
Rumah Utama Arandra.
Pagi itu semua orang sedang menikmati sarapan dimeja makan.
Seperti hari-hari sebelumnya, Daniel dan Marco selalu saja perang dingin dan membuat Dery kesal.
Sedangkan Rizal sama sekali tidak peduli dengan kelakuan adik dan sahabatnya itu.
"sayang..." panggil Rizal pada Dery yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"hmm"
"makan dulu sarapan mu, sayang..jangan terus-terusan memainkan ponsel," bujuk Rizal.
"aku merindukan sahabat ku, sayang. Apa salahnya?" jawab Dery.
"aku bisa membawa mereka kemari, tapi makan dulu sarapan mu," Mendengar kalimat sang suami Dery nampak berbinar.
"serius sayang?" ucap Dery bersemangat, "hari ini ya sayang," sambungnya.
"hmm"
Ck, begitu saja senang sekali. apa istimewanya sih mereka itu! gumam Rizal.
.
Waktu menunjukkan pukul 10 pagi, Dery yang tengah duduk ditaman belakang dengan Ramon, sedang menunggu Rizal yang baru menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja.
"Mama, kenapa?" tanya Ramon yang baru menyadari Dery sejak tadi terus mengusap perutnya Dangan wajah mulai pucat.
"Ramon, tolong panggilkan papa Rizal ya," jawab Dery lirih.
Ramon mengangguk lalu berlari masuk kedalam rumah untuk memanggil Rizal.
Entah apa sebabnya perut Dery terus berdenyut sejak tadi, dan semakin lama semakin kuat.
Dery yang sudah tidak lagi bisa berjalan hanya bisa meringis dikursi taman menunggu Rizal datang.
"nona..." suara Bu Ratih membaut Dery mendongak.
"apa nona baik-baik saja?"
"ibu...tolong panggilkan Rizal, perut ku sakit Bu," pinta Dery dengan wajah yang semakin pucat dan keringat bercucuran.
"baik nona.." Bu Ratih berlari masuk kedalam rumah, dengan wajah khawatir, Hingga tidak sengaja menabrak Marco yang berjalan keluar dari dapur.
"kenapa buru-buru sekali Bu," tanya Marco keheranan.
"tuan... dimana tuan Rizal, sepertinya nona Dery akan melahirkan," Bu Ratih mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
"aku disini Bu, dimana istri ku," sahut Rizal yang sedang berjalan cepat kearah nya. Sedangkan Marco hanya menunduk saat Rizal melewatinya.
__ADS_1
"nona ada ditaman tuan," Rizal langsung berlari menuju taman belakang.
Disana Dery sudah menunggu dengan wajah yang semakin pucat dan keringat membasahi wajah.
"sayang... sakit," ucap Dery lirih saat Rizal sudah memeluknya.
"tenang sayang, kita kerumah sakit sekarang," jawab Rizal, lalu menggendong istrinya dengan hati-hati.
Dengan langkah cepat Rizal membawa Dery masuk kedalam mobil.
"sabar ya sayang..." bisik Rizal pada istrinya.
Marco dan Zyan yang sejak tadi mengikuti langkah Rizal, segera bergegas ikut masuk kedalam mobil.
Marco yang duduk dibelakang kemudi berusaha secepat mungkin tiba dirumah sakit.
Sedangkan Zyan sibuk menghubungi dokter Ilham agar menyiapkan segala kebutuhan pemeriksaan untuk nona mudanya.
"sayang... sebelum aku melahirkan bolehkah aku bertemu dengan sahabat ku?" pinta Dery ditengah rintihannya.
"sayang...kau sedang seperti ini masih saja memikirkan sahabat mu itu," jawab Rizal menahan kesal.
"aku tidak mau melahirkan sebelum melihat sahabat ku." Dery menatap tajam Rizal.
"sayang, jangan membahayakan diri mu seperti ini," bujuk Rizal. "mereka akan datang setelah kamu melahirkan nanti, oke,"
"tidak!" jawab Dery tegas.
Dia langsung mengisyaratkan pada Zyan agar segera menghubungi ketiga sahabat istrinya.
Mau melahirkan atau mau reonian! gumam Rizal pelan.
"aku bisa mendengarnya Rizal Arandra," sahut Dery semakin kesal.
Cup
Rizal mencium bibir Dery lembut, agar istrinya ini tidak semakin merajuk.
"ma..maaf sayang," bisiknya lembut.
_________🍁🍁🍁🍁_________
Ditempat lain....
"apa kalian sudah menemukan dimana posisi Jack sekarang?" dengan wajah serius Joe menatap anak buahnya satu persatu.
"dari GPS yang berada didalam mobil Jack, dia sedang berada di pinggir hutan kota X tuan, tidak jauh dari markas The BlackDelta." jelas seorang pria berjas yang sedang menatap layar laptopnya.
Joe mengacak rambutnya kesal, "dasar pria ceroboh, bisa-bisanya pergi tanpa membawa pengawal seorang pun." Joe bangkit dari duduknya. "kalian semua ikut aku, kita susul pria gila itu," titah Joe.
Merepotkan! umpat Joe dalam hati.
__ADS_1
.
Setelah perjalanan yang cukup panjang.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi saat Joe berhasil menemukan mobil Jack yang terperosok masuk kedalam hutan.
Joe turun dari dalam mobil dan memperhatikan sekeliling.
Lalu membuka mobil Joe yang nampak hancur di sana-sini karena bekas tembakan dan tabrakan.
Apa Jack berhasil tertangkap? batin Joe.
"apa kita perlu mencari kedalam hutan, tuan?" tanya seorang pengawal.
Joe berfikir sejenak sambil meneliti sekeliling, sampai pandangan matanya tertuju pada sebuah ponsel yang tergeletak tidak jauh dari mobil Jack.
Ini ponsel Jack. gumam Joe saat sudah memungut ponsel itu.
Sialan! apa mereka menangkap Jack. Pria gila itu benar-benar membuat ku repot!
Dari kejauhan Jack yang sedang berjalan bersama orang tidak dia kenal, bisa melihat Joe yang terdiri didekat mobilnya.
Joe? apa itu benar Joe, dia menyusul ku? batin Jack.
"hei!" orang yang memapah Jack menyenggol Jack yang berhenti dan menatap Joe dikejauhan. "teman-teman mu sudah datang, sebaiknya kau kesana sekarang, aku harus pergi." ucapnya sambil menyandarkan Jack dibawah pohon.
"kau mau kemana?" tanya Jack. "aku tidak punya cukup tenaga untuk berjalan sampai kesana,"
Orang itu hanya berdecih kesal menatap Jack, lalu berjalan pergi meninggalkan Jack masuk kedalam hutan.
Dorr...
Tidak lama setelah orang itu pergi terdengar tembakan dari dalam hutan yang membuat Joe dan para pengawal, mengalihkan pandangan tepat dimana Jack duduk.
Jack?
Joe berlari menghampiri Jack yang terlihat lemas dibawah pohon dengan lengan terikat kain berwarna putih yang sudah berubah menjadi merah karena darah.
"kau masih hidup?" seloroh Joe kesal. "kenapa kau selalu merepotkan ku, haahh," sentaknya.
"kau bisa marah-marah nanti Joe, bantu aku dulu, sekarang," jawab Jack dengan santainya.
Cih
Dua pengawal membantu Jack masuk kedalam mobil dan Joe langsung membawa rekannya itu ke rumah sakit.
Bersambung....
maaf ya readers klo agak berantakan, othor bner2 lagi drop banget soalnya 🙏🙏
jangan lupa like, komen yaa ❤🙏
__ADS_1