarang, sayang, tapi ini belum waktunya," Dery menitikkan air mata, terlihat jelas jika dia sedang ketakutan saat ini.


Meski dia berusaha kuat untuk menahan air matanya, nyatanya Dery tidak mampu.


"tidak sayang, semuanya pasti baik-baik saja," Rizal terus menguatkan sang istri. Dia pun tak kalah takutnya, saking takutnya perut Rizal pun seakan ikut bergejolak.


"Dan, tidak bisakah kau lebih cepat, kasian istri ku," dengus Rizal. "ini semua gara-gara kecerobohan mu," sambungnya.


Daniel hanya diam, sambil terus fokus pada jalanan. Sangat merasa bersalah, jika saja tadi dia bisa sedikit menahan emosinya, mungkin kakak iparnya tidak akan mengalami hal ini sekarang.

__ADS_1


.


Dirumah sakit.


Rizal terus mondar-mandir didepan ruang tindakan, ia merasa sangat khawatir saat ini.


Entah apa yang terjadi didalam sana, Rizal tidak tahu.


"tuan... Anda boleh masuk," seorang perawat wanita keluar dari ruang tindakan, lalu mempersilahkan Rizal masuk.


Dengan cepat Rizal menerobos masuk dan memeluk Dery yang masih terbaring diatas brankar dengan air mata mengalir.


"istri dan anak kami baik-baik saja kan dokter?" tanya Rizal. Dia menciumi wajah Dery bertubi-tubi.


"Semuanya baik-baik saja tuan, bayi dalam kandungan nona juga baik-baik saja."


"tapi kenapa tadi perut dan punggung saya berdenyut begitu kuat dokter?" tanya Dery masih diliputi rasa takut.


"apa sekarang masih terasa sakit?" tanya dokter wanita sambil mengusap perut Dery. Dery hanya menggeleng.


"anak kalian sungguh kuat tuan, nona," Dokter itu tersenyum pada sepasang suami istri ini.


"itu tadi kontraksi palsu, mungkin karena nona terkejut dan panik," dokter itu menjelaskan sedikit tentang apa yang dialami oleh Dery.


Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter, dan diijinkan untuk pulang, Rizal dengan hati-hati membawa istrinya pulang.


"jangan coba-coba membuat gaduh lagi Dan, itu tidak baik untuk anak dan istri ku," ketus Rizal.


Daniel mengangguk, "maafkan aku ya kak," lirih Daniel, sambil menggenggam tangan Dery.


"tidak apa-apa Dan, aku dan baby ku baik-baik saja," Dery mengusap tangan Daniel. "tapi jangan lagi berbuat kasar pada Marco ya, dia sudah berubah,"


"aku tidak janji," sahut Daniel lalu menatap tajam Marco yang fokus dengan kemudinya.


Sedangkan Marco hanya menggeleng samar, dia memaklumi sikap Daniel padanya.


Tapi bukankah Daniel lebih kejam darinya dulu? dia bahkan berkali-kali mencelakai kakaknya sendiri.


Akan aku buktikan pada semua orang jika aku sudah berubah, aku pastikan tidak akan ada yang bisa menyentuh dan menyakiti keluarga Arandra. Sumpah Marco dalam hati.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2